Mas Prima sedang mengobrol dengan bang Tegar di teras. Dia tersenyum padaku dan bertanya tentang keadaanku. "Baik mas, alhamdulillah." Jawabku. "Btw, maaf mas jadi balik lagi karena nganter aku kemarin." "Oh itu, its okay. Mau ke tempat Kafka juga sebenarnya, tapi lihat kamu kemarin mas urung lanjut. Pasti Kafka lagu kacau juga." Aku tersenyum segaris. Bang Tegar masuk meninggalkan kami berdua. "Kayaknya kita selalu ketemu setiap kamu habis konflik dengan Kafka." "Kebetulan." "Kamu..uhm..bahagia?" Tanya mas Prima tiba - tiba. Tanpa ragu aku menjawab, "ya. Kafka selalu membuat aku merasa nomor satu. Saat dia melakukan kesalahan yang dia gak sadar pun, dia gak tenang sebelum mendapatkan maaf." "Sejak kapan?" Aku melihat mata mas Prima, bertanya maksud pertanyaannya barusan. "Sejak

