BAB 4 – PERMAINAN BERBAHAYA
Alya berjalan keluar dari ruang kerja Reihan dengan perasaan campur aduk. Ia diberi "keleluasaan" untuk keluar dari kamar, tetapi tetap dalam pengawasan ketat. Itu artinya, Reihan tidak sepenuhnya percaya padanya.
Bagus. Itu berarti dia tahu aku masih berusaha melawan.
Dua pria yang tadi mengantarnya kini mengikuti di belakang, memastikan ia tidak melakukan hal mencurigakan. Alya pura-pura tidak peduli dan berjalan perlahan, mengamati sekeliling mansion ini.
Bangunan megah itu bagaikan istana—lorong-lorong panjang dengan lantai marmer yang mengkilap, lampu kristal yang berpendar hangat, dan berbagai lukisan mahal yang menghiasi dindingnya. Tapi bagi Alya, tempat ini tidak lebih dari sebuah penjara mewah.
---
SEORANG WANITA TAK DIKENAL
Saat melewati ruang tamu yang luas, Alya melihat seorang wanita cantik duduk di sofa, menyilangkan kaki dengan anggun. Gaun merah darah membalut tubuhnya dengan sempurna, dan bibirnya yang dipulas lipstik merah melengkung dalam senyuman sinis.
“Oh, jadi ini gadis yang berhasil membuat Reihan tergila-gila?”
Alya menegang. Wanita itu menatapnya seolah menilai, lalu berdiri dan berjalan mendekat.
“Jangan terlalu percaya diri, manis,” katanya dengan nada meremehkan. “Reihan bukan tipe pria yang setia pada satu wanita.”
Alya menatapnya tajam. “Saya tidak peduli.”
Wanita itu tertawa kecil. “Benarkah? Kalau begitu, kau tidak akan mencoba melarikan diri.”
Alya terdiam. Jadi dia tahu…?
Wanita itu semakin tersenyum puas. “Namaku Vanessa. Aku sudah lama mengenal Reihan, dan aku bisa memberitahumu satu hal—kau hanya mainan barunya.”
Alya menghela napas pendek. “Kalau begitu, kau tak perlu repot-repot memperingatkanku.”
Vanessa menyipitkan mata, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. “Aku hanya ingin kau tahu bahwa kau tidak akan pernah menang melawannya.”
Alya membalas tatapannya tanpa gentar. “Kita lihat saja nanti.”
Vanessa tersenyum tipis sebelum melangkah pergi, meninggalkan aroma parfum mahal yang menusuk.
Alya mengepalkan tangannya. Jika dia berpikir aku akan menyerah begitu saja, dia salah besar.
---
PERTEMUAN TAK TERDUGA
Malam harinya, Alya memanfaatkan kebebasan kecilnya untuk menjelajahi mansion lebih jauh. Ia berjalan perlahan melewati lorong yang sepi, mencari tahu apakah ada jalan keluar tersembunyi yang bisa ia manfaatkan nanti.
Saat berbelok di ujung koridor, ia tiba-tiba bertabrakan dengan seseorang.
“Aduh!”
Alya tersentak mundur, begitu juga pria yang baru saja ditabraknya. Ia adalah pria muda dengan rambut hitam sedikit berantakan dan sorot mata tajam, tetapi tidak setegang atau semenakutkan Reihan.
Pria itu menatapnya, lalu mendecakkan lidah. “Kau pasti Alya.”
Alya menatapnya curiga. “Siapa kau?”
Pria itu menyeringai. “Nama aku Rayhan. Kakak Reihan.”
Alya membelalakkan mata. Reihan punya kakak?
Seolah bisa membaca pikirannya, Rayhan terkekeh. “Kau pasti berpikir kenapa aku belum pernah muncul sebelumnya.”
Alya diam, menunggu.
Rayhan memasukkan tangannya ke dalam saku. “Aku biasanya tidak peduli dengan urusan Reihan, tapi kau… menarik.”
Alya semakin waspada. “Apa maksudmu?”
Rayhan menatapnya lama sebelum akhirnya berkata, “Kalau kau benar-benar ingin kabur, aku bisa membantumu.”
Jantung Alya berdegup kencang. Apakah ini jebakan? Atau kesempatan emas?
Ia menatap pria di depannya, mencoba mencari tahu apakah ia bisa dipercaya.
Namun, sebelum ia sempat menjawab, suara berat menggema di belakang mereka.
“Apa yang kalian bicarakan?”
Alya menegang.
Reihan.
BAB 4 – PERMAINAN BERBAHAYA (LANJUTAN)
Alya membeku di tempatnya, merasakan hawa dingin yang langsung menyelimuti ruangan begitu Reihan muncul. Matanya yang tajam menyipit, bergantian menatapnya dan Rayhan.
Rayhan, di sisi lain, hanya menyeringai santai. “Tenang, adik kecil. Aku hanya berbincang sedikit dengan tamu istimewamu.”
Reihan tidak langsung menjawab. Ia berjalan perlahan mendekat, langkahnya begitu tenang tetapi penuh ancaman. Saat akhirnya ia berhenti di depan mereka, matanya tertuju pada Alya.
“Apa yang dia katakan padamu?” suaranya rendah, tetapi jelas mengandung peringatan.
Alya menegakkan tubuhnya, mencoba menjaga ekspresinya tetap datar. “Tidak ada yang penting.”
Rayhan terkekeh, memasukkan tangannya ke dalam saku celana. “Kau terlalu curiga, Reihan. Aku hanya ingin mengenalnya lebih baik. Lagipula, kau sudah cukup lama menyembunyikannya di dalam kamar, bukan?”
Reihan tidak menjawab. Namun, tatapannya semakin gelap.
Rayhan menghela napas dramatis. “Baiklah, baiklah. Aku pergi.” Ia menatap Alya sekilas sebelum tersenyum miring. “Hati-hati, Alya. Dunia ini lebih kejam dari yang kau bayangkan.”
Alya mengerutkan kening, tetapi sebelum ia bisa bertanya lebih lanjut, Rayhan sudah berjalan pergi, meninggalkan mereka dalam keheningan yang mencekik.
Reihan menatap punggung kakaknya hingga menghilang di tikungan, lalu kembali menoleh ke Alya. Tatapannya tajam dan penuh penilaian.
“Kau tidak seharusnya berbicara dengannya,” katanya, suaranya lebih datar dari sebelumnya.
Alya mendongak, menatapnya tanpa takut. “Saya tidak bisa menghindari seseorang yang kebetulan lewat.”
Reihan mendekat lagi, kali ini jaraknya begitu dekat hingga Alya bisa merasakan panas tubuhnya. “Rayhan bukan orang yang bisa dipercaya.”
Alya mendengus pelan. “Lucu. Kau juga bukan.”
Mata Reihan menyala sesaat sebelum tangannya tiba-tiba mencengkeram pinggang Alya, menariknya lebih dekat. Alya tersentak, mencoba mundur, tetapi cengkeramannya terlalu kuat.
“Kau mulai terlalu berani, Alya.”
Alya menatapnya penuh kebencian. “Dan kau mulai terlalu banyak mengatur hidup saya.”
Reihan tersenyum tipis—senyum yang tidak membawa kehangatan sama sekali. “Karena kau milikku.”
Alya mengepalkan tangannya. “Berhentilah mengatakan itu! Saya bukan milik siapa pun!”
Reihan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya lama sebelum akhirnya berkata, “Kau boleh berpikir begitu… untuk sekarang.”
Kemudian, dengan perlahan tetapi pasti, ia melepaskan cengkeramannya. Alya buru-buru mundur, menenangkan debaran jantungnya yang tak terkendali—bukan karena rasa takut, tetapi karena amarah yang membara di dadanya.
Reihan menatapnya sekali lagi sebelum berbalik. “Kembalilah ke kamar. Jangan membuatku kehilangan kesabaran.”
Alya ingin membalas, tetapi ia tahu tidak ada gunanya. Untuk saat ini, ia harus tetap tenang.
Namun, dalam hatinya, ia bersumpah.
Aku tidak akan selamanya terjebak di sini.
BAB 4 – PERMAINAN BERBAHAYA (LANJUTAN 2)
Alya kembali ke kamar dengan perasaan tak menentu. Rayhan menawarkan bantuan, tetapi Reihan memperingatkannya agar tidak percaya. Lalu siapa yang harus ia percayai?
Ia duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke jendela. Malam semakin larut, tetapi pikirannya terus bekerja. Jika Rayhan benar-benar bisa membantunya, apakah itu berarti ia memiliki musuh dalam selimut?
Atau justru ini jebakan lain dari Reihan?
Sebuah ketukan di pintu membuatnya tersentak. Ia segera bangkit, berjaga-jaga.
“Siapa?” tanyanya, suaranya sedikit bergetar.
Tidak ada jawaban.
Ketukan itu terdengar lagi.
Dengan hati-hati, Alya melangkah mendekat, meraih gagang pintu, lalu membukanya sedikit.
Sosok Rayhan berdiri di sana, senyumnya santai seperti biasa.
“Kau terlihat gugup,” katanya sambil menyandarkan bahunya ke ambang pintu.
Alya menatapnya tajam. “Apa yang kau mau?”
Rayhan mengangkat bahu. “Aku penasaran… Apa kau benar-benar percaya bahwa kau bisa kabur dari sini?”
Alya mengerutkan kening. “Kenapa kau bertanya?”
Rayhan mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat, suaranya merendah. “Karena aku ingin melihat apakah kau cukup berani untuk mengambil risiko.”
Alya terdiam. Ia menatap pria di depannya, mencoba menilai apakah kata-katanya jujur atau hanya permainan lain.
Rayhan tersenyum miring. “Aku tahu kau pasti berpikir ini jebakan. Tapi percayalah, aku tidak ada niat membantu Reihan menahanmu di sini.”
Alya masih tidak yakin. “Kenapa aku harus percaya padamu?”
Rayhan menatapnya lama sebelum akhirnya berkata, “Karena aku juga ingin melihat Reihan kalah.”
Alya terkejut. “Apa maksudmu?”
Rayhan mendekat sedikit lagi, nyaris berbisik. “Reihan selalu mendapatkan apa yang dia mau. Aku ingin tahu… bagaimana jadinya jika kali ini dia kehilangan sesuatu.”
Alya semakin bingung, tetapi satu hal yang ia tahu—Rayhan tidak hanya berbicara tentang dirinya. Ada sesuatu yang lebih besar di antara mereka berdua.
“Kau punya waktu dua hari untuk memutuskan,” kata Rayhan akhirnya. “Kalau kau mau pergi, aku bisa membantumu. Tapi kalau kau memilih untuk tetap di sini… yah, semoga beruntung.”
Tanpa menunggu jawaban, Rayhan berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Alya dengan pikiran yang semakin kacau.
Apakah ini kesempatan yang selama ini ia tunggu? Atau justru langkah yang akan membawanya ke dalam bahaya yang lebih besar?
Di luar kamar, di ujung koridor yang gelap, sepasang mata memperhatikan dengan dingin.
Reihan menyandarkan tubuhnya ke dinding, ekspresinya sulit ditebak.
Ia sudah menduga kakaknya akan mencoba sesuatu.
Tapi tidak masalah.
Reihan melangkah pergi, senyum tipis terukir di wajahnya.
Bagaimanapun juga, Alya tetap miliknya.