BAB 5 – JALAN TANPA KEPASTIAN
Alya duduk di tepi ranjang, pikirannya penuh dengan pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban. Tawaran Rayhan begitu menggiurkan, tetapi juga terlalu berisiko. Jika ia mempercayainya dan ternyata ini jebakan, ia bisa kehilangan segalanya. Namun, jika ia mengabaikan kesempatan ini, mungkin ia akan terjebak selamanya dalam kendali Reihan.
Ia menatap jam di dinding. Pukul dua dini hari. Sunyi. Hanya suara detak jam yang terdengar, seolah menertawakan kebimbangannya.
Dua hari untuk memutuskan.
Alya menggigit bibirnya. Waktu berjalan cepat. Apa pun keputusannya, ia harus berhati-hati.
---
Di tempat lain, Reihan duduk di ruang kerjanya, jari-jarinya mengetuk meja dengan ritme pelan. Matanya menatap lurus ke layar komputer, tetapi pikirannya melayang ke percakapan yang baru saja ia dengar.
Rayhan memang selalu suka bermain-main dengan batas kesabaran orang. Dan sekarang, ia mencoba mencuri sesuatu yang menjadi miliknya.
Reihan tersenyum tipis, tetapi matanya dingin.
Ia tidak akan membiarkan itu terjadi.
---
Pagi datang terlalu cepat. Alya merasa tubuhnya lelah, tetapi pikirannya tetap berputar. Ia melangkah keluar kamar, ingin mencari udara segar. Namun, baru beberapa langkah, ia melihat sosok Rayhan bersandar di dekat jendela, menyesap kopinya dengan santai.
“Aku penasaran,” kata Rayhan tanpa menoleh. “Sudah memikirkan tawaranku?”
Alya menegang. Ia menoleh ke sekitar, memastikan tidak ada orang lain di sana. “Kau tidak takut Reihan mengetahuinya?”
Rayhan terkekeh. “Tentu saja dia tahu. Dia bukan orang bodoh.”
Alya semakin waspada. “Kalau begitu, kenapa kau masih membantuku?”
Rayhan menatapnya. “Karena aku suka melihatnya marah.”
Kata-katanya terdengar ringan, tetapi Alya bisa merasakan ada sesuatu yang lebih dalam. Bukan sekadar persaingan biasa antara kakak dan adik. Ada sesuatu yang lebih besar di antara mereka, sesuatu yang belum ia pahami.
“Tapi aku tidak bisa membantumu kalau kau masih ragu,” lanjut Rayhan. “Keputusan ada di tanganmu.”
Alya menatapnya lama sebelum akhirnya berkata, “Apa jaminannya kalau ini bukan jebakan?”
Rayhan tersenyum. “Tidak ada.”
JALAN TANPA KEPASTIAN (Lanjutan)
Alya menatap Rayhan tajam, mencari tanda-tanda kebohongan di wajahnya. Namun, seperti biasa, pria itu terlalu pandai menyembunyikan niat aslinya.
"Jadi aku harus percaya begitu saja?" tanyanya, suaranya penuh keraguan.
Rayhan tersenyum miring. "Percaya atau tidak, itu pilihanmu. Tapi kalau kau menunggu jaminan, kau akan terjebak di sini selamanya."
Alya menggigit bibirnya, hatinya berdebar keras. Ia tahu Rayhan ada benarnya. Jika ia terus menunda, kesempatan ini bisa lenyap. Tapi… apakah ia benar-benar bisa mengambil risiko sebesar ini?
Sebelum Alya sempat menjawab, langkah kaki terdengar mendekat. Refleks, Rayhan langsung mundur selangkah, membiarkan jarak aman di antara mereka.
Dan saat sosok itu muncul, Alya merasa jantungnya hampir berhenti berdetak.
Reihan.
Matanya yang tajam langsung mengunci ke arah mereka, tatapannya gelap dan penuh arti. Ia tidak langsung bicara, hanya mengamati keduanya dengan ekspresi yang sulit ditebak.
"Ada yang ingin kau sampaikan padaku, Alya?" tanyanya akhirnya, suaranya terdengar tenang, tetapi ada ancaman tersembunyi di baliknya.
Alya menelan ludah. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, mencoba menenangkan detak jantung yang tiba-tiba berdegup kencang.
"Tidak," jawabnya cepat.
Reihan memiringkan kepalanya sedikit, seolah mempertimbangkan kata-kata itu. Lalu ia menoleh ke Rayhan. "Dan kau?"
Rayhan hanya tersenyum santai. "Aku cuma menikmati udara pagi bersama calon istrimu."
Alya menegang. Jantungnya hampir melompat keluar dari dadanya. Kenapa Rayhan mengatakan itu? Apa dia sengaja memprovokasi Reihan?
Mata Reihan sedikit menyipit. Ia melangkah lebih dekat ke arah Alya, tangannya terulur, lalu dengan lembut meraih dagunya, memaksanya menatap ke dalam matanya.
"Alya tidak akan pergi ke mana pun," katanya pelan, tetapi penuh kepastian.
Alya bisa merasakan dinginnya tangan Reihan di kulitnya. Sebuah peringatan halus. Sebuah klaim.
Rayhan menyilangkan tangan di dadanya, tampak menikmati situasi ini. "Yakin sekali kau, Reihan. Kau pikir dia tidak punya keinginan sendiri?"
Reihan tersenyum kecil, lalu menatap Alya lebih dalam. "Tentu saja dia punya. Tapi keinginannya tidak lebih kuat dari milikku."
Alya merasakan sesuatu bergetar dalam dirinya. Bukan hanya karena kata-katanya, tetapi juga karena cara Reihan mengatakannya. Seolah ia benar-benar yakin bahwa ia tidak akan pernah bisa meninggalkannya.
Dan yang lebih mengkhawatirkan lagi…
Sebagian kecil dari dirinya mulai meragukan apakah ia benar-benar ingin pergi.
BAB 5 – JALAN TANPA KEPASTIAN (Lanjutan 2)
Alya merasa tubuhnya membeku di tempat. Tatapan Reihan begitu dalam, menelanjangi semua kegelisahan yang berputar di kepalanya.
Rayhan masih berdiri di sana, menyaksikan interaksi mereka dengan senyum miring yang sulit diartikan.
"Kalau kau begitu yakin, mungkin kau harus mengujinya, Reihan," kata Rayhan santai, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. "Siapa tahu, Alya sebenarnya punya keberanian untuk memilih sesuatu yang berbeda."
Reihan tidak mengalihkan perhatiannya dari Alya. Tangannya yang masih memegang dagunya bergerak perlahan, ibu jarinya mengusap lembut kulitnya seakan menenangkan, namun di saat yang sama, Alya tahu itu adalah caranya untuk menegaskan sesuatu.
"Alya tidak perlu diuji," jawabnya tenang, tetapi ada ketegasan yang tak terbantahkan. "Aku tahu jawabannya."
Alya menelan ludah. Ia ingin menyangkal. Ingin menolak d******i yang begitu nyata dalam suara dan tatapan Reihan. Tapi di saat yang sama, ada sesuatu dalam dirinya yang bergetar karena keyakinannya.
Rayhan terkekeh pelan. "Ah, kau memang selalu merasa memiliki segalanya, Reihan."
"Karena memang begitu adanya."
Alya bisa merasakan ketegangan yang semakin menebal di antara mereka. Ia harus melakukan sesuatu. Ia tidak bisa membiarkan dirinya terus terperangkap dalam permainan antara dua pria ini.
"Aku ingin sendiri," katanya akhirnya, suaranya terdengar lebih lemah dari yang ia inginkan.
Reihan menatapnya selama beberapa detik sebelum akhirnya melepaskan pegangannya. "Baik. Aku akan menunggumu di ruang makan."
Rayhan hanya mengangkat bahunya, tidak mengatakan apa-apa.
