Selama perjalanan, Dirgo hanya bisa terdiam. Di tambah lagi, ia baru saja mendapatkan bentakan yang begitu melinting di telingannya dari seorang Natan. Bentakan yang tak bisa ia jawab, karena sekali ia menjawabnya, maka urusannya akan semakin panjang. Biasanya setiap kali ada sesuatu yang terjadi di antara mereka, Rendralah yang menjadi penengahnya. Namun kali ini, Rendra memilih diam dan memikirkan masalahnya sendiri, masalah tentang kemiripan Alea dan Adelia yang membuat kepalanya pusing tujuh keliling. Dengan mengumpulkan banyak keberanian, Dirgo mencoba membuka suara. Ia tak ingin masalah yang baru saja ia perbuat berlarut-larut dan berujung keretakan dalam persahabatan mereka. "Tan, salah aku apa sih Tan? Aku hanya bertanya tapi seolah aku melakukan kesalahan yang sangat fatal" uca

