Lima Puluh Delapan

1530 Kata

Kisah Kafka akan menjadi teman tidurku mulai sekarang. Siapa sangka seorang Kafka pernah mengalami kesulitan hidup seperti itu. Jelas, pribadi Kafka yang sekarang adalah hasil dari tempaan hidupnya di masa lalu. "Voila! Seblak macaroni ala Chef Kafka Rauf telah siap. Silahkan ibu Negara mencicipi, keracunan pesona Chef ditanggung sepenuhnya oleh saya." Aku tertawa melihat gaya Kafka yang menirukan chef ala - ala dengan buntut kenarsisannya yang tiada tara. "Enak?" Tanya Kafka begitu aku mencicipi karyanya. "Kurang apa ya?" "Kurang apa?" Kafka melihatku dengan seksama. "Kurang---uhm---cinta." Damn! Aku gak bisa ngegombal. Kurasakan wajahku memanas. "Eehh, dia mau ngerayu abang." Goda Kafka dengan suara rendah, yang membuat bulu roma di tengkukku merinding. "Hahaha. Enak. Enak." Puj

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN