BAB 2 – RAHASIA YANG TERSEMBUNYI
Alya duduk diam di sofa, pikirannya penuh dengan pertanyaan yang tak memiliki jawaban. Napasnya masih belum teratur setelah upayanya melarikan diri gagal total. Reihan duduk di hadapannya dengan ekspresi santai, seolah tak terjadi apa-apa.
Tatapan pria itu begitu tajam, menusuk langsung ke dalam dirinya. Alya ingin mengalihkan pandangan, tetapi ada sesuatu dalam mata Reihan yang membuatnya sulit berpaling.
“Apa yang Anda maksud dengan kesepakatan lama?” tanyanya akhirnya, suaranya terdengar lebih tegas dari yang ia kira.
Reihan tidak langsung menjawab. Ia mengamati Alya seolah sedang mempertimbangkan apakah gadis itu sudah siap mendengar kebenaran atau belum. Setelah beberapa saat, ia bersandar ke sandaran sofa dan mulai berbicara.
“Dua puluh tahun yang lalu, keluargamu berhutang sesuatu pada keluargaku,” katanya tenang. “Dan sekarang, aku mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku.”
Alya mengernyit. “Keluarga saya? Saya bahkan tidak mengenal Anda. Bagaimana mungkin keluarga saya memiliki urusan dengan Anda?”
Reihan menyeringai kecil, seolah jawaban itu sudah ia duga. “Itu karena mereka tidak pernah memberitahumu.”
Alya merasa dadanya sesak. Bagaimana mungkin keluarganya terlibat dengan pria ini? Keluarganya hanyalah orang biasa di desa kecil, bukan bagian dari dunia gelap yang jelas-jelas dimiliki Reihan.
“Saya hanya tinggal dengan nenek. Saya tidak punya siapa-siapa lagi,” katanya dengan nada menantang.
Reihan menatapnya lama sebelum akhirnya berkata, “Kau masih terlalu polos, Alya.”
Kata-kata itu membuat Alya merasa semakin frustasi. Ia tidak suka diperlakukan seolah ia hanyalah seorang gadis kecil yang tidak tahu apa-apa.
Sebuah Nama dari Masa Lalu
Tiba-tiba, Reihan mengambil sesuatu dari sakunya—sebuah foto lama yang sudah sedikit menguning. Ia meletakkannya di meja di antara mereka.
Alya menatap foto itu dengan perasaan bercampur aduk. Di dalamnya, ada seorang pria dan wanita muda yang sedang tersenyum ke arah kamera. Dan di antara mereka… ada seorang bayi kecil.
Jantung Alya berdetak lebih cepat. Ia mengenali wanita itu.
Ibunya.
Dengan tangan gemetar, ia mengambil foto itu. “Dari mana Anda mendapatkan ini?” tanyanya dengan suara bergetar.
Reihan tidak menjawab secara langsung. “Pria di sebelahnya adalah ayahmu,” katanya.
Alya menatap pria yang ada di foto itu. Wajahnya tampan dan memiliki sorot mata yang hangat. Ia hampir tidak memiliki ingatan tentang ayahnya karena ia meninggal saat ia masih kecil.
“Tapi apa hubungannya dengan Anda?”
Reihan menghela napas seolah pertanyaan itu terlalu mudah. “Ayahmu memiliki hutang yang tidak bisa ia bayar. Sebagai gantinya, ia membuat kesepakatan dengan keluargaku.”
Alya merasakan hawa dingin menjalar ke tubuhnya. “Kesepakatan apa?”
Reihan menatapnya dalam. “Kau.”
Alya membeku.
“Kau adalah bagian dari kesepakatan itu, Alya. Sejak kau lahir, kau sudah menjadi milikku.”
Takdir yang Tak Bisa Dihindari
Alya merasa tubuhnya melemah. Ia ingin mengatakan bahwa semua ini tidak masuk akal. Bahwa ini adalah kebohongan. Tapi di dalam hatinya, ia tahu Reihan tidak berbohong.
“Tapi… tapi ini gila. Saya bukan barang yang bisa diperjualbelikan!” katanya dengan marah.
Reihan menyeringai tipis. “Aku tidak pernah bilang kau barang. Tapi kau milikku. Itu tidak bisa diubah.”
Alya bangkit dari sofa, matanya menyala dengan kemarahan. “Saya tidak peduli dengan kesepakatan bodoh itu! Saya punya hidup saya sendiri!”
Reihan ikut berdiri, langkahnya mendekat hingga hanya beberapa inci dari Alya. Ia menundukkan kepalanya sedikit, wajah mereka begitu dekat hingga Alya bisa merasakan napasnya.
“Kau pikir aku akan melepaskanmu?” bisiknya.
Alya menelan ludah, tubuhnya menegang. Tapi ia tetap berusaha mempertahankan keberaniannya.
