Keheninga mulai menyelimuti mereka, namun Natan masih tetap memandangi kedua sahabatnya itu. Sementara Dirgo dan Rendra, saling adu pandang tanpa ada satupun di antara mereka yang berbicara. Bruk... Kembali lagi meja di hadapan mereka di gebrak, membuat Natan dan Dirgo mulai jengkel, namun mereka masih tetap memilih untuk tetap duduk di tempat duduknya. "Hei bocah ingusan s*alan, beraninya kalian berisik sekali di hadapan ku" teriak pria berbadan besar yang menggebrak meja itu. "Hei, ini tempat umum. Ini bukan rumah mu yang seenak jidat mu bisa mengatur kami, kalau kami berisik atau bicara pakai toak sekalipun, itu bukan urusan mu. Jadi sebaiknya kamu pergi dan tinggalkan kami, kami masih ingin menikmati malam kami, jangan mengganggu kami, oke?" jawab Dirgo. Ya, dialah yang selalu menc

