"Percayalah. Orang tua selalu ingin yang terbaik untuk anaknya,"
06 Maret 2018
"Saya terima nikah dan kawinnya, Aleana Faiq binti Muhammad Faiq, dengan maskawin emas 52 gram dibayar tunai,"
"Gimana, saksi? Sah?"
"SAH!"
"Alhamdulillah.."
Alea mengusap wajahnya dengan lembut ketika Zaldi dengan lancar mengucapkan ijab qobul nya. Mereka semua berdoa mengangkat tangan dan menunduk meminta keberkahan dalam pernikahan Zaldi dan Alea ini.
Setelahnya, Zaldi mengambil cincin nikahnya dan memasangkannya pada jari manis Alea. Tangan gadis itu terasa dingin dan gemetar, setelah cincin terpasang dengan segera Alea menarik tangannya. Ia tersenyum malu, membuat kedua pipinya yang sudah memakai blush on bertambah pink. Kini gilirannya memakaikan cincin pada Zaldi.
Ragu, jelas sangat ragu, karena ia gugup dan malu. Sangat banyak orang menyaksikan dan kamera terus-menerus menangkap momentum ini.
Tarikan nafas terlihat jelas dari Alea. Ia menggapai tangan Zaldi dan memakai cincinnya dan langsung mencium tangan pria yang kini sudah menjadi suaminya itu.
Zaldi pun mencium kening gadis itu dengan lembut. Membiarkan para dokumentator mengabadikan momen-momen ini. Dan disusul acara sungkeman kepada orangtuanya.
Acara berlalu dengan cepat, ini saat resepsi. Zaldi dan Alea duduk di pelaminan, menyambut para tamu yang datang menghampiri mereka yang rata-rata adalah teman-teman Zaldi.
"Temen Lea kehitung banget yang dateng. Dari tadi temen kakak mulu," gumamnya pada Zaldi.
"Makanya punya temen yang banyak,"
Alea hanya memproutkan bibirnya karena tanggapan Zaldi. Bagaimana ia punya teman yang banyak sementara ia hanya home schooling, temannya terhitung oleh jari. Dan teman-teman kuliahnya juga tidak banyak yang akrab karena Alea tak banyak disukai teman satu kampusnya karena sikap kekanakannya.
"Tadi yang dateng kayaknya temen kampus ya? Di sekolah menengah gak punya temen?" tanya Zaldi.
Laki-laki ini benar-benar membuat Alea ingin marah. "Kak! Lea ini gak sekolah umum. Lea sekolah rumahan. Jangan ngejek Lea gak punya temen!" Desis kesal Alea tertahan.
Zaldi menolehkan kepalanya ke arah Alea. Ia tidak tahu jika Alea tidak mempunyai banyak teman karena tidak sekolah umum.
"Maaf," gumamnya.
Alea menghela nafas. Senyum terbaik coba ia pasang agar tak dinilai jelek di hadapan orang banyak. Apalagi banyak rekan-rekan bisnis ayahnya dan ayah Zaldi yang datang ke acara pernikahannya.
Zaldi menarik Alea agar duduk di kursi pelaminan yang mewah ini. Persiapan yang cukup matang walau hanya dua minggu, sukses membuat Zaldi pusing dan merogoh banyak uang untuk suksesnya acara ini.
Namun, tak masalah. Karena menurutnya ini sangat sakral, terjadi sekali seumur hidup.
"Jangan marah, cantik," Zaldi mencolek dagu Alea. Perlakuan itu sukses membuat pipi Alea kembali bersemu.
"Aish! Pipinya makin pink! Gemes!" Sorak Zaldi senang. Ia tertawa membuat Alea semakin malu.
"Kak! Jangan ledekin Lea lagi. Lea malu,"
Dengan sengaja Zaldi terus menerus menggoda Alea. Sampai akhirnya Alea kesal dan memukul bibir Zaldi yang terus-menerus menggodanya.
"Kakak ini pas awal ketemu Lea jutek banget, sekarang jadi nyebelin banget, ish!"
Zaldi terkekeh, ia turun dari pelaminan dan menghampiri panggung, ia mengambil mikropon dan duduk di kursi yang menghadap ke arah Alea langsung dari panggung.