“Saya tidak akan pernah menerima ini,” katanya tegas.
Reihan menatapnya lama sebelum akhirnya tersenyum kecil. Tapi senyum itu sama sekali tidak memberi rasa nyaman.
“Kita lihat saja nanti.”
Alya merasakan hawa dingin menjalar ke tubuhnya. Ia tahu satu hal—pria ini tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.
Dan mungkin… hidupnya memang tidak akan pernah sama lagi.
BAB 2 – RAHASIA YANG TERSEMBUNYI (Lanjutan)
Alya berdiri mematung, pikirannya kacau oleh kenyataan yang baru saja ia dengar. Sejak lahir, ia sudah menjadi milik pria ini? Tidak. Itu tidak masuk akal.
Dengan napas memburu, ia menggeleng kuat. “Saya tidak percaya. Ayah saya bukan tipe orang yang akan melakukan kesepakatan gila seperti itu!”
Reihan tetap tenang, ekspresinya nyaris tidak berubah. “Percaya atau tidak, itu tidak akan mengubah kenyataan.”
Alya mengepalkan tangannya. Ia ingin berteriak, ingin melawan, tetapi ia tahu tidak akan ada gunanya. Ia sendirian di tempat ini, di dunia yang jelas bukan miliknya.
Matanya beralih ke jendela besar di ruangan itu. Haruskah aku mencoba kabur lagi? Tapi ia sudah melihat sendiri bagaimana cepatnya Reihan bergerak. Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat.
Ia mengalihkan pandangan kembali pada pria itu. “Kalau benar saya bagian dari kesepakatan itu, kenapa baru sekarang Anda menculik saya?”
Reihan menyeringai kecil. “Karena aku baru menemukanku sekarang.”
Alya mengernyit. “Apa maksud Anda?”
Pria itu berjalan menuju jendela, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Ia menatap langit malam yang mulai gelap, seolah berbicara pada dirinya sendiri. “Aku sudah mencarimu selama bertahun-tahun. Tapi keluargamu cukup pintar untuk menyembunyikanmu.”
Alya membeku. Apakah itu berarti neneknya tahu tentang semua ini?
“Tidak mungkin…” gumamnya tanpa sadar.
Reihan berbalik, menatapnya tajam. “Kau bisa bertanya pada nenekmu sendiri, kalau kau tidak percaya.”
Alya merasakan hawa dingin menjalar ke tubuhnya. Jika neneknya benar-benar tahu… mengapa beliau tidak pernah mengatakan apa pun padanya?
Perlawanan yang Sia-sia
Alya menarik napas panjang, mencoba mengendalikan emosinya. Ia tidak bisa membiarkan pria ini menang begitu saja.
“Baiklah,” katanya, berusaha terdengar tenang. “Jika saya memang milik Anda… apa yang Anda inginkan dari saya?”
Reihan tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak memberi jawaban yang diinginkannya.
“Kau akan tinggal di sini. Mulai sekarang, ini rumahmu.”
Alya menatapnya tidak percaya. “Rumah? Anda pikir saya akan menerima ini begitu saja? Saya punya kehidupan saya sendiri! Saya punya nenek, saya punya teman, saya punya—”
“Kau tidak punya pilihan.”
Alya terdiam.
Reihan melangkah mendekat, membuat Alya mundur tanpa sadar. Tapi langkahnya terhenti ketika punggungnya menyentuh dinding.
Pria itu berdiri tepat di depannya, begitu dekat hingga aroma maskulin yang tajam memenuhi indra penciumannya.
“Aku tidak peduli seberapa keras kau menolak,” katanya dengan suara rendah. “Kau tetap akan menjadi milikku.”
Alya merasa tubuhnya menegang. Matanya menatap langsung ke dalam mata pria itu, mencoba mencari celah.
Ia mengangkat dagunya sedikit. “Saya tidak akan pernah menjadi milik Anda.”
Reihan menatapnya lama, lalu tiba-tiba tertawa kecil. “Kau keras kepala.”
Alya hanya diam, tidak mau memberikan reaksi apa pun.
Lalu, tanpa peringatan, Reihan mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Alya. Gadis itu tersentak, tetapi tidak bisa menghindar.
Jari-jarinya dingin, kontras dengan panas yang tiba-tiba menjalar di tubuh Alya.
“Cepat atau lambat, kau akan mengerti,” gumamnya pelan.
Alya menggigit bibirnya, menahan diri untuk tidak bereaksi. Ia tidak akan membiarkan pria ini menang.
Reihan menatapnya sebentar sebelum akhirnya mundur. “Istirahatlah. Kau pasti lelah.”
Alya masih terdiam saat pria itu berjalan keluar dari ruangan. Begitu pintu tertutup, ia langsung jatuh terduduk di lantai, mencoba mengatur napasnya.