Setelah Reihan pergi, Alya menghela napas panjang. Ia baru menyadari betapa tegangnya tubuhnya selama ini.
"Kau baik-baik saja?" tanya Rayhan, suaranya lebih lembut sekarang.
Alya menatapnya dengan pandangan penuh kewaspadaan. "Apa yang sebenarnya kau inginkan, Rayhan?"
Rayhan tersenyum kecil. "Aku hanya ingin tahu apakah kau benar-benar berani melawan takdirmu."
Alya menggigit bibirnya. "Dan menurutmu, apa takdirku?"
Rayhan menatapnya sejenak sebelum menjawab. "Terjebak dalam dunia Reihan… atau memilih untuk bebas."
Alya terdiam. Kata-kata itu menggema di kepalanya.
BAB 5 – JALAN TANPA KEPASTIAN (Lanjutan 3)
Alya tidak langsung menjawab. Kepalanya terasa penuh, pikirannya berputar mencari jalan keluar dari situasi ini.
Rayhan menatapnya dalam diam, lalu menghela napas pelan. “Kau tahu, Alya, semakin lama kau ragu, semakin dalam kau terperangkap.”
Alya mengepalkan tangannya. Ia tahu itu. Ia tahu jika ia tidak segera mengambil keputusan, ia mungkin akan kehilangan kesempatan selamanya. Tapi bagaimana jika Rayhan hanya memanfaatkan situasinya? Bagaimana jika ini semua bagian dari permainan yang lebih besar?
“Kau bilang ingin melihat Reihan kalah,” kata Alya akhirnya. “Apa maksudmu?”
Rayhan menyeringai, tetapi ada sesuatu dalam matanya yang sulit dibaca. “Kau pikir Reihan itu tidak terkalahkan? Dia hanya belum pernah kehilangan sesuatu yang benar-benar berharga.”
Alya merasakan jantungnya berdebar lebih cepat. “Dan kau ingin aku menjadi hal itu?”
Rayhan mendekat selangkah. “Aku ingin kau membuat pilihan, Alya. Itu saja.”
Alya menatapnya tajam. “Dan kalau aku memilih tinggal?”
Rayhan tertawa kecil. “Maka aku akan menunggu sampai kau sadar bahwa itu kesalahan.”
Alya menghela napas, merasa terjebak dalam permainan yang tidak bisa ia menangkan.
“Dua hari,” kata Rayhan lagi. “Aku tidak akan memaksamu. Tapi kalau kau ingin pergi, aku butuh jawaban sebelum waktu habis.”
Alya tidak mengatakan apa-apa saat Rayhan berbalik dan melangkah pergi. Ia hanya berdiri di sana, perasaannya semakin kacau.
Saat ia hendak kembali ke kamar, suara lain menghentikannya.
“Alya.”
Ia menoleh, dan matanya bertemu dengan tatapan dingin Reihan yang berdiri tidak jauh darinya.
“Kau tidak benar-benar mempertimbangkan tawarannya, bukan?” tanyanya, suaranya terdengar santai, tetapi Alya bisa merasakan sesuatu yang mengintai di baliknya.
Alya mencoba menjaga ekspresinya tetap netral. “Aku tidak tahu.”
Reihan menatapnya dalam, lalu perlahan melangkah mendekat. “Jangan bermain-main dengan kesabaranku, sayang.”
Jantung Alya berdegup lebih cepat saat Reihan berdiri begitu dekat, begitu mendominasi. Tangannya terangkat, menyentuh pipinya dengan lembut, tetapi Alya tahu, sentuhan itu bukan sekadar belaian—itu adalah peringatan.
“Karena aku tidak akan membiarkanmu pergi.”
Suaranya begitu pelan, tetapi setiap kata yang diucapkannya mengunci Alya dalam ketakutan yang halus.
Dan saat itu, Alya sadar…
Apa pun yang ia pilih, ia tidak akan bisa keluar dari dunia Reihan dengan mudah.