"For my wife,"
Petikan gitar dari gitaris band yang sengaja Zaldi undang mulai mengalun mengisi ruangan. Para tamu undangan sontak menatap Zaldi penuh senyum dan terpana. Tampan dan gagah, siapa yang tak menyukai nya?
Lagu Purpose dari Justin Bieber mengalun indah mengisi ruangan. Masuk ke gendang telinga setiap pendengarnya dengan lembut. Suara Zaldi memang bagus, dan itu sukses membuat Alea benar-benar diam tak berkutik di atas pelaminan.
"Oh you are my everything.."
Tepuk tangan riuh langsung bergemuruh setelah Zaldi selesai bernyanyi. Selama alunan musik terdengar semua orang diam terhipnotis dengan suara Zaldi. Setelah selesai tanggapan dan siulan terdengar untuk sang penyanyi dadakan ini.
Zaldi turun dari panggung dan kembali menghampiri Alea. Senyuman dari Alea berhasil membuat jantungnya berdebar tak menentu. Hush! Untung saja tak terdengar. Jika ia bisa terdengar, mungkin degupan jantungnya bisa jadi musik dangdut. Hehe
Alea menepuk bahu Zaldi pelan. "Lea malu banget, Kak!" Gumamnya.
Pria ber-jas hitam itu terkekeh. "Kakak yang nyanyi, kamu yang malu? Huh?"
Keduanya tertawa sejenak, melupakan para tamu yang datang dan sedang membincangkan tentang mereka. Sampai satu fotografer bertanya pada Zaldi untuk bersedia atau tidak menjadi model kali ini bersama sang istri.
"Tentu, untuk kenang-kenangan juga," jawab Zaldi senang. Ia tak perlu mengeluarkan uang lagi. Justru ia yang akan mendapat uang. Lumayan, pikirnya.
"Sekarang kalian berdua ganti bajunya,"
Zaldi mengangguk, ia menuntun Alea menuju ruang rias. Sangat pelan-pelan. Karena ia tau, Alea menggunakan sepatu hak tinggi untuk menyeimbangkan tingginya.
"Bilangin sama tata busana. Sepatu kamu jangan terlalu tinggi, masa kamu yang tadinya sedada kakak, sekarang langsung naik jadi seatas bahu. Kakak gak tega," Alea menolehkan kepalanya pada Zaldi.
"Emang Lea kecil banget ya, kak?"
Dengan tampang watados Zaldi mengangguk. Sukses membuat Alea memproutkan bibirnya kembali.
"Kecil banget. Kamu, kalo nanti gak nurut sama Kakak, bisa kakak lempar ke tengah laut," ucapan Zaldi langsung membuat Alea menghentikan langkahnya. Tatapannya menatap Zaldi dengan takut dan was-was.
Melihat itu, ingin sekali Zaldi tertawa terbahak-bahak. Namun, ia menahannya karena ini akan menjadi ledekan seru untuk Alea.
"Terus kalo misalnya kamu ngelakuin kesalahan fatal, kamu bakal Kakak iket di pohon mangga depan rumah tetangga. Terus lagi, kalo misalnya kamu nakal dan gak mau kuliah dengan alasan yang nggak jelas, kamu bakal Kakak lempar dari atas gunung,"
Alea benar-benar takut. Ancaman dari Zaldi terlihat sangat serius. "Le-Lea janji gak bakal ngelakuin i-itu," ucapnya gugup.
Zaldi menjentikkan jarinya di depan Alea dan langsung membawa gadis itu masuk ke dalam ruang rias.
***
"Coba ganti pose. Alea setengah meluk Zaldi dan menghadap kamera. Zaldi menghadap ke atas, dan tangannya kiri merangkul Alea," arahan fotografer dengan sigap dan tanggap dituruti oleh Zaldi dan Alea. Banyak yang ikut memfoto secara candid bahkan ada yang membuat video untuk mengisi snapgram serta tagar untuk pernikahan ini.
"Nice!!" Decak kagum fotografer melihat hasil jepretannya.
"Sekarang Alea membelakangi Zaldi. Dan Zaldi peluk Alea dari belakang, wajah kalian menghadap kamera. Saya akan mengambil foto dari sisi kanan," lagi-lagi Zaldi dan Alea mampu mengikuti instruksi fotografer.
"Ouch! I love this photo!"
Zaldi tersenyum, ia mengusap hijab yang digunakan Alea. "Yang cantik ganteng lagi jadi sorotan banyak kamera nih," bisiknya.
