Jalanan lenggang membuat siapapun yang mengemudi merasa bahagia karena tidak harus lelah menunggu kemacetan. Seperti yang dilakukan pria itu, meski tak ada sedikitpun senyuman, dalam hatinya ia sangat senang ia tak perlu berlama-lama bermacet-macetan.
Di sampingnya duduk seorang gadis berkerudung biru tua, dengan baju warna hitam dan rok warna senada dengan kerudungnya. Sejak tadi masuk ke mobil, gadis itu terus menunduk seperti ketakutan. Tangannya ia genggam sendiri seperti tengah menahan gugup.
Zaldi yang tengah menyetir hanya fokus pada jalanan, ia membiarkan Alea yang tengah gugup itu diam dengan rasa canggungnya sendiri.
"Aku boleh nanya, gak?" setelah beberapa menit perjalanan, Alea baru mengeluarkan suaranya, mungkin ia tak tahan untuk tidak bertanya.
Zaldi hanya bergumam tanda jika ia membolehkan gadis itu untuk bertanya. Alea menarik nafas pelan, ia sangat gugup. Ini adalah kali pertama ia duduk berdua dalam mobil bersama laki-laki selain Ayah dan Kakaknya.
"Kamu kepaksa gak nikah sama aku?" tanya Alea dengan tampang innocent-nya.
Zaldi cukup terkejut dengan pertanyaan gadis itu, namun tak ada ekspresi yang menunjukan jika ia terkejut. Ia kembali berdeham agar suaranya tidak tercekat.
"Iya," jawabnya singkat.
Alea kembali menunduk, "Turunin aku di sini, aku pulang aja naik taksi,"
Zaldi mengernyitkan alisnya. Namun ia sadar, suara gadis itu bergetar. Menangis? hanya karena jawaban 'iya'? Hish Childish!
"Gak usah nangis, mau gimanapun pernikahan kita gak akan bisa dibatalin," kata Zaldi datar.
Alea memalingkan wajahnya ke arah jendela. "Kenapa?" tanyanya.
"Demi orang tua,"
Isakan Alea yang tadi sedikit terpendam kini terhenti. Ia sadar, memang ini keinginan ayahnya, dan ia sadar ayahnya sangat bahagia ketika ia menerima lamaran Zaldi.
Namun, niat laki-laki itu bukan Lillahi Ta'ala. Jadi ia merasa tidak enak dengan posisi kali ini.
"Bukan karena Allah?" tanya Alea lagi.
Zaldi sedikit berdeham. "Ya," jawabnya ragu. Alea langsung benar-benar bungkam hingga mereka sampai ke tempat fitting baju.
Dengan langkah penuh keraguan, Alea mengikuti Zaldi dari belakang. Pandangannya terus berputar pada butik yang ia masuki ini. Baju-baju pengantin yang mewah dan tuxedo yang terlihat gagah melekat pada patung di setiap sudut ruangan.
Zaldi berkonsultasi dengan pemilik butik untuk memilihkan gaun dan jas yang cocok untuk acara pernikahan mereka. Acara pernikahan yang terbilang mewah, karena Zaldi mengeluarkan cukup banyak dana untuk pernikahannya ini.
Sang pemilik butik menunjukkan gaun putih yang akan dikenakan oleh Alea. Gadis itu hanya mengangguk-angguk tanda ia setuju, karena menurutnya gaun yang ada di sini semua terlihat bagus.
Zaldi sendiri hanya ikut mengiyakan apa yang disarankan oleh pemilik butik. Ia juga cukup terkesan dengan tuxedo-tuxedo yang ditunjukan padanya. Bagus, dan sangat cocok dengan gaun-gaun yang akan dipakai oleh Alea.
Setelah selesai, ia mengajak Alea pulang.
"Aku laper," dua kata yang keluar dari mulut Alea membuat Zaldi menaikkan sebelah alisnya.
Zaldi menatap Alea yang tengah memejamkan mata seraya sedikit meringis. Ingin sekali ia tertawa terbahak-bahak melihat eskpresi lucu itu, namun egonya terlalu besar. Sekuat mungkin ia menahannya.
"Ayo makan," jawabnya datar. Ia langsung masuk ke dalam mobil tanpa peduli Alea yang masih di luar.
Alea menghela nafas, ini sudah pukul sepuluh pagi, dirinya sama sekali belum mengonsumsi makanan. Badannya terasa lemas dan kepalanya sedikit pusing.
Dengan segera ia masuk ke dalam mobil bagian belakang, dan merebahkan dirinya di kursi. Zaldi hanya acuh, ia tahu gadis itu pasti tengah menahan lapar, jadi ia tak peduli apa yang dilakukan oleh Alea.
Zaldi melajukan mobilnya menuju tempat makan yang sering ia kunjungi di daerah yang sedang ia telusuri itu. Sebuah rumah makan sederhana yang sudah buka sejak pukul tujuh pagi.
Hanya menempuh waktu lima menit, mobil Zaldi sudah berhenti di depan lapangan parkir tempat makan.
"Udah nyampe," kata Zaldi melihat Alea yang sudah terduduk memperhatikan sekitar.
Alea langsung turun, dengan gerakan grasak-grusuk ia menutup pintu mobil dan memasuki rumah makan itu. Dengan perasaan senang akhirnya perutnya akan terisi.
Zaldi hanya mengikuti langkah gadis itu. Fix! Hari ini dia merasa menjadi seorang Kakak yang sedang mengasuh adiknya.
Alea duduk di kursi paling dekat dengan jendela, ia memesan tiga menu sekaligus. Zaldi hanya menelan ludahnya melihat porsi makan Alea. Bukan tak sanggup membayar, namun Zaldi ragu jika Alea mampu menghabiskan porsi makanan yang ia pesan. Melihat postur tubuh kecil mungil itu membuatnya sedikit meringis takut ia yang disuruh menghabiskan makanannya.
"Kak, aku gak apa-apa, kan, pesen banyak?" tanya Alea.
Zaldi hanya mengangguk pelan, ia memesan satu jus alpukat. Kemudian mereka menunggu dalam keheningan.
Alea membuka ponselnya kemudian bercermin, Zaldi hanya melihatnya tanpa berkata apapun. Ketika Alea selesai bercermin, ia menyimpan ponselnya di meja dan menunduk.
"Kak. Aku kan kuliah, jangan suruh aku berhenti ya. Aku suka sama jurusan aku kali ini," kata Alea yang kini sedikit berani mendongak.
"Jurusan apa?" tanya Zaldi.
"Bahasa Korea,"
Zaldi menaikkan sebelah alisnya, ia tertarik dengan bahasan Alea kali ini. Apa jadinya ketika Zaldi seorang duta Bahasa Korea mempunyai istri yang senang Bahasa Korea.
"Tau gak duta Bahasa Korea dari Indonesia sekarang siapa?" tanya Zaldi.
Alea sedikit gugup ketika Zaldi menatapnya seperti itu.
"Gak tau, emang siapa?" jawabnya gugup.
Zaldi mendengus malas. Mahasiswi macam apa gadis di depannya ini? Dari fakultas Bahasa Korea. Tapi ia sendiri tidak tau duta Bahasa Korea dari Indonesia.
"Yang lagi duduk di depan kamu," kata Zaldi malas seraya memalingkan wajahnya.
Alea terpaku sejenak, detik berikutnya ia berjengit senang hingga memukul meja. "Jinja?Oppa!!" jeritnya tertahan.
Zaldi hanya merespon dengan anggukan kepala, ia sudah menebak hal yang akan dilakukan Alea.
"Iya. Beruntung banget kamu, punya calon suami yang punya bakat sesuai hobi calon istrinya. Seneng nonton drakor ya?" kata Zaldi. Bahasan kali ini benar-benar membuat Zaldi tertarik.
"Suka, tapi ayah ngelarang. Katanya kurang berfaedah. Mending lakuin hal positif yang lain.Baca Qur'an, atau kalau lagi haid ya baca buku Bahasa Koreanya. Gak usah nonton filmnya. Jadi aku udah jarang nonton drakor deh sekarang," jelas gadis cantik itu.
Matanya berbibar bahagia mengetahui jika calon suaminya ini adalah duta Bahasa Korea dari Indonesia.
"Asal kita bisa membagi waktu dengan baik, nonton juga boleh kalo buat memperlancar pengucapan bahasanya,"