Alea menatap kamar Zaldi penuh senyum. Kamar pria tinggi itu sangat rapi dan wangi. Tak seperti kamar laki-laki pada umumnya yang berantakan nyaris seperti gudang mewah.
Dengan perasaan senang, gadis itu membanting pelan tubuhnya ke kasur. Mata terpejam dan bibir tersenyum dengan manisnya. Zaldi yang baru masuk pun geleng-geleng kepala melihatnya. Mengapa Alea begitu terlihat cantik di matanya sekarang?
Awal pertemuan mereka memang kurang mengesankan karena Alea menangis meraung-raung dan menginjak kakinya. Namun, Zaldi sangat bahagia saat ini. Gadis itu menjadi istrinya.
Perkiraan jika ia akan menjadi baby sitter tak sepenuhnya benar, karena Alea masih dalam batas wajar kekanakan dan Zaldi malah menjadi gemas dengan hal itu.
"Lea, aku mau ngomong sama kamu," kata Zaldi seraya duduk di samping Alea yang masih pada posisi nyamannya.
"Itu juga udah ngomong tahu!" seru Alea seraya bangkit dari posisinya.
Zaldi yang tadinya tersenyum langsung memandang gadis itu datar. "Maksud aku, yang lain," jawabnya tanpa ekspresi.
Alea mengangguk kemudian menghadap pada Zaldi. "Tapi sebelum kakak ngomong. Lea boleh minta sesuatu, gak?" tanya Alea.
"Apa?"
"Kakak ngomong, tapi Lea peluk kakak. Boleh?" tentu dengan senang hati Zaldi memeluk. Karena menyenangkan seorang istri juga ibadah.
"Kenapa pengen dipeluk?" tanya Zakdi balik.
"Lea nyoba buat beradaptasi sama kakak, nyoba buat nyaman sama kakak. Maafin kalo Lea ada salah. Nanti jangan bentak Lea, Lea takut sama kakak," gumam Alea seraya menyandarkan pipinya pada d**a Zaldi.
Zaldi tersenyum. Ia mengusap punggung dan kepala Alea. "Kamu nggak salah apa-apa, Lea. Baru semalem kita nikah. Dan kamu selalu bikin aku gemes," kata Zaldi.
"Kakak mau ngomong apa?"
"Jangan panggil aku pake embel-embel, Kakak. Panggil aku, Zaldi atau Mas Zaldi bisa?" Alea mendongak. Matanya mengerjap berkali-kali, kemudian ia menegakkan tubuhnya.
"Emang salah ya, kak?" tanya Alea sedih.
Sontak Zaldi menggeleng. "Umur kita lumayan terpaut lima tahun Alea. Kalo kamu panggil aku 'Kakak' kalo dimana-mana kita nggak keliatan jadi seorang suami istri. Aku nggak mau apa yang udah jadi milik aku coba direbut sama orang lain," urai Zaldi menjelaskan tujuannya.
"Terus?"
Zaldi menepuk keningnya sendiri karena Alea tak mengerti. "Kamu nggak salah, dan kamu panggil aku Mas Zaldi. Titik,"
"Siap Mas Zaldi!" Alea kembali memeluk Zaldi, karena terlalu kencang hingga Zaldi terletang dan Alea di atasnya.
"Kamu bikin aku kaget, Lea," kata Zaldi seraya mengusap pipi gadis itu.
Alea hanya terkekeh. Ia menggulingkan tubuhnya dan berbaring di samping Zaldi. Memeluk pria itu, dan menyembunyikan wajahnya di ketiak Zaldi yang wangi.
"Zaldi! Alea! Makan dulu, nak!"
Zaldi membawa Alea untuk duduk dan membuka kerudung istrinya. "Kalo di rumah ini buka kerudung, ya. Aku udah nyuruh satpam buat gak masuk sebelum ada izin dari aku,"
Alea hanya menuruti. Tak banyak melakukan protes karena toh di dalamnya hanya ada pembantu perempuan dan Mama Lolita. Papa Zaldi yang super sibuk sudah berangkat ke luar kota untuk mengurus bisnisnya. Lagipula mertua sudah jadi mahram.
"Assalamu'alaikum, Mama. Selamat siang," sapa Alea seraya mencium pipi mertuanya. Setidaknya ia juga bisa merasakan memiliki seorang ibu.
"Wa'alaikumussalaam, sholihah. Selamat siang juga anak Mama yang cantik,"
Senyuman Alea merekah begitu saja. Ia duduk menyendokkan nasi dan lauk pauknya untuk Zaldi. Lolita yang memang sudah menyendok nasi pun hanya tersenyum melihat Alea. Gadis itu terlihat cantik sekali dengan rambut panjangnya yang dicepol asal. Meski tanpa make up, ia tetap terlihat cantik dengan kulit putih pucatnya.
"Makasih, Lea," kata Zaldi.
Alea mengedipkan matanya pada Zaldi dan sukses membuat pria di sampingnya salah tingkah.
"Hahahaha, ya biasa aja kali, Zaldi. Kamu kok jadi salah tingkah gitu," Lolita benar-benar meledek anaknya yang wajah putihnya sudah menjadi merah muda.
Zaldi sendiri hanya tersenyum kecil menahan salah tingkahnya. "Lea mau ngerjain tugas kuliah buat syarat ikut semester, Ma. Jadi Lea pulang ke rumah Ayah dulu, ya. Sekalian bawain baju, hehe," jelas Alea mengabaikan Zaldi yang masih tenggelam bersama rasa salah tingkah.
"Oh iya tentu, sayang. Semangat ngerjain tugas kuliahnya tapi jangan lupa ngelaksanain tugas ke suami juga ya," jawab Lolita.
"Emang tugas ke suami apa? Beresin baju aku udah ahli kok, Ma. Masak juga aku bisa, terus aku juga sering nyuci baj--"
"Tugasnya kerjasama bikin anak," kata Lolita memotong ucapan panjang Alea dan sukses membuat Zaldi tersedak.
"Emang anak bisa dibikin?"
Zaldi benar-benar terkejut dengan pertanyaan Alea hingga terbatuk, Alea yang mendengarnya langsung menyodorkan air pada Zaldi. "Makan itu baca do'a, Kak. Biar nggak diganggu setan," kata Alea.
Lolita semakin tertawa mendengar perkataan demi perkataan yang keluar dari mulut Alea. Menantunya ini sangat lucu dan menggemaskan. Apalagi Zaldi yang sempat tersedak membuatnya semakin terbahak.
"Aduh, ayah kamu bener-bener sukses ngerawat dan ngejaga kamu, Lea. Mama salut deh,"
Alea hanya tersenyum. Ia kembali melanjutkan makannya dan sepertinya Alea lupa akan topik pembicaraan tadi.
Sampai mereka selesai makan, dan Alea yang hendak mencuci piring namun dilarang oleh Zaldi. "Lea, biar entar Bi Darsih aja yang cuci. Kamu kan mau ngerjain tugas. Cepet,"
Alea mengangguk, ia mengikuti langkah Zaldi yang menuntunnya menuju kamar. Ketika sudah di dalam kamar, Alea dibuat terkejut ketika Zaldi menggenggam tangannya dan memojokkannya di dinding.
"Kak--ehh.. Mas Zaldi mau ngapain?"
Alea sangat gugup ketika Zaldi hanya menatapnya seraya tersenyum miring, matanya sayu seperti memohon.
"Kenapa?" tanya Alea lagi. Ia mulai ketakutan.
"Kapan kamu bakal siap?" Zaldi berbalik tanya tentang Alea.
"Siap buat apa?"
Zaldi mendekatkan mulutnya ke telinga Alea. "Bikin anak,"
Dan selanjutnya hanya Zaldi, Alea, dan Allah yang tau.
***
Alea meringis ketika ia selesai mandi. Benar-benar menyakitkan karena Zaldi berbuat seenaknya padanya. Tidak memikirkan hal lain tentang Alea.
Meski begitu, pipi gadis itu kian merona mengingat kejadian beberapa saat yang lalu ia bersama Zaldi. Aish sudahlah!
Ketika Zaldi sudah keluar dari kamar mandi. Alea memalingkan wajahnya karena kesal, ia tak ingin menatap Zaldi. Kecuali Zaldi mau membelikannya eskrim.
"Marah? Hm?" tanya Zaldi seraya mengusap rambut Alea yang masih basah.
Alea hanya diam dengan bibir yang mengerucut lucu. Zaldi terkekeh sejenak. "Tapi kamu keenakan tuh!" tangannya terus menerus mencolek pipi Alea.
"Ish! Lea marah sama kakak! Katanya ngerjain tugas, tapi malah gitu. Nanti aku laporin ke Ayah!" gertak Alea yang malah membuat Zaldi tertawa karena Alea yang kesal kembali menyebutnya kakak.
"Ya, kamu inget kata Mama? Harus ngelaksanain tugas ke suami juga," Zaldi mengusap-usap rambut indah Alea.
"Tapi kan Alea belum siap dan nggak ada komitmen sama sekali dari kakak!" Alea menunduk agar ia tidak marah pada Zaldi. Meremas baju putih bergambar minion itu dengan kuat. Kaki mulusnya hanya dibalut celana kolor kebesaran milik Zaldi.
"Alea dengerin aku. Nggak baik menolak suami dengan alasan yang tidak Syari'i. Malaikat akan melaknat hingga shubuh. Ada haditsnya. Kamu nggak mau dosa kan?" ucapan Zaldi akhirnya sukses membuat Alea menoleh dan menatapnya. Meski dengan tangan yang masih mencengkeram bajunya gadis itu sedikit memiringkan tubuhnya agar bisa menghadap Zaldi.
"Kamu dapet pahala karena kamu udah bikin Mas seneng. Jangan takut, bilang ke Mas kalo ada yang sakit," Zaldi memeluk tubuh itu dan mengusap rambut wangi Alea.
"Maafin Lea, mas," kata Lea lirih. Ia membalas memeluk Zaldi.
"Nggak apa-apa, Lea. Udah jangan nangis. Mau eskrim?"
Tentu saja ia tak akan menolak, Zaldi melepaskan pelukannya. "Tunggu, ya. Mas ambil dulu eskrimnya," kata Zaldi kemudian bangkit meninggalkan kamar.
Ini sudah hampir waktu ashar. Dan Alea mengantuk karena lelah. Dengan hati-hati ia merebahkan tubuhnya di kasur kemudian memejamkan matanya.
Tak lama Zaldi kembali dengan membawa semangkuk eskrim. "Alea.. Ini eskrimnya," Alea kembali membuka matanya dan tersenyum lebar melihat eskrim coklat stroberi yang dibawa oleh suaminya.
"Aku suka coklat dan stroberi, hehehe," kekehnya seraya mengambil sendok dan menyuapkan sedikit ke mulutnya. Rasa coklat langsung melelehkan otaknya yang tadi sempat panas menahan emosi.
"Nggak suka aku dong?" tanya Zaldi seraya terkekeh.
"Suka juga," jawab Alea refleks. Dan mampu membuat Zaldi tertawa.
Alea ikut tertawa, ia mencium pipi kiri Zaldi sekilas. "Ajarin aku banyak hal positif buat jadi istri yang baik ya, soalnya aku nggak ngerti gimana,"
"Itu udah jadi kewajiban aku, Lea. Sekarang kamu pake kerudung. Kita ke rumah kamu buat nyelesain tugas kuliah," kata Zaldi seraya mengusap kepala Alea.
"Aku abisin eskrimnya duluuuuu.." katanya merajuk.
Zaldi tersenyum dan mengangguk membiarkan Alea hanyut bersama rasa enak dari eskrim coklat dan stroberi itu. Beberapa saat berlalu, Alea menyimpan mangkuk eskrim dan menatap Zaldi dengan senyum manisnya.
"Enak banget tau, kak," katanya.
Zaldi tertawa. "Belepotan banget anak kecil makannya," Zaldi mencubit hidung Alea dan mengambil tisu di nakas.
Sementara wanita yang dicubit itu hanya meringis menahan sakit di hidungnya.
Zaldi mengusap daerah bibir Alea dengan tisu untuk membersihkannya. Ia segera menarik istrinya agar berdiri setelah membersihkan sisa eskrimnya.
"Ganti baju, aku tunggu di bawah,"
"Okay,"
***
Faiq tersenyum lembut menatap Atika. Menantunya itu tengah membawakannya teh hangat kesukaannya.
"Ayah.. Ini teh manis buat buat ayah. Diminum, ya," kata Atika seraya menyimpan teh di meja depan ayah mertuanya.
"Terimakasih, Atika. Irzan mana? Dari siang ayah nggak ngeliat dia," tanya Faiq.
"Dia lagi ngurusin surat pindah, ayah." Atika ikut duduk di samping Faiq.
"Ayah jangan sedih, ya. Lea kan udah pindah sama suaminya. Dan Irzan sama Atika mau pindah. Maafin Tika ya, Ayah. Kalo misalkan kesannya Tika ninggalin Ayah. Tapi ini cita-cita Tika dapet beasiswa di Jepang dan udah terwujud. Dan kebetulan Irzan pengen urus perusahaan ayah yang ada di Jepang. Maaf ya, ayah " ucap Atika tulus seraya menggenggam tangan mertuanya.
"Ayah udah kayak Ayah Atika sendiri. Tika sayang sama ayah," lanjutnya.
Faiq tersenyum. "Nggak apa-apa, Tika. Justru ayah seneng banget cita-cita kamu terwujud dan Irzan ada keinginan untuk melanjutkan perusahaan ayah. Biar di Indonesia ayah yang urus. Kamu jaga diri baik-baik di sana. Tetap jadi muslimah yang baik dan berbakti terhadap suami. Tetap gunakan hijab kamu. Berbaur dengan culture tapi kamu harus punya prinsip teguh tentang apa yang kamu percaya sekarang," nasihat Faiq pada menantunya.
Atika yang memang seorang yatim piatu pun merasa senang seperti merasakan kehadiran sosok ayahnya. "Iya, ayah. Terima kasih atas nasihat ayah. Tika bakal selalu inget itu,"