Matahari sudah mulai naik, dengan teriknya menyinari jalanan padat ibukota. Meski sudah memakai AC, mobil Zaldi terasa sangat panas bagi Alea. Ia mengipas-ngisap tangannya di depan leher walaupun tak berpengaruh banyak untuk menetralisir rasa panasnya.
Sesekali Zaldi menekan klakson mobilnya agar mobil-mobil di depannya cepat berjalan. Sudah lebih dari sepuluh menit mereka terjebak dalam kemacetan.
"Kak, macetnya masih lama gak?"
Pertanyaan yang cukup memuakkan terdengar oleh telinga Zaldi. Bibir tipis itu dengan mudah bertanya seperti itu. Membuat Zaldi ingin sekali mencomotnya.
"Gak tau,"
Alea memanyunkan bibirnya lucu. Tatapannya menatap sebal ke arah mobil di depannya.
"Seharusnya Kakak tau, kakak, kan, udah tua," kata Alea seadanya.
Zaldi benar-benar ingin menarik bibir gadis itu, mencopotnya dan membuangnya keluar jendela. Daripada kesal sendiri, Zaldi memilih untuk tidak menanggapi ucapan Alea. Biar saja gadis itu bermonolog dengan ocehan tidak bermutunya.
Ketika sudah berhasil melewati kemacetan yang terjadi karena ada perbaikan jalan itu, Zaldi menghela nafas lega dan bersyukur dalam hatinya. Ia tak lagi mendengar ocehan dari Alea yang mengungkapkan jika gadis itu sedang kegerahan.
"Alhamdulillah... Akhirnya keluar dari macet jugaaaaaa!" gumam bahagia Alea.
Perjalanan tak terasa hingga mereka sampai ke rumah Alea. Faiq -Ayah Alea- sedang duduk memainkan ponselnya di halaman rumah. Meski matahari cukup panas, halaman rumah itu terlihat sejuk dengan satu pohon mangga yang cukup rindang, beberapa pot tanaman kecil, dan rumput-rumput alami menghiasi halamannya.
Senyuman pria paruh baya itu mengembang ketika melihat anaknya masuk membuka pagar rumah dan di susul mobil Zaldi masuk.
"Assalamu'alaikum, Ayah,"
"Wa'alaikumussalaam, anak ayah," Alea mencium tangan dan kedua pipi ayahnya. Meski sudah besar, ia tetaplah Alea kecil yang sayang pada ayahnya.
"Assalamu'alaikum," kini giliran Zaldi yang mengucap salam dan bersalaman pada calon mertuanya. Senyum manis ia tunjukan dengan suka rela pada pria paruh baya itu.
Faiq menunjuk kursi di sampingnya agar Zaldi duduk, sementara Alea telah duduk di teras rumah.
"Sudah fix berapa baju?" tanya Faiq.
Zaldi sedikit termenung, "Empat-- ehh, lima baju," jawabnya. Kemudian ia terkekeh pelan atas ucapan salahnya.
Alea hanya tersenyum, ia membayangkan ketika ia sudah berumah tangga, apa yang akan terjadi nantinya. Sementara ia hanya tau beberapa menu masakan saja.
"Saya gak bisa lama-lama di sini, Pak. Ada kerjaan di rumah," Pamit Zaldi seraya berdiri. Faiq ikut berdiri, ia tersenyum pada calon menantunya itu.
"Hati-hati di jalan ya, kak!" sahut Alea. Gadis itu sudah berdiri di samping ayahnya dengan wajah ceria.
Zaldi tersenyum kecil, ia mencium tangan Faiq dan menyatukan kedua tangannya di depan d**a ketika berhadapan dengan Alea. Dan Alea pun melakukan hal yang sama. Senyum manis sebisa mungkin Alea pasang agar tak terkesan terpaksa.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalaam,"
Zaldi melangkah menuju mobilnya, senyuman gadis itu mampu membuatnya sedikit gugup. Baru kali ini dia menemukan gadis semanis itu senyumnya.
***
Dengan langkah semangat wanita paruh baya itu membuka gerbang. Melihat mobil anaknya sampai, ia sangat semangat ingin menanyakan proses fitting bajunya.
Zaldi yang ada di dalam mobil malah sengaja berdiam diri menatap Mamanya yang sedang menunggunya.
Mesin mobil sudah ia matikan, dengan santainya ia menyandarkan punggungnya pada kursi dan menjadikan tangan sebagai bantalannya.
Mamanya yang menunggu di luar mengerutkan keningnya karena bingung Zaldi tak kunjung keluar. Kaca yang tak tembus pandang dari luar itu membuat ia tak bisa melihat apa yang Zaldi lakukan di dalam mobil.
"ZALDI!!" teriaknya ketika ia membuka pintu mobil dan melihat anaknya tengah bersantai.
Zaldi terkekeh pelan, ia keluar dari mobil, mencium tangan Mamanya dan meminta maaf.
"Maaf, Ma. Abisnya Mama ekspresinya lucu, jadi pengen jail," katanya.
Lolita tertawa, ia mencubit pelan bahu anaknya. "Udah mau nikah, jangan jailin Mama mulu," ledeknya seraya menaik turunkan alis tebal alaminya pada Zaldi.
"Zaldi udah pilih lima baju buat acara nanti. Dan Alea udah setuju. Sekarang Zaldi mau istirahat, soalnya gak enak badan," Zaldi berbicara seraya menatap Mamanya yang tingginya hanya sekupingnya itu.
Lolita menyentuh kening anaknya, memeriksa suhu tubuh Zaldi. Memang cukup panas, dan wajah pria itu terlihat pucat.
"Ya udah, kamu istirahat, ya. Nanti Mama bawa makan sama obat buat kamu," Zaldi mengangguk, ia segera masuk, ingin segera mungkin membaringkan tubuhnya di kasur.
Kepalanya terasa pening ketika banyak sekali permasalahan yang timbul akibat ia membatalkan kontrak pemotretannya dan mempublikasikan pernikahannya dengan Alea.
Mulai dari akun gosip i********: yang membicarakan jika ia telah menghamili Alea, karena mereka menikah muda.
Dan ada juga satu kontrak pemotretan yang marah besar akibat pembatalan kontrak secara sepihak itu. Kepalanya pening, matanya sangat berat, ingin sekali tertidur. Namun, pikiran-pikiran itu terus melayang memutari otaknya.
"Astaghfirullah.." gusarnya seraya mengusap wajah.
Zaldi mengusap kembali wajahnya dengan asal. Ia menatap jam yang melingkar di tangannya. Pukul satu siang. Tadi ia sudah menunaikan sholat di masjid. Dan Alea yang sedang menstruasi memilih untuk menunggu di mobil.
Mengingat kejadian ketika mereka makan membuat pipinya tiba-tiba terasa panas. Ketika Alea menuangkan air putih untuknya dan memberikan sapu tangan karena Zaldi tak sengaja menyenggol jus alpukat miliknya.
Wajah gadis itu terlihat lucu dengan ekspresi terkejutnya. Meski perhatian kecil, itu mampu membuat Zaldi sedikit salah tingkah. Ia jadi membayangkan bagaimaba kehidupannya ketika berumah tangga nanti.
"Zaldi, ini makan sama obat," Zaldi membuka sebelah matanya dan melihat ke arah pintu, Mamanya masuk depan nampan berisi piring makanan, gelas dan obat.
Zaldi bangkit dari posisi terlentangnya. Menatap Mamanya lembut dan penuh kasih sayang.
"Makasih, ya, Ma. Mama udah rawat Zaldi penuh kasih sayang. Walau kadang Zaldi bikin Mama marah, dan seringkali bikin Mama nangis karena kesalahan Zaldi. Sekarang Zaldi udah dewasa, Zaldi udah mau punya istri. Zaldi pengen Mama tetep sayang sama Zaldi," kata Zaldi menggenggam kedua tangan Mamanya.
Lolita terharu, Zaldi adalah anak satu-satunya yang sangat penurut dan penuh kasih sayang pada orangtua. Meski kadang Zaldi kurang setuju dengan pendapatnya, tapi anak laki-lakinya itu tetap menuruti, karena ia yakin pilihan Mamanya selalu yang terbaik.
"Mama bakal tetap sayang sama kamu. Kamu tetep anak Mama, jagoan Mama. Sekarang kamu makan, terus minum obat, langsung istirahat ya,"
Zaldi tersenyum, ia mencium sayang pipi Mamanya kemudian mengambil piring makanan yang akan ia makan. Ini adalah salah satu rutinitas ketika Zaldi sakit dan Mamanya akan menemaninya, membawakannya makan dan obat.
Kasih sayang anak bisa saja pudar. Tapi kasih sayang orangtua sepanjang masa dan tak terhingga.
***
Alea menatap dirinya di pantulan cermin kamar. Tak banyak yang ia lakukan sedari tadi selain senyum-senyum sendiri. Hijab yang belum ia buka sejak pulang dari butik bersama Zaldi itu sudah tak beraturan. Tapi senyumannya tetap tak luntur.
Awalnya ia sangat menolak menikah muda. Namun, jika suaminya adalah Zaldi. Hatinya mengatakan dengan senang hati ia bersedia menjadi istri Zaldi. Wajahnya seketika bersemu merah mengingat jika ia akan menjadi seorang istri dalam waktu dekat.
Alea membuka ponselnya yang bergetar, notifikasi dari i********: memenuhi status bar ponselnya.
Senyumnya mengembang ketika melihat tagged di instagramnya. Dengan segera ia membuka aplikasi basis internet itu.
@zaldibrahim
P
I
C
T
U
R
E
"Good women are for good men. And good men are for good women (An-Nur: 26)"
Alea benar-benar tak bisa menyembunyikan senyumnya. Zaldi menandai dirinya dalam foto yang Zaldi upload. Meski hanya sebuah gambar langit biru dengan awan yang menghias indah, sesuai dengan feed i********: Zaldi. Namun, ini sangat mengesankan untuk Alea.
Notifikasi instagramnya semakin jebol, followersnya terus bertambah, fans-fans Zaldi pasti sangat histeris mengetahui idola mereka akan segera menikah.
Alea mengetuk dua kali photo tersebut dan mengirimkan sebuah komentar.
'pasangan halalmu mungkin tak sempurna, tapi semoga bisa saling menyempurnakan'
Senyumnya mengembang ketika Zaldi kembali meng-tag dirinya. Pipinya bersemu merah membaca caption puisi dari Zaldi. Poto surat undangan mereka yang telah selesai di desain.
Dan captionnya adalah...