Lima Puluh Tiga

1221 Kata

Terbangun dengan hidung tersumbat dan mata bengkak, aku kembali mengingat apa yang terjadi pada aku dan Kafka kemarin. Seketika hatiku kembali sesak. "Dek, sudah bangun belum? Buka pintunya, ayah mau ngomong." Suara ayah di balik pintu membuatku terkesiap. Bercermin, dan kulihat wajahku telah sembab. Aku mencuci muka ingin menghilangkan sisa - sisa airmata kemarin, tapi sia - sia. "Dek!" Ayah mengetuk kembali pintu kamarku. Menyerah, aku membuka pintunya. "Yaa Allah, Dek." Memeluk ayah, aku kembali menangis. "Sstt, dibicarain baik - baik ya. Kafka ada di bawah. Ayah sudah tahu, ikut turun ya?" Aku menggeleng, bayangan Kafka yang sedang melayangkan laptop di atas kepalaku memenuhi benakku. Hatiku dicengkram ketakutan yang sangat. "Sstt ada ayah, ganti baju dulu sana." Berbalik aku m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN