Sakit

1401 Kata
"Nikmatilah pelukan sebelum datangnya perpisahan yang akan mengundang rindu yang berkepanjangan." - Nuralvi Sania Putri Untuk Aleana Faiq, calon istriku. Sudilah engkau menjadi rumah untukku. Menjadi seseorang yang akan menyempurnakan agamaku. Menjadi ladang pahala baru untukku. Menjadi ibu dari anak-anakku. Alea.. Memang cukup sulit menerima keadaan jika masa remajamu akan teralihkan pada masa-masa penuh tanggung jawab. Namun, aku akan mengertimu, dan semoga engkau mengertiku. Kita belajar, memperbaiki diri bersama-sama, mencari ridho Allah dalam pernikahan ini. Aku ingin engkau menjadi makmum ku, dan menjadi seseorang yang meng-aamiin-kan doa-doaku. Alea.. Semoga engkau mau menerima keadaanku. Susah senang bersamaku, dan semoga engkau adalah yang terakhir bagiku. Tertanda, calon imam mu, Zaldi Ibrahim Husein. Senyuman manis mengembang dari bibir mungil Alea. Ia tidak bisa mendeskripsikan rasa senangnya. Zaldi yang terlihat datar dan dingin, ternyata memiliki sisi romantis lewat sebuah kata-kata. Tangannya dengan lincah bergerak di atas keyboard ponsel, layaknya seorang penulis handal yang sudah hafal betul letak huruf di keyboard qwerty. Alea ikut mengunggah foto tangannya yang berhias cincin pemberian Zaldi ketika melamar. 'Ada yang memintaku untuk menjadi rumah untuknya. Senantiasa aku menerimanya. Ada yang memintaku untuk menjadi makmumnya. Senantiasa aku menerimanya. Jadilah ladang pahala baru juga untukku. Tertanda, pelengkap iman mu. Aleana Faiq. Seakan sedang bermain kata dalam sosial media. Unggahan mereka jadi bahasan utama penggemar-penggemar Zaldi. Melihat sang idola akan menikah membuat beberapa tagar tercipta. Mulai dari yang berteriak sakit hati, hingga mengucapkan selamat karena turut bahagia. "Dor!" Alea benar-benar terkejut. Ketika suara berat dan tepukan di bahunya membuat ponselnya terjatuh dan pecah. "Bang Irzaaaaan!!" Teriakan nyaring langsung keluar dari mulut Alea. Kesal sangat jelas terpampang dari raut wajahnya. Yang mengagetkannya pun tak merasa salah sama sekali, justru pria tinggi dengan alis tebal itu dengan sukarela menampilkan jajaran giginya pada Alea. "Abang! Hp Lea rusak tuh! Gak mau tau, harus ganti!" Irzan terkekeh, ia menarik Alea ke dalam pelukannya dan mengusap punggung serta kerudung adiknya yang sudah tidak karuan itu. "Maafin, ya. Nanti Abang ganti," Alea menghela nafas, ia benar-benar ingin marah pada kakak lelakinya itu. Tapi, ia tidak bisa melakukan hal itu, ia tidak bisa marah hanya karena ponsel. Gadis pendek itu mendongakkan kepalanya menatap Irzan. "Lea kayak mimpi, masa udah mau nikah," gumamnya. Lawan bicaranya hanya tersenyum. Mengusap lembut kepala gadis cantik yang tengah ia peluk itu. "Takdir Allah, Lea. Kamu harus bisa nerima dengan baik, ya. In Syaa Allah, jika kita nikah niat untuk beribadah kepada Allah. Maka Allah akan memberi yang terbaik untuk hamba-Nya." Alea tersenyum. "Lea terima ini, Bang. Cuma Lea kadang ngerasa kayak lagi mimpi aja. Apalagi Lea harus pisah dari Abang yang selama delapan belas tahun bareng Lea terus," Irzan menatap sendu Alea. Ia sangat menyayangi adik perempuannya ini. Rasa sayangnya sangatlah besar tercurah pada Alea. Dari Irzan maupun Ayahnya, Alea tak pernah kekurangan kasih sayang. Karena ia tak pernah merasakan peluk hangat