Baik

1397 Kata
Alea mengerjapkan matanya berkali-kali, menetralisir cahaya yang masuk ke retina matanya. "Ayah.." gumamnya. Zaldi yang sedang duduk di seberang sofa pun langsung menghampiri istrinya. "Gimana keadaan kamu, Lea?" tanyanya seraya menyentuh kening gadis itu. "Kepala Lea pusing banget, kak," Zaldi tersenyum, ia membantu Alea yang ingin duduk, kemudian menyandarkan Alea pada tubuhnya. "Acara resepsi udah selesai. Ini udah jam tiga pagi, kamu lanjut tidur aja," Alea menggeleng, ia mengusap kepalanya karena sangat pusing. Zaldi menyandarkan Alea pada sofa, dan ia bangkit untuk mengambil air yang ada di meja. Dan ia berikan pada Alea. Dengan segera dan cepat, Alea menegak habis minum dari Zaldi itu. "Kepala Lea pusing banget, kak," lirih Alea lagi seraya memejamkan matanya. Zaldi mengusap-usap kepala Alea lembut. "Kita ke hotel ya? Kakak jagain kamu di sana. Di sini gak ada kasur," Alea hanya mengangguk karena ia sudah sangat lelah. Tapi sebelumnya, Alea sadar akan satu hal. Ia sudah berganti pakaian dan sudah tidak ber-make up seperti sebelum ia pingsan. Ia ingat betul, ia pingsan ketika Zaldi menciumnya. Aish! Sudahlah, malu. "Yang ganti pakaian kamu itu istrinya kakak kamu, Lea," seperti tau apa yang dipikirkan Alea, Zaldi langsung berkata seperti itu dan sukses membuat Alea tenang dan tidak bertambah malu. Zaldi berjongkok di depan sofa, lebih tepatnya di depan Alea. Dengan malu-malu, Alea naik ke punggung Zaldi dan langsung melingkarkan tangannya pada leher Zaldi. Zaldi pun membawa Alea keluar dari gedung pernikahannya ini. Banyak orang yang sedang membereskan perlengkapan acara. Mereka langsung menanyakan keadaan Alea. "Dia baik-baik saja. Kami akan ke hotel. Dia butuh istirahat," jawab Zaldi kemudian berlalu. Alea memejamkan matanya karena ia benar-benar lelah dan pening. Ia pun hanya diam ketika Zaldi memasukkannya ke dalam mobil. Ia sangat malas untuk bergerak. "Oppa.. kamsahamnida," Zaldi tersenyum dan mengangguk. Ia menyalakan mesin mobilnya dan melaju menuju hotel yang tak jauh dari gedung. *** Alea menarik selimut yang baru saja Zaldi selimutkan agar lebih tinggi. Kemudian ia melihat Zaldi yang tengah berjalan ke sofa samping kasur. "Kakak nggak tidur?" tanya Alea. Zaldi tersenyum. "Kamu aja tidur. Kakak jagain kamu," Alea menggeleng cepat. Ia menepuk kasur di sebelahnya. "Kakak juga harus tidur. Pasti cape, kan?" Pria itu menaikkan sebelah alisnya dan menyeringai. "Kamu pengen kakak tidur?" tanyanya seraya menghampiri. Dengan tampang polosnya Alea mengangguk. "Iya, kan kakak juga pasti cape. Alea ngerti kok," kata Alea pelan. Zaldi mengangguk-anggukan kepalanya dan langsung membaringkan tubuhnya di samping Alea. Menarik selimut dan memeluk pinggang Alea. Alea jadi canggung sendiri dengan posisi ini. Ia tak bisa bergerak dan tak tau apa yang harus ia lakukan. Tapi Alea mengingat perkataan kakak iparnya tips untuk menjadi istri yang baik. 