BAB 6 – TAK ADA JALAN KELUAR
Alya duduk di dalam kamarnya, memeluk lututnya erat. Kata-kata Reihan terus terngiang di kepalanya.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi."
Bukan hanya kalimatnya yang membuatnya ketakutan, tetapi juga cara Reihan mengatakannya—tenang, penuh keyakinan, seolah apa pun yang ia lakukan, semuanya sudah dalam kendali pria itu.
Alya menarik napas dalam-dalam. Ia harus berpikir jernih. Apakah ia benar-benar punya pilihan? Atau semuanya hanya ilusi?
---
Sementara itu, di ruang kerja, Reihan duduk di belakang mejanya, memainkan cincin di jarinya. Tatapannya tajam, tetapi ada kilatan emosi yang sulit dijelaskan dalam matanya.
Rayhan memang selalu menyebalkan. Selalu mencoba menantangnya, selalu mencari celah untuk mengganggunya.
Tapi kali ini, ini bukan hanya tentang persaingan. Ini tentang Alya.
Dan Reihan tidak akan membiarkan siapa pun mengambil sesuatu yang sudah menjadi miliknya.
Ketukan pelan di pintu menghentikan pikirannya. “Masuk.”
Seorang pria berpakaian serba hitam masuk, membungkuk hormat. “Tuan, kami menemukan sesuatu yang mencurigakan.”
Reihan mengangkat alis. “Apa?”
Pria itu menyerahkan sebuah amplop. “Kami menemukan ini di kamar Rayhan.”
Reihan membuka amplop itu, matanya menyipit saat membaca isi surat di dalamnya.
Sebuah tiket pesawat.
Atas nama Alya.
Reihan tersenyum tipis, tetapi tidak ada kehangatan di sana. Hanya dingin dan bahaya.
“Rayhan benar-benar mencoba melampaui batas,” gumamnya pelan.
Lalu ia berdiri, merapikan jasnya, dan melangkah keluar dari ruangan.
Jika Rayhan ingin bermain permainan ini, Reihan akan memastikan ia yang menang.
---
Di dalam kamar, Alya masih duduk diam, pikirannya penuh dengan pertanyaan dan ketakutan.
Tiba-tiba, pintu terbuka.
Alya menoleh, dan jantungnya hampir berhenti berdetak saat melihat Reihan berdiri di sana.
Tatapannya begitu gelap, begitu tajam, seolah bisa menembus pikirannya.
Ia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan tenang.
“Kita perlu bicara, Alya,” katanya pelan.
Tapi Alya bisa merasakan hawa bahaya yang begitu nyata dari setiap langkah yang diambilnya.
Dan saat itu, ia tahu…
Apa pun yang terjadi selanjutnya, semuanya tidak akan pernah sama lagi.
BAB 6 – TAK ADA JALAN KELUAR (Lanjutan 2)
Alya menelan ludah, tubuhnya tegang saat Reihan berjalan mendekat. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat udara di ruangan ini terasa lebih berat.
“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Alya, suaranya sedikit bergetar.
Reihan tidak langsung menjawab. Ia duduk di tepi ranjang, begitu dekat dengannya, membuat Alya merasa semakin terpojok.
Kemudian, ia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya dan meletakkannya di pangkuan Alya.
Sebuah tiket pesawat.
Jantung Alya berdetak kencang. Ia tidak perlu melihat lebih lama untuk tahu bahwa tiket itu atas namanya.
“Apa ini?” suaranya hampir berbisik.
Reihan menyandarkan tubuhnya ke belakang, menyilangkan tangan di dadanya. Senyumnya tipis, tetapi ada bahaya yang tersembunyi di baliknya.
“Itu yang seharusnya kutanyakan padamu,” katanya tenang. “Tiket ini ada di kamar Rayhan. Jadi, mau kau jelaskan sesuatu padaku?”
Alya merasakan darahnya berdesir. Ia tidak tahu bagaimana harus merespons. Jika ia berbohong, Reihan pasti akan tahu. Jika ia mengatakan yang sebenarnya, ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Aku tidak tahu tentang tiket ini,” jawabnya akhirnya, memilih untuk jujur.
Reihan menatapnya lama, seolah menilai apakah ia berbohong atau tidak. Lalu, tanpa peringatan, ia meraih dagunya, memaksanya menatap langsung ke matanya.
