Sepulang dari kantor mbak Resti, kami mampir ke CRAP. Gedung CRAP yang sebelumnya kulihat tampak melompong karena isi kantor yang masih sedikit kini mulai tampak sempit, apalagi dengan bagian percetakan majalah yang sudah disatukan mas Prima dengan team jurnalis, editor dan lainnya. Agak terlalu sesak menurutku sekarang. "Eehh ada calon pengantin." Farhan menyambut kami di depan ruang cetak. "Apa kabar, Han?" Aku mengulurkan tangan sambil tersenyum menanggapi candaannya. "Baik alhamdulillah, kok masih jalan - jalan? Belum dipingit?" "Rabu katanya." Jawab Kafka. "Sebentar ya, seminggu aja?" "Dua minggu, coeg." Balas Kafka lagi. "Biasa aja dong, sensitif banget yang mau ijab. Udah hapal belum lo Kaf?" "Sudah dong, tinggal latihan nyebut nama bokapnya. Ribet bray." Aku menepuk punggu

