gadis kesayangan mafia
BAB 1 – PERTEMUAN YANG MENGUBAH TAKDIR
Desa kecil itu selalu damai. Langit biru membentang luas, angin berhembus lembut, dan hijaunya sawah terbentang sejauh mata memandang. Di sinilah, seorang gadis bernama Alya menjalani kehidupannya. Ia gadis sederhana, lembut dalam tutur kata dan perbuatan, tetapi memiliki keberanian yang tak terduga.
Alya tinggal bersama neneknya di sebuah rumah kayu kecil yang hangat. Sehari-hari, ia membantu neneknya berjualan kue di pasar dan sesekali bekerja di perpustakaan desa. Hidupnya mungkin sederhana, tapi ia bahagia.
Namun, takdir memiliki rencana lain.
Kedatangan Pria Misterius
Hari itu, Alya sedang berjalan pulang dari pasar. Matahari hampir tenggelam, sinarnya yang keemasan menyapu jalanan berbatu yang ia lalui. Ia menggendong keranjang berisi beberapa bahan makanan, tersenyum kecil ketika mengingat neneknya yang pasti akan senang melihat bahan-bahan segar ini.
Namun, saat melewati sebuah gang kecil yang sepi, langkahnya terhenti. Beberapa pria berjas hitam berdiri di ujung gang, wajah mereka penuh ketegangan. Alya tidak mengenali mereka, tetapi instingnya mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi.
Dan benar saja.
Dari dalam sebuah mobil hitam yang terparkir di dekat sana, seorang pria keluar. Langkahnya tenang, tapi aura mengancam mengelilinginya seperti bayangan gelap. Ia tinggi, berpakaian serba hitam, dengan tatapan dingin yang seakan mampu membekukan siapa pun yang berani menantangnya.
Reihan Valerio.
Nama itu tidak dikenal oleh warga desa, tetapi di luar sana, di dunia yang jauh lebih gelap dari yang bisa dibayangkan Alya, nama itu adalah mimpi buruk.
Mafia berdarah dingin. Kejam. Tak pernah mengenal belas kasihan.
Dan sekarang, pria itu berdiri tepat di depannya.
Alya menegang, jantungnya berdegup lebih cepat. Namun, ia tidak mundur. Ia hanya menatap pria itu dengan sorot mata tenang, meski tubuhnya mulai merasakan ketegangan di udara.
Reihan mengamati Alya dengan tatapan tajam. Seolah sedang menilai sesuatu dalam dirinya. “Kau yang bernama Alya?” suaranya dalam dan dingin, seperti angin yang berhembus di tengah malam.
Alya mengerutkan kening. “Siapa Anda?” tanyanya lembut, tapi jelas.
Pria itu tersenyum tipis—bukan senyuman yang ramah, melainkan senyum yang penuh dengan sesuatu yang sulit ditebak. “Aku bertanya lebih dulu.”
Alya menggenggam erat keranjang di tangannya. “Ya, saya Alya. Tapi saya tidak mengenal Anda.”
Reihan mengangguk kecil. “Bagus. Sekarang kau mengenalku.”
Sebelum Alya bisa bertanya lebih lanjut, pria itu mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat pada anak buahnya. Dan dalam sekejap, dua pria berjas hitam bergerak cepat.
Mereka meraih lengan Alya.
Diculik!
Alya tersentak. “Apa-apaan ini?! Lepaskan saya!”
Namun, genggaman mereka terlalu kuat.
Tanpa berpikir panjang, Alya mengayunkan keranjang di tangannya, menghantam salah satu pria itu tepat di bahu. Pria itu sedikit terhuyung, cukup untuk membuat Alya menarik lengannya dan mencoba melarikan diri.
Tapi sebelum ia bisa melangkah lebih jauh, sesuatu menahannya.
Sebuah tangan dingin mencengkeram pergelangan tangannya.
Reihan.
Pegangannya tidak kasar, tetapi cukup kuat untuk menghentikan Alya. Matanya yang tajam menatap lurus ke dalam mata gadis itu. “Kau berani.”
Alya menelan ludah. Ia ingin berteriak, tapi entah kenapa, suaranya tercekat. Tatapan pria ini begitu dalam, begitu menusuk. Seakan bisa membaca setiap ketakutan yang ia coba sembunyikan.
“Saya tidak tahu siapa Anda dan apa yang Anda inginkan, tapi—”
“Sshh…” Reihan menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya sendiri, menyuruhnya diam. “Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan. Yang perlu kau tahu hanyalah… kau milikku sekarang.”
Mata Alya melebar. “Apa?!”
Sebelum ia bisa melakukan apa pun, tubuhnya diangkat dengan mudah. Reihan menggendongnya ke dalam mobil, seakan ia tidak lebih berat dari selembar kertas.
“Apa yang Anda lakukan?! Lepaskan saya!” Alya meronta, meninju d**a pria itu. Tapi pria itu hanya menghela napas seolah lelah menghadapi gadis keras kepala ini.
“Kau akan tahu nanti,” gumamnya, sebelum pintu mobil tertutup, mengunci Alya dalam kegelapan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Dunia yang Berbeda
Alya tidak tahu berapa lama perjalanan itu berlangsung. Ia mencoba menghafal jalan, tetapi mobil bergerak terlalu cepat. Ia juga mencoba membuka pintu, tapi terkunci.
Reihan duduk di sebelahnya, terlihat tenang. Matanya tertutup, seolah mengabaikan semua perlawanan Alya.
“Kau mau apa dari saya?” Alya akhirnya bertanya dengan suara gemetar.
Pria itu membuka matanya. “Kau akan tahu.”
Hanya itu jawabannya.
Alya ingin berteriak frustrasi, tapi ia tahu itu tidak akan mengubah apa pun.
Saat mobil akhirnya berhenti, Alya mendapati dirinya berada di sebuah rumah besar. Atau lebih tepatnya, mansion megah yang terlihat seperti kastil.
Ketika pintu terbuka, Alya langsung disambut oleh pemandangan ruangan luas dengan langit-langit tinggi, lampu kristal berkilauan, dan kesan mencekam yang sulit dijelaskan.
Reihan melangkah keluar lebih dulu, lalu menoleh ke arahnya. “Turun.”
Alya menggigit bibirnya. “Tidak. Saya tidak akan ikut dengan Anda.”
Reihan menghela napas panjang. “Jangan buat aku mengulangnya.”
Alya menatapnya tajam. Ia mungkin lemah lembut, tapi bukan berarti ia akan menyerah begitu saja.
Namun, sebelum ia bisa mengatakan apa pun lagi, tubuhnya kembali diangkat dengan mudah.
Reihan membawanya masuk ke dalam mansion, seolah ia hanya sekadar membawa boneka.
Kesepakatan yang Mengerikan
Alya ditempatkan di sebuah ruangan yang luas, dengan jendela besar dan ranjang empuk. Tidak ada jeruji, tetapi ia tahu ia tidak bebas.
Reihan menatapnya, lalu berjalan mendekat. “Mulai sekarang, kau akan tinggal di sini.”
Alya menatapnya dengan marah. “Kenapa? Apa yang Anda inginkan dari saya?”
Reihan tersenyum kecil, tapi tidak ada kehangatan di sana. “Sederhana saja… Aku ingin kau menjadi milikku.”
Jantung Alya hampir berhenti berdetak.
“Apa?” bisiknya, hampir tidak percaya.
Reihan mendekat, matanya tajam seperti elang yang mengamati mangsanya. “Aku tidak suka mengulang kata-kataku.”
Alya merasa tubuhnya menegang. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi, tetapi satu hal yang pasti…
Hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
---
PERTEMUAN YANG MENGUBAH TAKDIR (Lanjutan)
Alya berdiri di tengah ruangan luas itu, jantungnya masih berdegup kencang. Semua yang terjadi begitu cepat—terlalu cepat. Sehari yang dimulai dengan kedamaian di desa, kini berubah menjadi mimpi buruk yang bahkan tak pernah ia bayangkan.