“Alya, aku sudah memberimu banyak kebebasan,” katanya dengan suara rendah. “Tapi kalau kau mencoba mengkhianatiku…”
Ia tidak melanjutkan kata-katanya, tetapi genggamannya di dagu Alya sedikit mengencang.
Alya menahan napas, tubuhnya gemetar. Ada sesuatu dalam tatapan Reihan yang membuatnya yakin bahwa ia tidak sedang bercanda.
“Tolong… lepaskan,” bisiknya.
Reihan menatapnya beberapa detik lagi sebelum akhirnya melepaskan dagunya. Tapi bukan berarti ketegangan di antara mereka menghilang.
“Aku akan memberimu satu kesempatan, Alya,” katanya pelan. “Buktikan bahwa kau milikku. Buktikan bahwa kau tidak akan pergi.”
Alya merasakan perutnya mencelos. “Bagaimana caranya?”
Senyum Reihan semakin melebar, tetapi tidak ada kelembutan di sana.
“Kita akan menikah.”
Dunia Alya seakan berhenti berputar.
"Apa?"
"Kau dengar aku," kata Reihan santai. "Persiapkan dirimu. Dalam seminggu, kau akan menjadi istriku."
Alya ingin menolak. Ingin mengatakan bahwa ia tidak bisa menerima ini. Tapi tatapan Reihan begitu tajam, seolah menantangnya untuk melawan.
Dan di saat yang sama, ia tahu…
Menolak bukanlah pilihan.
BAB 6 – TAK ADA JALAN KELUAR (Lanjutan 3)
Alya menatap Reihan dengan ngeri. “Kau tidak serius…”
Reihan tersenyum kecil. “Aku tidak pernah main-main dalam hal yang kuinginkan, Alya.”
Jantungnya berdegup semakin cepat. Ini gila. Dia belum siap. Bagaimana bisa Reihan tiba-tiba memutuskan sesuatu sebesar ini?
“Tapi… aku belum siap menikah,” katanya dengan suara bergetar.
Reihan menyandarkan punggungnya ke kursi, tatapannya tetap tajam. “Kau tidak perlu siap, Alya. Aku yang akan memastikan semuanya berjalan sesuai keinginanku.”
Alya menggigit bibirnya. “Ini tidak adil.”
Reihan terkekeh pelan. “Kau masih berpikir aku pria yang adil?” Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, membuat Alya semakin terpojok. “Alya, aku sudah cukup bersabar. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambilmu dariku.”
Napas Alya memburu. “Aku bukan barang, Reihan.”
Senyuman di wajahnya menghilang seketika. Tatapannya berubah lebih gelap, lebih tajam. “Kalau begitu, buktikan bahwa kau benar-benar ingin pergi.”
Alya terdiam. Ia ingin mengatakan iya, ingin berteriak bahwa ia ingin bebas. Tapi bibirnya seakan terkunci.
Karena jauh di dalam hatinya, ada ketakutan yang lebih besar…
Bagaimana jika pergi dari Reihan bukan berarti kebebasan, melainkan ancaman yang lebih besar?
Reihan menatapnya lama sebelum akhirnya menghela napas. “Aku akan memberimu waktu berpikir, tapi jangan terlalu lama. Jika kau tidak membuat keputusan, aku akan membuatnya untukmu.”
Setelah mengatakan itu, Reihan berdiri dan berjalan keluar dari kamar, meninggalkan Alya dengan pikirannya yang semakin kacau.
---
Di tempat lain, Rayhan berdiri di tepi balkon, menatap ke kejauhan dengan ekspresi penuh pertimbangan.
Ia sudah menduga Reihan akan bereaksi seperti ini. Tapi ia tidak menyangka saudaranya akan mengambil langkah ekstrem secepat ini.
Menikah?
Reihan benar-benar tidak mau kehilangan Alya.
Rayhan tersenyum miring. “Menarik.”
Ia memasukkan tangannya ke dalam saku, lalu berbalik. Jika Reihan berpikir ia sudah menang, maka ia salah besar.
Karena permainan ini masih jauh dari selesai.
BAB 6 – TAK ADA JALAN KELUAR (Lanjutan 4)
Alya mengurung diri di kamar selama berjam-jam, mencoba memahami situasi yang kini menjeratnya semakin dalam. Opsi yang tersedia di hadapannya terasa seperti perangkap—apakah ia harus memilih menikah dengan Reihan, atau mengambil risiko melawan pria yang jelas tidak akan membiarkannya pergi begitu saja?