Apa yang harus aku lakukan?
Ia tidak bisa menerima ini begitu saja. Ia harus mencari cara untuk melarikan diri.
Tapi satu hal yang pasti…
Reihan Valerio tidak akan membiarkan itu terjadi dengan mudah.
BAB 2 – RAHASIA YANG TERSEMBUNYI (Lanjutan 2)
Alya duduk di tepi ranjang dengan pikiran yang kalut. Semua yang ia ketahui tentang hidupnya, tentang keluarganya, kini terasa seperti kebohongan besar. Apakah benar nenek menyembunyikannya selama ini? Jika ya, mengapa?
Ia menghela napas panjang. Tidak peduli seberapa keras ia mencoba menenangkan dirinya, ia tetap tidak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya kini terikat pada seorang pria asing yang bahkan baru pertama kali ia temui hari ini.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Seorang wanita berusia sekitar 50-an melangkah masuk, mengenakan pakaian formal yang elegan. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya dingin dan penuh wibawa.
“Kau pasti Alya,” katanya dengan suara lembut tapi tegas.
Alya menatapnya waspada. “Siapa Anda?”
Wanita itu tersenyum tipis. “Aku Maria, kepala pelayan di rumah ini. Aku ditugaskan untuk memastikan kau mendapatkan segala yang kau butuhkan.”
Alya menegang. Jadi, sekarang ia punya kepala pelayan? Ini benar-benar seperti mimpi buruk yang tidak pernah ia bayangkan.
“Aku tidak membutuhkan apa pun,” katanya cepat. “Aku hanya ingin pulang.”
Maria tetap tersenyum, tetapi sorot matanya menunjukkan bahwa ia tahu Alya tidak akan mendapatkan keinginannya. “Maaf, Nona. Tapi mulai sekarang, tempat ini adalah rumahmu.”
Alya mengepalkan tangannya. Ia ingin berteriak, ingin marah, tetapi ia tahu itu tidak akan ada gunanya.
“Kau pasti lelah,” lanjut Maria. “Aku sudah menyiapkan pakaian tidur untukmu. Kamar mandi ada di sebelah sana. Jika kau butuh sesuatu, cukup tekan tombol di meja samping tempat tidur.”
Alya tidak menjawab. Ia hanya menatap wanita itu dengan penuh kebencian.
Maria tampak tidak terganggu dengan tatapan itu. Ia hanya membungkuk sedikit, lalu melangkah keluar dari kamar, meninggalkan Alya sendirian.
Rencana Kabur
Begitu pintu tertutup, Alya segera berlari ke jendela. Ia mencoba membukanya, tetapi terkunci rapat. Ia menggigit bibirnya, menatap ke luar. Mansion ini sangat besar, dan di luar hanya ada pekarangan luas dengan pagar tinggi yang tampak mustahil untuk dilewati tanpa ketahuan.
Tapi ia tidak boleh menyerah.
Ia mulai memeriksa setiap sudut kamar, mencari sesuatu yang bisa digunakan. Matanya tertuju pada meja kecil di sudut ruangan. Dengan cepat, ia menghampiri dan membuka laci-lacinya.
Kosong.
Alya merutuk pelan. Ia tidak akan tinggal diam di sini. Bagaimanapun juga, ia harus keluar dari tempat ini.
Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar dari pintu. Alya tersentak dan buru-buru kembali ke ranjang, berpura-pura sedang duduk diam.
Pintu terbuka, dan kali ini yang masuk adalah Reihan.
Pria itu berjalan santai, tetapi aura mengancam tetap melekat pada dirinya. Ia menutup pintu di belakangnya, lalu menatap Alya dengan mata tajamnya.
“Apa kau sudah menerima takdirmu?” tanyanya tenang.
Alya menatapnya dengan penuh kebencian. “Saya tidak akan pernah menerima ini.”
Reihan tersenyum kecil, lalu duduk di kursi yang ada di dekat jendela. “Aku menyukai semangatmu,” katanya. “Tapi kau harus tahu… tidak ada jalan keluar dari sini.”
Alya mengepalkan tangannya. “Kita lihat saja nanti.”
Reihan tertawa kecil, tetapi tawa itu tidak terdengar menyenangkan. “Aku akan menikmati saat kau akhirnya menyerah.”
Alya menegakkan tubuhnya. “Saya tidak akan menyerah.”
Reihan tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menatapnya lama, sebelum akhirnya berdiri dan berjalan menuju pintu.
“Tidur yang nyenyak, Alya,” katanya sebelum pergi.
Pintu tertutup, meninggalkan Alya sendirian lagi.
Tapi kali ini, ia semakin yakin.
Aku harus keluar dari sini… secepat mungkin.