"Lea malu, kak,"
"Belum kakak apa-apain udah malu aja,"
"Ish!" Alea menepuk pelan bahu Zaldi.
Zaldi hanya tertawa dan mereka kembali mengikuti arahan fotografer. "Alea duduk di kursi pelaminan, dan Zaldi berdiri mengulurkan tangan ke Alea,"
Alea berjalan ke kursi dengan di tuntun oleh Zaldi. Kali ini ia terlihat lebih pendek karena sepatunya tak memiliki hak yang terlalu tinggi.
Gaya demi gaya mereka tampilkan. Dan sampai pada akhir pemotretan, Zaldi mencium kening Alea, dan Alea memejamkan matanya dengan tangan yang tersampir di bahu Zaldi.
Satu foto paling indah menurut Zaldi berhasil diabadikan.
***
Malam hari. Waktunya resepsi dengan meriah. Banyak rekan kerja Zaldi yang sesama model datang. Alea jadi sangat malu berkali-kali lipat ketika Zaldi mengenalkannya pada teman-temannya di dunia pemodelan.
"Ini Alea. Istriku," katanya dingin.
Alea tersenyum canggung, ia menggenggam tangan Zaldi dengan erat untuk menghilangkan kegugupannya. Zaldi merangkul bahu Alea lembut.
Setelah berpamitan pada teman-temannya. Zaldi menuntun Alea menuju acara selanjutnya. Yaitu, menari bersama. Banyak pasangan-pasangan yang sudah menunggu datangnya Zaldi dan Alea agar acara ini segera dimulai.
Sorotan kamera menyorot pada Zaldi dan Alea yang berada di posisi tengah. Semua menari mengikuti alunan musik romantis. Sampai pada akhirnya pasangan-pasangan yang ada menepi membiarkan Zaldi dan Alea yang menguasai tempat.
Alea tersenyum sangat manis, tangannya menggenggam tangan Zaldi kemudian ia berputar ketika Zaldi mengangkat tangan. Setelahnya Zaldi langsung memeluk Alea lembut. "Jadilah pelengkap imanku, Alea," bisiknya.
Saat-saat yang mendebarkan, yaitu Zaldi yang akan mencium Alea dihadapan semua orang. Wajahnya semakin mendekat dengan wajah Alea. Alea sendiri hanya meneguk ludahnya susah payah. Tubuhnya terasa kaku. Namun, ketika bibir Zaldi sudah menyentuh bibirnya. Tamparan mulus mendarat di pipi Zaldi.
Sontak Zaldi menjauhkan wajahnya dan menatap Alea bingung. "Astaghfirullah.. What's wrong, Alea?" tanyanya.
Alea semakin terdiam, tubuhnya melemas begitu saja, untung saja Zaldi menahannya. "Dia pingsan," kata Zaldi pada seluruh penonton yang melongo menyaksikan kejadian sekilat itu.
Zaldi langsung menggendong tubuh mungil itu ke ruangan tata rias. Diikuti beberapa staff penanggung jawab acara, dan yang pasti adalah keluarganya.
Setelah membaringkan Alea di sofa. Ia mengusap pipinya. Tidak terlalu sakit, karena Alea menampar dengan pelan. Mungkin gadis itu malu. Zaldi terkekeh mengingat ekspresi Alea yang menurutnya benar-benar lucu.
"Baru aja dicium," gumamnya dalam hati melihat Alea tengah diberi minyak angin oleh Atika.
"Kayaknya dia belum terlalu pulih, deh," kata Atika.
Zaldi menggeleng. "Dia pasti kaget, that's first time for her,"
Semuanya mengangguk menyetujui. Termasuk Faiq. Pria paruh baya itu tersenyum. "Duduk di mobil bareng kamu aja, itu pertama kali saya mengijinkan Alea pergi bersama laki-laki selain Irzan," Zaldi ikut tersenyum.
Ia tidak pernah menyesal akan keputusannya mengikuti keinginan Mamanya. Karena ia selalu yakin, orang tua selalu memilih yang terbaik untuk anaknya. Secara langsung ataupun tidak langsung, orangtua selalu memikirkan kebahagiaan anaknya.
Dan Zaldi bahagia ia bisa menikah dengan Alea. Gadis cantik yang imut, polos, dan apa adanya.