Dijodohkan?
"Balas budi pada orangtua itu adalah dengan terus berbakti pada keduanya."
Sang jingga telah hadir menghiasi langit sore. Burung-burung yang akan kembali ke sarangnya berterbangan menghiasi pandangan. Daun-daun pohon meliuk-liuk tertiup angin damai sore hari.
Gadis berkerudung warna merah muda itu tengah duduk menunduk menatap kakinya yang ia ayun-ayunkan. Pandangannya sedikit mengabur ketika airmata bergerumul di pelupuk matanya.
"Alea..."
Meski ada yang memanggilnya, ia tetap diam menatap kakinya yang masih ia ayun-ayunkan.
Gadis yang dipanggil Alea itu langsung bangkit ketika kursi sampingnya yang ia duduki ada yang menempati, namun langkahnya tertahan karena cekalan lembut di tangannya.
"Dengerin Ayah dulu, sayang," Alea menggeleng ketika ayahnya menarik tubuhnya kemudian memeluknya.
"Ayah gak sayang lagi sama Lea?" pertanyaan yang langsung dijawab dengan gelengan kepala cepat dari ayahnya itu membuat Lea memberontak.
"Tapi kenapa ayah mau jodohin Lea? Padahal Lea pengen sama Ayah, Lea masih terlalu muda buat nikah, Ayah. Lea pengen nemenin Ayah aja,"
Sang Ayah hanya diam, memeluk sang anak dengan erat. "Semua ayah lakuin buat kamu, Nak. Jangan pernah nganggap Ayah gak sayang sama kamu. Justru ini buat kebaikan kamu," ujar Ayah Faiq dengan lembut.
Alea masih tak terima jika dirinya harus menikah di usia yang baru saja genap delapan belas tahun. Ia ingin bersama Ayahnya. Menemani sang Ayah yang hanya hidup sendiri tanpa seorang istri.
"Ayah sering sakit, dan Kakak kamu kan nanti menetap di Jepang sama istrinya, Lea. Kamu butuh pendamping yang bisa jaga kamu, dan Ayah percaya sama calon suami kamu,"
"Alea pengen sama Ayah, dijagain Ayah dan ngejagain Ayah. Pendamping Alea itu Ayah. Gak mau sama Kakak-kakak itu, Ayah!" bantah Alea seraya melepas pelukan Ayahnya. Mata berbinar karena airmata itu menatap mata sendu ayahnya.
Dengan tatapan yang menyiratkan kesakitan, Ayahnya meluruh menubruk tubuh kecil Alea. Membuat jeritan tertahan yang Alea pendam.
"Bi Ain!! Pak Yusuf!! Tolongin, Leaaaa!!" teriak Alea pada pembantu dan satpam rumahnya.
Rasa kesal, marah, dan kecewa yang tadi ia rasakan. Kini berganti dengan rasa khawatir yang memenuhi dirinya. Dengan kalut ia terua berteriak meminta bantuan pada asisten rumah tangga. Airmatanya semakin ramai lancar berjatuhan ke pipi mulusnya.
"Ayah.. Maafin, Lea," lirihnya ketika ayahnya dibawa ke dalam rumah.
***
Sementara di sisi lain, nampak seorang pria tengah duduk dengan ekspresi datar menatap kedua orangtuanya yang sedang menasehatinya.
"Kelak, nama Aleana Faiq akan berubah menjadi Aleana Husein. Jaga dia baik-baik, Zaldi! Sekali kamu menyakiti dia, kamu udah nyakitin Mama juga," tutur wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu pada anaknya.
"Kamu harus bisa mengayomi dia, menjaga dan menuntun dia," tambah laki-laki paruh baya yang duduk di samping wanita tadi.
"Polisi kali," gumam laki-laki berekspresi datar itu.
Gumamannya terdengar oleh sang ayah, dan langsung dihadiahi pelototan gratis dari ayahnya itu.
Mereka adalah keluarga Husein, pemilik perusahaan property terbesar di Indonesia. Jodi Husein, Lolita Husein, dan Zaldi Husein. Generasi ketiga dari keluarga Husein itu mampu membawa nama baik keluarga ke pelosok negeri. Dengan kebaikan yang selalu mereka alirkan ke setiap penjuru kota, nama mereka dikenal dimana-mana.