'Kalo suami udah deket-deket tandanya pengen disayang. Kalo dia peluk, coba peluk balik, kalo dia cium coba cium balik. Kalo dia manja ya manjain,' Ya, Alea mengingat itu. Untuk jadi istri baik, Alea segera memiringkan tubuhnya ke arah Zaldi, dan membalas melingkarkan tangannya di pinggang Zaldi. Zaldi yang merasakannya pun langsung terkesiap, ia kira Alea tidak akan melakukan hal itu. Gadis itu menyembunyikan wajahnya di d**a Zaldi  dan sukses membuat Zaldi gemas. Pria itu mengusap-usap punggung Alea agar gadis itu terlelap. Ini adalah pertama kali untuknya tidur bersama seorang perempuan selain Mamanya, dan Alhamdulillah gadis cantik ini sudah sah untuknya. Setelah sekian lama ia sendiri, akhirnya Allah menjawab do'anya dengan mengirim Alea sebagai istrinya. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 04:30 WIB. Dan Zaldi sama sekali belum tertidur. Ia membangunkan Alea. "Lea, bangun. Sudah shubuh," kata Zaldi yang ponselnya sudah bersuara adzan. Alea membuka matanya yang indah itu menurut Zaldi. Dan ia langsung  duduk dan menyandarkan tubuhnya pada Zaldi. "Lea masih ngantuk," racaunya membuat Zaldi gemas. "Sholat yuk," Zaldi menarik Alea dan merapihkan kerudung Alea yang sudah sedikit terbuka. Ia melepaskan kerudung gadis itu dan mengusap rambut panjang Alea yang diikat asal. "Belajarlah jadi istri yang baik, Alea. Aku akan sangat menyayangimu," bisik Zaldi seraya membuka ikat rambut Alea dan merapihkan rambut gadis itu. "Kamu cantik," Alea yang sedari tadi hanya diam pun menunduk malu, ia membiarkan rambut panjangnya menutupi wajahnya yang sepertinya sudah memerah ini. "Lea.. ma-mau wudhu dulu, kak," gadis itu buru-buru beranjak dari hadapan Zaldi. Bisa-bisa ia mati berdiri karena gombalan pria tinggi itu. Selang lima menit, Alea terlihat lebih fresh dengan rambut yang sudah di gulung dan wajah yang bercucuran air wudhu. Zaldi langsung menggelengkan kepalanya melihat pemandangan itu. Menyingkirkan pikirannya yang mulai melayang kemana-mana. "Kakak kok nggak wudhu?" tanya gadis itu melihat Zaldi tengah menatapnya. Zaldi menaikkan sebelah alisnya. "Kan kamu baru keluar, Lea," Alea menepuk keningnya pelan kemudian tercengir lebar pada suaminya. "Dasar," gumam Zaldi seraya beranjak ke kamar mandi untuk berwudhu. Alea menggelar sajadah untuk Zaldi, dan ia mengambil mukena yang di sediakan pihak hotel kemudian ia pakai. Ia sholat Sunnah qobliyah shubuh terlebih dahulu untuk menunggu Zaldi. Zaldi yang melihatnya tersenyum lebar. Ia sangat bersyukur kepada Allah mendapatkan istri yang shalihah seperti Alea. Ia berdiri seraya menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. Menunggu Alea selesai sholat. Setelah selesai sholat sunnah. Alea berdoa lantas menengok ke arah Zaldi berdiri. "Oh, kakak mau lewat. Nih, sekalian sholat qobliyah dulu," katanya seraya memberi akses ruang untuk Zaldi lewat menuju sajadahnya. Zaldi pun hanya mengangguk seraya tersenyum. Ia sholat sunnah dan setelahnya mereka mendirikan sholat shubuh berjamaah. Alea dengan khusyuk berdoa setelah sholat. Kemudian ia lanjutkan dengan berdzikir. Sedangkan Zaldi membaca Alquran. Zaldi membalikkan tubuhnya ketika ia tak mendengar suara Alea. Dan senyumnya langsung merekah ketika melihat posisi Alea berdzikir. Pipi sebelah kiri yang tertekan karena kepalanya bersandar di kasur hingga bibirnya membentuk mulut ikan yang sedang melafalkan istighfar. Zaldi terus memperhatikan hingga gadis itu menjatuhkan tasbih di tangannya dan mulut Alea berhenti bergerak. Ah! Lucunya