Waktu terasa melambat bagiku, sejak Kafka mengumumkan kedatangan kedua orangtuanya nanti. Secara resmi, melamarku. Tak kupungkiri, jutaan kupu - kupu seperti memenuhi perutku. Gugup, khawatir, tak percaya diri menyerangku bertubi - tubi. Aku sudah mendiskusikan dengan Kafka mengenai pekerjaan, dan dia memintaku untuk tidak bekerja lagi. Jadi, hari ini aku mengunjungi Oryza untuk meminta maaf karena menarik kembali lamaranku tempo hari di Next! Oryza maklum dan mengerti keadaanku. Saat sedang menunggu lift untuk turun ke lantai satu, aku bertemu mas Prima yang juga baru selesai meeting di Next! "Sendiri saja?" Tanya mas Prima ramah. "Iya Mas, Kafka ada wawancara di Stasiun Televisi-nya. Ini Naya mau kesana." Jawabku, dan aku memang berencana menyusulnya sekarang. "Oh. Mas juga mau ke g