Pikiran tentang Rayhan juga membuatnya semakin bingung. Jika benar pria itu ingin membantunya, kenapa ia tidak mengatakan lebih banyak? Atau mungkin, ini semua hanya rencana lain yang lebih berbahaya?
Ketukan di pintu menghentikan lamunannya. Alya menegang, mengira Reihan yang datang. Namun suara yang terdengar dari balik pintu membuatnya sedikit lega.
“Alya, ini aku.” Suara Tina, salah satu pelayan di rumah ini.
Alya melangkah cepat dan membuka pintu sedikit. “Ada apa, Tina?” bisiknya.
Wanita itu tampak gelisah, sesekali melirik ke belakang sebelum menyerahkan sebuah amplop kecil ke tangan Alya. “Seseorang memintaku memberimu ini.”
Alya mengerutkan kening. “Siapa?”
Tina menggeleng. “Aku tidak tahu, tapi dia bilang ini penting. Hati-hati, Nona.”
Setelah Tina pergi, Alya buru-buru menutup pintu dan membuka amplop itu.
Di dalamnya hanya ada secarik kertas dengan tulisan singkat:
"Jangan percaya siapa pun. Jika kau ingin keluar, datanglah ke gudang belakang tengah malam. Sendirian."
Alya merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Apakah ini jebakan? Atau kesempatan yang selama ini ia tunggu?
Ia menatap tulisan itu lama sebelum akhirnya meremasnya dalam genggaman.
Apa pun yang terjadi, ia harus membuat keputusan sebelum semuanya terlambat.
BAB 6 – TAK ADA JALAN KELUAR (Lanjutan 5)
Alya duduk di tepi ranjang, menatap secarik kertas di tangannya. Kata-kata dalam surat itu terus terngiang di kepalanya.
"Jangan percaya siapa pun. Jika kau ingin keluar, datanglah ke gudang belakang tengah malam. Sendirian."
Siapa yang mengirimkan ini? Apakah ini jebakan? Atau benar-benar seseorang yang ingin membantunya?
Ia menggigit bibirnya, hatinya berdebar keras. Jika ini kesempatan untuk kabur, maka ia harus mengambilnya. Tapi jika ini perangkap, maka ia bisa saja kehilangan segalanya.
Alya menutup matanya sejenak, mengatur napas. Tidak ada waktu untuk ragu.
Malam ini, ia harus mengambil risiko.
---
Jam menunjukkan pukul 11:45 malam ketika Alya berdiri di depan cermin, mengenakan pakaian serba hitam agar lebih mudah bersembunyi dalam gelap. Ia menyelipkan sepatu ke kakinya dengan hati-hati, berusaha tidak menimbulkan suara.
Dengan langkah pelan, ia membuka pintu kamarnya dan mengintip ke luar. Koridor tampak sepi, hanya ada lampu temaram yang menerangi jalan.
Alya menarik napas dalam, lalu melangkah keluar dengan hati-hati.
Setiap detik terasa begitu lama. Setiap suara kecil terdengar seperti ancaman.
Saat ia berhasil mencapai tangga, tiba-tiba sebuah suara menghentikan langkahnya.
“Alya.”
Jantungnya mencelos.
Ia menoleh dengan panik—dan melihat Reihan berdiri di ujung koridor, menatapnya dengan mata tajam.
“Ke mana kau akan pergi?” tanyanya dengan nada dingin.
Dunia Alya seakan berhenti berputar. Ketahuan.
Tubuhnya menegang, sementara otaknya berusaha mencari alasan. Tapi sebelum ia bisa mengatakan apa pun, Reihan sudah melangkah mendekat, ekspresinya sulit ditebak.
“Jangan coba-coba berbohong,” katanya pelan, tetapi ada ancaman tersembunyi di balik suaranya.
Alya merasakan kakinya melemas. Ia sudah gagal bahkan sebelum mencoba kabur.
Reihan berdiri tepat di depannya sekarang, sorot matanya tajam seperti pisau.
“Siapa yang mencoba membawamu pergi dariku?”
Alya menahan napas. Ia bisa merasakan kemarahan yang begitu besar dari pria di depannya.
Malam ini, segalanya berubah.
Dan Alya tahu, tidak ada jalan keluar yang mudah dari dunia Reihan.