gadis itu, lihat ia bisa tertidur dalam posisi bersandar. Wajah imutnya terlihat semakin imut dibingkai dengan mukena yang putih bersih. "Alea.." Gadis itu terbangun, Zaldi langsung memundurkan kepalanya ketika tangan gadis itu bergerak asal. "Hayo! Ada yang berani sama aku?!" Zaldi tertawa melihatnya, refleks yang lumayan bagus. "Ish kakak! Lea malu, lah!" ujar gadis itu ketika kesadarannya sudah terkumpul. Ia menutup wajahnya dengan mukena. Zaldi meredakan tawanya kemudian ia menyimpan Alquran. Tangan Alea ia turunkan dan mengusap pipi merah gadis itu. "Kamu ngantuk? Cape ya?" tanya Zaldi. Alea mengangguk dengan mata yang menatap ke arah bawah. Zaldi tersenyum, ia beranjak membereskan sajadahnya dan membuka peci yang ia pakai dan menyimpannya di meja. "Kakak mau kemana?" "Kakak mau tidur. Soalnya belum tidur sama sekali. Sini, kamu tidur lagi," Zaldi menarik Alea dan membantu gadis itu membuka mukenanya. "Istirahat ya, nanti kamu sakit," kata Zaldi ketika mereka sudah berbaring. Ia mengusap-usap punggung gadis itu. "Tapi.." "Nggak ada tapi-tapian lagi, Lea," Alea mengerucutkan bibirnya lucu. Ia memilih memejamkan matanya karena nyaman dengan usapan tangan Zaldi di kepalanya. Namun, baru beberapa saat memejamkan matanya, perut Alea berbunyi dan itu terdengar oleh Zaldi. "Kamu laper, Alea?" tanya Zaldi dan dijawab oleh anggukan kepala oleh Alea. Zaldi hanya menggeleng tak habis fikir pada gadis ini, kenapa ia diam saja ketika lapar. "Kenapa kamu gak bilang? Ayo sarapan," Alea hanya mengangguk patuh, ia bangkit, mengambil kerudung dan memakainya cepat. Karena ia sudah sangat lapar. Mereka berdua menuju ke restoran depan hotel dengan berjalan kaki. Keduanya jadi sorotan orang-orang di sekitar. "Cie pengantin baru!" Zaldi menolehkan kepalanya mendengar seruan itu. Seketika ia mendengus melihat makhluk menyebalkan itu. "Ngapain lo disini? Mana anak lo?" tanya Zaldi sebal. Kinar tertawa melihat ekspresi masam Zaldi. "Lo boleh bosen ketemu gua mulu, tapi mukanya tolong kondisikan sebelum gue tendang," jawabnya becanda. Alea turut tertawa mendengarnya sedangkan Zaldi jadi tambah jengkel. "Gue di ajak suami kesini, anak gue lagi dititipin. I need a second honeymoon," Zaldi berdesis, narsis sekali wanita di depannya ini. "Mumpung lo lagi menikmati masa abis nikah sama istri cantik lo ini. Gue juga pengen, pusing ngurusin makhluk susah diatur kayak lo. Bye bye, Zaldi," Kinar langsung berlalu seraya menghempaskan rambut panjangnya ke hadapan Zaldi. Dan Zaldi sangat jengkel dengan hal itu. Alea malah tertawa-tawa melihat betapa lucunya wajah Zaldi yang tengah menahan kesal. "Orang-orang kayak gitu, diciptakan untuk menguji kesabaran," kata Alea. Zaldi menghela nafas, ia mengusap dadanya dan beristighfar. "Ayo, kita sarapan," Zaldi menarik Alea masuk ke dalam restoran. Mereka duduk dekat dengan jendela dan memesan beberapa menu sarapan yang ada di sini. Seperti biasa, Alea selalu memesan banyak. "Oh iya, kak. Lea punya tugas kuliah," gadis itu menepuk pelan keningnya. Zaldi terkekeh melihat ekspresi Alea. "Nanti kamu kerjain, kalo gak bisa, tanyain ke kakak, ya," kata Zaldi seraya mengusap kepala Alea.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN