Hari yang mendebarkan datang. Sejak kemarin aku dikurung ayah dalam rumah, dilarang pergi kemanapun. Winda dan mbak Kiki sudah memasakkan banyak menu untuk tamu kami. Kafka mengirim pesan, jam sepuluh akan berada disini. Jam terasa mempermainkan jantungku. Degupnya semakin bertalu - talu setiap jarum jam bergerak ke kanan. Ya ampun, ini baru lamaran. Mbak Astrid berdiri di pintu kamarku, memandang wajahku dan tersenyum. "Adek belum dandan?" "Mbak aku deg - degan banget ini." Mengambil kipas, aku mengipasi wajahku yang mulai keringetan. "Hihihi, I feel you Dek. Sini Mbak bantu dandan." Mbak Astrid berdiri di hadapanku, parfume Issey Miyake-nya hinggap di hidungku. Melihat hijab mbak Astrid yang terpasang anggun, hatiku berdesir. Sejak lama ayah memintaku mengenakan hijab, tapi hatiku

