bab 3

1676 Kata
BAB 3 – PELARIAN DI TENGAH MALAM Alya berbaring di ranjang empuk yang seharusnya nyaman, tetapi pikirannya terlalu kacau untuk bisa tidur. Berulang kali ia memikirkan cara untuk melarikan diri, tetapi setiap sudut ruangan ini tampak seperti jebakan yang mengurungnya. Ia menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar. Aku tidak bisa diam saja. Jika aku tidak bertindak sekarang, aku akan terjebak di sini selamanya. Ia bangkit perlahan, berjalan mengendap-endap ke jendela. Tadi ia sudah mencoba membukanya, tetapi tetap terkunci. Kini, ia memeriksa apakah ada sesuatu di kamar ini yang bisa digunakan untuk memecahkannya. Matanya tertuju pada vas bunga kaca di atas meja kecil di sudut ruangan. Ini bisa kugunakan. Namun, sebelum tangannya sempat meraihnya, suara langkah kaki terdengar dari luar kamar. Alya membeku, jantungnya berdetak cepat. Ia segera kembali ke ranjang, berpura-pura tidur. Pintu kamar terbuka, dan ia bisa merasakan seseorang berdiri di ambang pintu. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya pintu tertutup kembali. Alya menahan napas, mendengarkan suara langkah itu menjauh. Mereka mengawasi aku. Ini berarti ia harus lebih hati-hati. Setelah yakin tidak ada yang mengawasinya lagi, ia kembali bangkit. Kali ini, ia berjalan ke kamar mandi, berharap bisa menemukan sesuatu di sana. Matanya berbinar ketika melihat jendela kecil di atas wastafel. Mungkin aku bisa keluar lewat sini. Dengan cepat, ia mencoba membuka jendela itu. Butuh beberapa usaha, tetapi akhirnya jendela itu terbuka sedikit. Sayangnya, ukurannya terlalu kecil untuk dilalui. Alya mendesah frustasi. Aku harus menemukan cara lain. Kesempatan Emas Malam semakin larut, dan suasana di mansion semakin sepi. Alya duduk di tepi ranjang, menunggu waktu yang tepat. Beberapa saat kemudian, ia mendengar suara langkah kaki lagi, tetapi kali ini langkah itu terdengar lebih santai, seolah seseorang sedang berpatroli. Ia menunggu hingga suara itu benar-benar menghilang sebelum akhirnya bangkit dan berjalan menuju pintu. Dengan hati-hati, ia memutar gagangnya. Terkunci. Alya mengutuk dalam hati. Tapi ia tidak akan menyerah. Ia kembali ke meja di sudut ruangan dan menarik keluar jepit rambut dari rambutnya. Mungkin aku bisa mencoba membobol kuncinya. Tangannya sedikit gemetar saat ia memasukkan jepit rambut ke dalam lubang kunci. Ia tidak pernah melakukan ini sebelumnya, tetapi ia pernah melihatnya di film. Beberapa kali ia mencoba, tetapi tidak berhasil. Namun, saat ia hampir menyerah, terdengar suara kecil klik. Matanya membesar. Berhasil! Ia menahan napas dan membuka pintu sedikit, mengintip keluar. Lorong tampak kosong. Ini kesempatannya. Melawan Takdir Dengan langkah hati-hati, Alya keluar dari kamar. Jantungnya berdebar kencang saat ia berjalan menyusuri lorong, mencari jalan keluar. Ia melihat beberapa pintu lain di sepanjang koridor, tetapi ia tidak berani membukanya. Fokusnya hanya satu: menemukan jalan keluar. Saat hampir mencapai ujung lorong, ia melihat tangga yang mengarah ke lantai bawah. Ia menelan ludah, berharap tidak ada yang menunggunya di sana. Namun, sebelum ia bisa melangkah lebih jauh, suara dingin menghentikannya. “Kau pikir bisa kabur dariku, Alya?” Alya membeku. Ia perlahan menoleh dan melihat Reihan berdiri di ujung lorong, menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak. “B-bagaimana…” Alya tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Reihan berjalan mendekat, langkahnya tenang tetapi penuh ancaman. “Aku sudah memperingatkanmu, bukan?” Alya menegakkan tubuhnya, mencoba menyembunyikan ketakutannya. “Saya tidak akan menyerah begitu saja.” Pria itu tersenyum tipis, tetapi tidak ada kehangatan di sana. “Baiklah, kalau begitu…” Dalam sekejap, Reihan bergerak. Alya mencoba berlari, tetapi pria itu jauh lebih cepat. Tangan kuatnya mencengkeram pergelangan tangan Alya, menariknya ke dalam dekapan erat. “Lepaskan saya!” Alya meronta, tetapi sia-sia. Reihan mendekatkan wajahnya, suaranya rendah dan tajam. “Kau harus tahu, Alya… Tidak ada yang bisa lari dariku.” Alya menatapnya dengan penuh kebencian. “Saya tidak takut pada Anda.” Reihan menatapnya lama sebelum akhirnya tersenyum miring. “Kita lihat saja nanti.” Tanpa peringatan, ia mengangkat tubuh Alya dengan mudah dan membawanya kembali ke kamar. “Tidak! Lepaskan saya!” Alya menendang dan memukul, tetapi pria itu tidak terpengaruh. Begitu sampai di kamar, Reihan melemparkannya ke ranjang dengan mudah. “Mulai sekarang,” katanya, menatapnya tajam, “aku akan memastikan kau tidak akan pernah mencoba kabur lagi.” Alya menggigit bibirnya, menahan kemarahan. Ia mungkin gagal kali ini… Tetapi ia tidak akan menyerah. Aku pasti akan menemukan cara untuk bebas. BAB 3 – KEHENINGAN YANG MENCEKIK Alya duduk di tepi ranjang, napasnya masih memburu setelah perjuangannya yang sia-sia. Tangan dan kakinya tidak terikat, tetapi ia tahu benar bahwa kebebasannya hanyalah ilusi. Reihan berdiri di dekat pintu, menatapnya dengan ekspresi tajam yang sulit ditebak. “Seharusnya kau tahu, Alya,” katanya dengan nada dingin, “setiap kali kau mencoba kabur, hukumannya akan semakin berat.” Alya menegakkan tubuhnya, menatap pria itu dengan penuh kebencian. “Kenapa kau melakukan ini? Apa untungnya menahan saya di sini?” Reihan tersenyum tipis, tetapi matanya tetap gelap. “Karena kau milikku.” Kata-katanya membuat jantung Alya berdegup lebih kencang—bukan karena perasaan romantis, tetapi karena ketakutan yang mengendap di dadanya. “Aku bukan barang yang bisa kau miliki,” balas Alya tegas. Reihan mendekat, membuat Alya refleks mundur hingga punggungnya menyentuh kepala ranjang. Pria itu mencondongkan tubuh, menatapnya lekat-lekat. “Aku sudah memberimu banyak kesempatan untuk menerima keadaan ini dengan mudah, Alya. Tapi sepertinya kau lebih suka melawan.” Alya mengepalkan tangannya di atas selimut. “Saya hanya ingin hidup saya kembali.” Reihan menghela napas pelan, lalu meluruskan tubuhnya. “Istirahatlah. Besok, aku ingin kau bersikap lebih baik.” Tanpa menunggu balasan, ia berbalik dan keluar dari kamar, mengunci pintu dari luar. Begitu suara langkahnya menghilang, Alya merosot ke bawah, menatap kosong ke arah pintu. Napasnya gemetar, tetapi otaknya terus bekerja. Aku harus mencari cara lain. Aku tidak akan menyerah. --- Pagi yang Mencekam Sinar matahari masuk melalui jendela, menyinari kamar luas itu. Alya bangun dengan tubuh kaku dan perasaan yang masih kacau. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi hari ini, tetapi satu hal yang pasti—ia tidak akan tunduk begitu saja. Pintu kamar terbuka, dan seorang wanita paruh baya masuk, membawa nampan berisi makanan. “Selamat pagi, Nona Alya,” katanya dengan suara lembut. Alya mengamati wanita itu. Dari seragamnya, jelas ia adalah salah satu pelayan di rumah ini. “Saya tidak lapar,” kata Alya dingin. Wanita itu tersenyum sabar. “Tuan Reihan ingin Anda makan.” Alya mengepalkan tangannya. Tentu saja. Reihan mungkin menganggap dirinya sebagai penguasa atas dirinya, tetapi ia tidak akan menurut begitu saja. “Saya akan makan kalau dia membiarkan saya pergi,” tantangnya. Pelayan itu tampak ragu sejenak sebelum akhirnya berkata, “Saya hanya menjalankan tugas, Nona.” Alya terdiam. Ia tahu wanita itu tidak bersalah. Mengalihkan amarahnya ke pelayan ini tidak ada gunanya. Dengan berat hati, ia akhirnya mengambil sendok dan mulai makan, meskipun tanpa selera. Pelayan itu tersenyum lega sebelum berkata, “Setelah ini, Tuan Reihan ingin bertemu dengan Anda.” Alya menghentikan gerakannya. Ia menelan ludah, tetapi tetap berusaha terlihat tenang. “Baik,” katanya pendek. Apa pun yang akan terjadi, ia harus tetap kuat. Aku akan menemukan cara untuk keluar dari sini. BAB 3 – KEHENINGAN YANG MENCEKIK (LANJUTAN) Setelah selesai makan, pelayan itu mengambil nampan dengan sikap sopan. “Apa kau tahu kenapa dia menahanku di sini?” tanya Alya tiba-tiba. Pelayan itu menunduk, seolah enggan menjawab. “Saya tidak tahu banyak, Nona, tetapi… Tuan Reihan bukan orang yang membiarkan sesuatu yang diinginkannya pergi begitu saja.” Alya mengernyit. Sesuatu? Apa dia menganggapku sebagai barang? Wanita itu membungkuk sedikit sebelum melangkah keluar, meninggalkan Alya dengan pikirannya yang semakin kacau. Beberapa menit kemudian, pintu terbuka lagi. Kali ini, dua pria berbadan tegap masuk. Salah satunya mengangguk ke arah Alya. “Tuan Reihan menunggu di ruang kerja. Ikut dengan kami.” Alya diam sejenak. Ia tahu menolak bukan pilihan, tetapi ia juga tidak mau terlihat pasrah. Dengan langkah mantap, ia bangkit dan berjalan di antara dua pria itu, menuju lorong panjang yang kini terasa lebih menyesakkan dari sebelumnya. --- PERTEMUAN DENGAN SERIGALA Setibanya di depan pintu besar berukiran kayu mahoni, salah satu pria mengetuk pelan. “Masuk.” Suaranya rendah, dalam, dan penuh kewibawaan. Pintu dibuka, memperlihatkan ruangan luas dengan rak buku tinggi, sofa kulit hitam, dan meja besar di tengah. Di belakang meja itu, Reihan duduk dengan santai, menatap Alya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Kedua pria tadi memberi hormat sebelum meninggalkan ruangan, menutup pintu di belakang mereka. Kini hanya ada mereka berdua. Alya berdiri tegak, tidak mau menunjukkan kelemahan. “Kau akhirnya makan.” Suara Reihan terdengar puas. Alya mengangkat dagunya sedikit. “Saya makan bukan karena perintah Anda, tapi karena saya butuh tenaga.” Senyuman tipis terukir di wajah pria itu. “Bagus. Setidaknya kau tahu bahwa bertahan hidup lebih penting daripada keras kepala.” Alya mengepalkan tangannya. “Apa yang sebenarnya kau inginkan dari saya?” Reihan berdiri dari kursinya, berjalan perlahan ke arah Alya. “Aku sudah mengatakannya semalam.” “Apa kau serius menganggapku sebagai milikmu?” Pria itu berhenti di hadapannya, hanya beberapa langkah jarak di antara mereka. “Lebih dari itu.” Alya menelan ludah, tetapi tetap berusaha menjaga ekspresinya tetap tegas. “Saya bukan budakmu.” Reihan menatapnya dalam, lalu tiba-tiba mengulurkan tangan. Alya refleks mundur, tetapi pria itu hanya mencengkram dagunya dengan lembut, memaksanya menatap langsung ke dalam matanya. “Aku bisa memberimu dunia, Alya,” katanya pelan, tetapi suaranya memiliki daya tekan yang besar. “Atau… aku bisa membuat hidupmu seperti neraka.” Alya menatapnya penuh kebencian. “Kau pikir aku takut?” Reihan tersenyum miring. “Aku tahu kau takut. Tapi aku juga tahu kau tidak akan menyerah begitu saja.” Ia melepaskan cengkeramannya, lalu kembali berjalan menuju mejanya. “Mulai hari ini, kau akan keluar dari kamar itu. Aku ingin kau mengenal tempat ini. Tapi jangan salah paham.” Ia menatap Alya dengan tajam. “Kebebasan kecil ini bukan berarti kau bisa melarikan diri.” Alya mengepalkan tangannya. Ini mungkin kesempatan… Aku hanya perlu menunggu waktu yang tepat. Reihan seolah bisa membaca pikirannya. “Kau punya dua pilihan, Alya. Menjalani ini dengan tenang, atau membuat segalanya lebih sulit untukmu sendiri.” Alya menatapnya, tidak berkata apa-apa. Dalam hatinya, ia sudah membuat keputusan. Aku akan bertahan. Aku akan mencari celah. Dan suatu hari nanti… aku akan benar-benar bebas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN