BAB 7 – DUNIA MILIK REIHAN
Alya terpaku di tempatnya, tubuhnya membeku di bawah tatapan dingin Reihan. Udara di sekitarnya terasa begitu berat, seolah-olah dunia menyempit hanya untuk mereka berdua.
Jari-jari Reihan terangkat, lalu dengan cepat mencengkeram dagu Alya, memaksanya menatap langsung ke dalam matanya. Sorot tajam itu membuat tubuhnya merinding.
"Aku bertanya sekali lagi, siapa yang mencoba membawamu pergi dariku?" suaranya terdengar rendah, tapi mengandung ancaman yang tak bisa diabaikan.
Alya menelan ludah, otaknya berpacu mencari alasan. Jika ia mengatakan yang sebenarnya, maka siapa pun yang mengirim surat itu akan dalam bahaya. Tapi jika ia berbohong, Reihan pasti akan mengetahuinya.
"Aku hanya ingin… menghirup udara segar," katanya dengan suara setenang mungkin.
Reihan menyipitkan mata, lalu tanpa peringatan, ia menarik Alya ke dalam dekapannya. "Jangan pernah mencoba mengelabui aku, Alya. Aku tidak sebodoh itu," bisiknya di dekat telinganya, membuat bulu kuduk gadis itu berdiri.
Alya menggigit bibirnya, mencoba mengendalikan gemetar di tubuhnya. "Aku tidak berniat kabur…"
Reihan tertawa kecil, namun tanpa humor. "Benarkah? Lalu kenapa kau berpakaian seperti pencuri di tengah malam?"
Alya terdiam. Jelas sekali ia tidak bisa mengelak.
Dengan satu gerakan cepat, Reihan mengangkat tubuh Alya dan membawanya ke kamarnya. Gadis itu berusaha meronta, tapi cengkeramannya terlalu kuat.
"Reihan! Lepaskan aku!"
Alih-alih menurut, pria itu justru melemparkannya ke atas ranjang dengan mudah. Tubuh Alya terhempas ke kasur empuk, sementara Reihan berdiri di sisi tempat tidur, menatapnya dengan ekspresi gelap.
"Aku sudah cukup sabar, Alya," katanya, suaranya lebih rendah dan mengandung bahaya. "Tapi kesabaran itu ada batasnya."
Jantung Alya berdebar kencang saat pria itu menunduk, menempatkan kedua tangannya di sisi tubuhnya, menjebaknya di antara lengannya yang kokoh.
"Kau milikku," bisik Reihan, matanya membara. "Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambilmu dariku."
Alya menahan napas. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari satu hal yang selama ini ia abaikan—dunia ini milik Reihan, dan ia tak punya jalan keluar.
BAB 7 – DUNIA MILIK REIHAN (Lanjutan)
Alya menelan ludah, jantungnya berdetak tak beraturan. Ruangan itu terasa semakin menyempit dengan keberadaan Reihan yang begitu dekat.
"Aku… bukan milik siapa-siapa," bisiknya dengan suara bergetar.
Reihan menyipitkan mata, lalu jemarinya terangkat, menyentuh pipi Alya dengan lembut, kontras dengan sorot matanya yang dingin dan mengintimidasi.
"Kau terlalu keras kepala," gumamnya. "Aku tidak suka itu, tapi aku juga tidak ingin mengubahmu."
Alya mengerjap, terkejut dengan kata-kata pria itu. Namun, sebelum ia bisa memprosesnya, Reihan tiba-tiba bangkit, menjauh darinya.
"Kau ingin keluar?" tanyanya, menoleh dengan ekspresi yang sulit ditebak.
Alya masih terdiam, tidak yakin harus menjawab apa.
"Aku akan memberimu kesempatan," lanjut Reihan, melipat tangan di dadanya. "Tapi bukan dengan cara melarikan diri seperti pencuri di tengah malam."
Alya duduk tegak, mencoba memahami maksudnya. "Apa maksudmu?"
Reihan menatapnya dalam-dalam. "Aku akan membawamu keluar besok. Bersamaku."
Alya mengernyit curiga. "Dan jika aku menolak?"
Pria itu menyeringai kecil. "Kau tidak punya pilihan, Alya."
Kata-katanya begitu mutlak, seolah seluruh dunia ini benar-benar ada dalam genggamannya.
Alya mengepalkan tangannya di atas selimut. Ia tidak ingin berada di bawah kendali pria ini, tapi untuk saat ini, ia tidak punya pilihan selain mengikuti permainan Reihan.