seorang ibu. Ibunya meninggal ketika melahirkan Alea, jadi Irzan dan Ayahnya lah yang benar-benar selalu ada untuk Alea, menjadi pelindung yang sangat penyayang untuk gadis mungil itu. "Abang setiap tiga bulan sekali, In Syaa Allah pulang. Doain yang terbaik ya buat Abang sama Kak Atika," Alea mengangguk dan kembali memeluk Irzan. Menikmati pelukan sebelum datangnya perpisahan yang akan mengundang rindu yang berkepanjangan. Irzan dan Ayahnya lah yang menjadi keluarga sekaligus sahabatnya. Alea yang sejak kecil hanya home schooling tak mempunyai banyak teman, hanya ada beberapa dan itupun sudah jarang bertemu karena sudah fokus dengan kuliah masing-masing. Jadi Alea benar-benar bersosialisasi dengan banyak orang ketika sudah di perkuliahan. "Abang jangan lupa selalu telpon Lea ya," kata Alea dengan raut wajah sedihnya. "Iya, kamu jangan sedih dong. Abang pindahnya kan bulan depan," Alea tersenyum. Ia memang harus menerima takdir harus berjarak dengan kakaknya. Meski perpisahan itu memang menyakitkan, tapi ketika jarak yang memisahkan. Percayalah, sebuah pertemuan akan terasa indah. *** Malam hari sekitar pukul sembilan, Alea benar-benar merasa tidak nyaman dengan posisi tidurnya. Badannya menggigil dan tenggorokannya terasa kering. Dengan perlahan-lahan Alea bangun berniat ingin mengambil minum yang ada di nakas samping kasurnya. "Astaghfirullah.." gumamnya karena tubuhnya sangat lemas dan tangannya gemetar. Prang! Alea meringis ketika mendengar pecahan gelas yang ia jatuhkan, kepalanya sangat berdenyut. Tak lama, pintu kamarnya terbuka menunjukkan wajah kaget ayahnya, Irzan dan istri Irzan - Atika - "Astaghfirullah.. kamu kenapa, Lea?"  tanya Faiq menghampiri anaknya. Lea meringis karena kepalanya yang berdenyut, telinganya berdengung dan tubuhnya sangat dingin. "Awas, sayang," Irzan menunjuk pecahan gelas pada istrinya agar tak terinjak. "Lea panas banget badannya. Zan, bawa ke rumah sakit aja," kata Faiq. Irzan mengangguk. Atika memakaikan kerudung pada Alea kemudian Irzan membawanya ke mobil. Perjalanan sangat ramai karena ini malam Minggu. Irzan tak henti-hentinya membunyikan klakson mobil karena ia sangat khawatir pada Alea. Wajah gadis itu sudah memucat dan tubuhnya bergetar. "Ayah.. kepala Lea pusing," gumam Alea. Untuk sementara Atika menempelkan plaster penurun panas pada dahi Alea yang selalu ia bawa dalam tasnya. Karena sepertinya jalanan sangat macet dan akan membutuhkan waktu tempuh yang lama untuk sampai ke rumah sakit. Setelah kurang lebih empat puluh menit. Akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Irzan dengan sigap menggendong Alea dan memasukkannya ke ruang UGD. Dokter yang berjaga pun langsung bertindak sigap menangani Alea. Ketiga orang itu menunggu Alea dengan harap-harap cemas karena khawatir akan kondisi Alea. Dokter keluar bersama suster. "Pasien perlu dirawat inap. Dan saya sarankan untuk membeli obat penurun panas terlebih dahulu. Saya akan mengambil infus," ujar dokter setelah mendapat jawaban dari Faiq. Dokter langsung pergi menyiapkan infus untuk Alea. Dua suster yang ada di dalam memindahkan Alea ke ruang rawat inap VVIP sesuai perintah Faiq. Setelah Alea di infus dan di pakaikan selang oksigen, Faiq, Irzan dan Atika masuk ke dalam ruangan Alea. Gadis itu tengah terlelap dengan kening