Ia menatap Reihan dengan mata membelalak. “Anda gila,” katanya dengan suara gemetar, tetapi tetap berusaha terdengar tegas.
Pria itu hanya menyeringai tipis. “Mungkin.”
Alya mengepalkan tangan. Ia ingin melawan, ingin berteriak, tetapi ia tahu itu tidak akan mengubah apa pun. Ia sendirian di tempat asing, dikelilingi orang-orang yang jelas lebih kuat darinya.
Namun, itu tidak berarti ia akan menyerah begitu saja.
Pelarian yang Gagal
Alya melangkah mundur, matanya menyapu ruangan. Jendela besar ada di sisi kiri, tirai putih yang menjuntai ke lantai berayun pelan diterpa angin dari sela-sela kaca.
Itu satu-satunya jalan keluar yang terlihat.
Reihan sepertinya menyadari niatnya, tetapi ia tetap diam, hanya mengamati dengan mata tajam yang penuh ketertarikan.
Alya tidak menunggu lebih lama. Ia berbalik dan berlari menuju jendela. Dengan cepat, ia menarik tirai ke samping dan mencoba membuka kuncinya.
Namun, sebelum sempat melompat keluar—
Brakk!
Sebuah tangan kuat menghantam kaca tepat di samping kepalanya.
Alya tersentak, tubuhnya membeku seketika. Nafasnya memburu saat ia menyadari siapa yang berdiri di belakangnya.
Reihan.
Terlalu cepat. Terlalu dekat.
Pria itu berdiri hanya beberapa inci darinya, cukup dekat hingga Alya bisa merasakan kehangatan tubuhnya yang kontras dengan aura dinginnya.
“Apa kau pikir bisa lari dariku?” suaranya terdengar pelan, tetapi penuh ancaman.
Alya menelan ludah. “Saya tidak akan tinggal di sini.”
Reihan menundukkan kepalanya sedikit, mendekatkan wajahnya ke arah Alya. Matanya meneliti ekspresi gadis itu, seolah mencari sesuatu. “Kau gadis yang cerdas, Alya. Tapi ada satu hal yang perlu kau pahami…”
Tiba-tiba, tangannya terangkat dan dengan lembut menyentuh dagu Alya, memaksanya menatap langsung ke dalam mata gelapnya.
“…Aku tidak pernah membiarkan apa yang menjadi milikku pergi begitu saja.”
Alya merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya. Ada sesuatu dalam tatapan pria itu yang membuatnya sulit bernapas.
Ketakutan?
Atau sesuatu yang lebih menakutkan dari itu?
Tawaran yang Tidak Bisa Ditolak
Reihan akhirnya menjauhkan tangannya, membiarkan Alya mengambil langkah mundur. “Duduk,” katanya, menunjuk ke sofa besar di ruangan itu.
Alya tetap berdiri, menolak mengikuti perintahnya begitu saja.
Reihan mengangkat alis, lalu dalam satu langkah cepat, ia menarik tangan Alya dan mendorongnya duduk dengan mudah.
“Kau ingin tahu kenapa kau ada di sini?” tanyanya dengan nada yang lebih lembut, tetapi tetap berbahaya.
Alya menatapnya tajam. “Kenapa Anda menculik saya?”
Reihan menatapnya dalam, seolah menimbang sesuatu. Lalu, setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, ia akhirnya berbicara.
“Ada banyak hal yang tidak kau ketahui tentang dirimu sendiri, Alya.”
Gadis itu mengernyit. “Apa maksud Anda?”
Reihan menyandarkan tubuhnya ke sofa, menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak. “Kau adalah bagian dari kesepakatan lama. Dan aku di sini untuk mengambil hakku.”
Jantung Alya mencelos. “Kesepakatan apa?”
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum samar, seolah menikmati kebingungan gadis itu.
“Kau akan mengetahuinya… cepat atau lambat.”
Alya mengepalkan tangannya. Ia tidak mengerti apa yang pria itu bicarakan, tetapi satu hal yang pasti—hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Dan itu semua karena Reihan Valerio.