Lengkapnya Zaldi Ibrahim Husein, calon suami Aleana Faiq itu juga seorang Model dalam negeri yang namanya sudah melejit di beberapa negera Asia yang lain. Seperti Jepang, Korea, China dan Thailand.
Bakatnya dalam bidang bahasa menjadikan dirinya duta bahasa di Korea Selatan. Satu-satunya pewaris perusahaan property yang anak perusahaannya sudah menyebar dimana-dimana itu memang dingin, tak banyak berbicara, hal yang menurutnya penting baru akan ia lontarkan.
"Siap-siap untuk dua minggu lagi! Inget! Kosongin jadwal pemotretan kamu! Karena kamu bakal sibuk dengan acara pernikahan ini," kata Mamanya dengan nada yang ditekankan.
"Iya," jawab Zaldi seadanya.
Punggungnya ia sandarkan pada sofa empuk yang ia duduki, tak banyak yang bisa ia lakukan untuk menolak perjodohan ini. Hanya bisa menerima dengan lapang d**a, apapun yang akan terjadi ke depannya.
"Zaldi mau istirahat dulu," katanya sambil berlalu pergi meninggalkan kedua orangtuanya.
"Yesss! Punya mantuu!!" sorak tertahan dari Nyonya Lolita karena terlalu senang anaknya akan segera menikah.
Suaminya hanya menggelengkan kepala karena sedikit terkejut dengan perubahan sikap dari istrinya itu. Tadi tegas dan berwibawa, namun setelah Zaldi pergi, sikap absurd langsung keluar begitu saja.
Zaldi mengunci pintu kamarnya, setelahnya ia duduk di tepi kasurnya. Pikirannya menerawang membayangkan wajah cantik dan imut Alea yang tadi siang ia lamar.
Sebenarnya Zaldi tak masalah jika harus menikah. Ia sudah berusia dua puluh tiga tahun, sudah cukup matang untuk usia menikah. Dan ia juga sudah cukup modal untuk membangun rumah tangga. Namun, kenyataan ia menikah dengan gadis delapan belas tahun cukup membuatnya terkejut.
Zaldi juga baru saja menyelesaikan kuliahnya setelah melewati liku-liku skripsi yang cukup panjang. Akhirnya ia mendapat penghargaan sebagai mahasiswa dengan nilai tertinggi di fakultasnya.
Zaldi meraih ponselnya yang berdering di atas nakas. Helaan nafas terdengar sangat berat, dengan ogah-ogahan ia mengangkat sambungan telponnya.
"Ya?"
'....'
"Batalin semua jadwal pemotretan, untuk satu bulan ini gue vakum dulu. Cari aja model lain. Gue banyak urusan,"
'....'
"Terserah lo mau kayak gimana. Yang jelas gue mundur dari beberapa kontrak itu,"
'....'
"Gak usah kepo urusan gue! Kalo pengen tau, nanti gue kasih info di i********: gue,"
'....'
"Iya,"
Itu adalah kata penutup dari telpon Zaldi dengan lawan bicaranya. Itu adalah Kinar, manager sekaligus sepupunya.
Gadis yang satu tahun lebih tua darinya itu sangat bawel dan cerewet, jika saja kinerjanya sebagai manager itu kurang baik, sudah jelas ia akan memecat Kinar. Namun, Kinar selalu dengan rapi menyiapkan jadwal pemotretannya.
Zaldi merebahkan tubuhnya, tubuhnya memang tidak lelah, namun otak dan hatinya sedang mencoba menerima keadaan jika ia akan melepas masa lajangnya dalam waktu dua minggu yang akan datang. Meski seharusnya ia senang karena ia menikah dengan gadis cantik dan muda jauh di bawah umurnya.
Namun melihat sikap dan sifat kekanakan calon istrinya membuatnya malas dan sedikit meringis membayangkan rumah tangga mereka akan seperti apa.
Semoga tidak hancur karena Zaldi lelah mengasuh anak kecil seperti Alea.
***