yang sedikit mengerut. "Ayah kaget banget pas tadi denger ada yang pecah," kata Faiq pada Irzan. Irzan dan Atika pun mengangguk menanggapi dengan kompak. "Bener, Yah. Tika lagi mau ke dapur. Langsung lari ke kamar manggil Irzan buat nyamperin Alea,"  "Ayah khawatir banget, Tika," Irzan mengusap bahu Ayahnya, meyakinkan bahwa Alea akan baik-baik saja. "Ayah sama Tika pulang aja. Biar Irzan aja yang jagain, Lea. Hati-hati bawa mobilnya, sayang," Atika mengangguk, ia mengambil kunci mobil kemudian menuntun ayah mertuanya keluar. "Aku pulang ya, jagain Alea. Assalamu'alaikum," ujar Atika. "Wa'alaikumussalaam," Irzan menghela nafas, ia mengusap kepala Alea dan mengecup kening adiknya lembut. "Cepet sembuh, dek. Jangan bikin khawatir," bisiknya pelan. *** Zaldi melangkah dengan gagah masuk ke dalam rumah sakit. Dengan setelan kemeja warna dongker yang masuk rapi ke dalam celana bahannya. Lengan baju yang di gulung hingga siku dan kacamata hitam yang bertengger manis di hidung mancungnya. Langkahnya ia tujukan pada resepsionis rumah sakit untuk menanyakan ruangan Alea. "Permisi. Pasien Aleana Faiq ada di kamar mana ya?" tanyanya pada resepsionis cantik tersebut. "Sebentar saya periksa dulu," resepsionis itu langsung memeriksa bagian administrasi pasien di komputer. "Pasien yang bernama Aleana Faiq, ada di lantai 4, VVIP ruang 78," setelah mendengar jawabannya, Zaldi langsung pergi setelah mengucapkan kata terimakasih. Dengan segera ia naik ke lantai empat, mencari ruang VVIP nomor 78. Setelah menemukannya ia mengetuknya terlebih dahulu. "Assalamu'alaikum," "Wa'alaikumussalaam. Masuk," Zaldi mendorong pintu, yang ia lihat ada Irzan dan Atika yang sedang duduk di samping Alea dan Atika tengah menyuapi Alea makan. Alea langsung menunduk karena malu ketika melihat Zaldi datang. Pria itu mampu membuatnya tersipu karena Zaldi terlihat sangat tampan dengan penampilannya saat ini. "Sakit apa?" tanya Zaldi. Alea tetap menunduk. "Panas tinggi," jawab Irzan mewakili. Zaldi mengangguk-anggukan kepalanya dan ia mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kecil berbentuk hati dan menyimpannya di pangkuan Alea. "Simpan, ya. Buat kamu, Lea. Semoga lekas sembuh," kata Zaldi kemudian ia berpamitan pada Irzan dan Atika. Alea hanya diam dengan wajah cengonya menatap pemberian Zaldi. Dirinya langsung terpelonjak kaget karena ditepuk oleh Irzan. "Ck. Kayaknya dia baik banget deh. Pengertian banget," decak kagum Irzan ikut menatap pemberian Zaldi. Atika benar-benar terpesona. "Emang cowok idaman. Cowok biasanya nih kalo ceweknya sakit itu bawain bunga atau parsel buah. Ini bawain perhiasan!" Kata Atika. Alea membuka kotak itu, ia menatap cincin berwarna perak dengan berlian kecil di atasnya. "Ma Syaa Allah!" Alea benar-benar terkejut. Itu adalah cincin mahal yang pernah ia lihat di akun i********: toko emas terkenal. Irzan dan Atika hanya mampu geleng-geleng kepala. Meski mereka mampu membeli cincin itu. Namun, bagi seorang 'calon suami' itu cukup dibilang berlebihan. "Kayaknya kalo udah jadi suami istri. Kalo Alea sakit dibeliin mobil Lamborghini deh," gumam Atika pada Irzan. Keduanya terkekeh, Alea menyimpan kotak perhiasan itu di dalam saku bajunya. Ia berjanji akan menyimpannya baik-baik. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN