“Jadi benar, kamu nggak bisa tidur dengan nyaman karena di kamar hotel kamu ada hantunya?” senin pagi, di saat sarapan bersama, Ilham bertanya pada anak perempuannya, yang mengaku lebih cepat kembali dari staycation karena tidak nyaman dengan kamar hotelnya. Dan tiap kali Aya harus berhadapan dengan kedua orang tuanya seperti ini, rasa bersalah pasti menerpa benaknya. Dia berharap, semoga tetap bisa menjadi anak tunggal kebanggaan Papa dan Mama, Aya berharap sampai kapanpun orang tuanya tidak akan pernah mengetahui betapa berdosa dan kotor dirinya. “I-iya… Pa. Nggak nyaman banget pokoknya, ada pengganggu. Aku nggak bisa tidur nyenyak.” Padahal, dibandingkan dengan hantu, pengganggu yang Aya maksud malam itu, jauh lebih menyeramkan dibanding segala-galanya. “Aku nyesal staycation, Pa…” li