Malam itu, Alya tidak bisa tidur.
Bukan hanya karena ketegangan yang tersisa di tubuhnya, tapi juga karena satu pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.
Siapa yang mengirim surat itu? Dan apakah mereka masih menunggunya di gudang belakang?
BAB 7 – DUNIA MILIK REIHAN (Lanjutan 2)
Alya berbaring menatap langit-langit, pikirannya masih kacau. Kata-kata Reihan terus terngiang di kepalanya.
"Aku akan membawamu keluar besok. Bersamaku."
Apakah itu ancaman atau justru kesempatan?
Di sisi lain, surat misterius yang ia temukan masih belum terpecahkan. Seseorang berusaha membantunya keluar—atau itu hanya jebakan? Jika benar ada orang yang menunggunya di gudang belakang, maka ia baru saja mengecewakan mereka.
Alya menarik napas panjang dan menutup matanya. Tidak ada gunanya terus berpikir. Yang jelas, besok ia harus bersiap menghadapi apa pun yang sudah direncanakan Reihan.
---
Pagi datang terlalu cepat. Saat Alya membuka mata, cahaya matahari sudah menyelinap masuk melalui celah jendela. Namun, sebelum ia bisa benar-benar bangun, pintu kamarnya terbuka.
Seorang pelayan wanita masuk dengan membawa nampan berisi sarapan. "Nona Alya, Tuan Reihan memerintahkan agar Anda segera bersiap."
Alya mengerutkan kening. "Bersiap untuk apa?"
Pelayan itu menunduk sedikit. "Tuan akan membawa Anda keluar pagi ini."
Alya langsung duduk, pikirannya kembali ke percakapan semalam. Jadi Reihan benar-benar serius?
Tanpa banyak bicara, Alya segera menyelesaikan sarapannya dan bersiap. Ia memilih pakaian yang nyaman—sweater cokelat tua dan celana jeans—lalu menyisir rambutnya cepat. Begitu ia selesai, pintu kembali terbuka, dan kali ini bukan pelayan yang muncul.
Reihan berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja hitam yang digulung hingga siku dan celana panjang gelap. Aura dinginnya tetap sama, tapi ada sesuatu di matanya yang membuat Alya tak bisa mengalihkan pandangan.
"Ikut aku," katanya singkat.
Alya menghela napas dalam sebelum melangkah keluar.
---
Mobil hitam mewah melaju di jalan raya, meninggalkan rumah besar Reihan yang selama ini terasa seperti penjara bagi Alya.
Ia menatap keluar jendela, menghirup kebebasan yang sudah lama ia rindukan. Namun, kebebasan itu terasa semu ketika ia sadar siapa yang duduk di sampingnya.
Reihan tampak fokus menyetir, tapi ekspresinya sulit ditebak.
"Ke mana kita pergi?" tanya Alya akhirnya.
Reihan tidak langsung menjawab. Ia hanya menekan pedal gas lebih dalam, membuat Alya menggenggam tepi kursinya.
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah restoran mewah.
"Makan siang," jawab Reihan akhirnya.
Alya mengerutkan kening. "Kau membawaku keluar hanya untuk makan?"
Reihan menyeringai kecil. "Kenapa? Kecewa?"
Alya mendengus, lalu membuka pintu mobil sendiri. Jika pria ini ingin bermain-main dengannya, ia tidak akan memberi Reihan kepuasan untuk melihatnya kesal.
Namun, saat mereka masuk ke restoran, Alya mulai merasa ada yang aneh.
Semua orang di sana langsung membungkuk sedikit saat melihat Reihan, bahkan pelayan yang mengantar mereka ke meja terlihat begitu waspada.
Alya melirik Reihan. "Siapa sebenarnya kau?"
Pria itu menyesap anggur merahnya sebelum menatapnya dengan tatapan yang menusuk.
"Kau akan tahu, cepat atau lambat."
BAB 7 – DUNIA MILIK REIHAN (Lanjutan 3)
Alya menatap Reihan dengan penuh kecurigaan. Pria ini selalu memiliki aura misterius yang sulit dipecahkan.
Pelayan datang membawa menu, tetapi sebelum Alya sempat memilih, Reihan sudah lebih dulu berbicara. “Bawakan steak untukku dan salmon untuknya.”
Alya mengerutkan kening. “Aku bisa memilih makananku sendiri.”
Reihan menatapnya sekilas, kemudian mengangkat alis dengan santai. “Aku tahu apa yang terbaik untukmu.”
Alya menghela napas dalam, menahan gejolak dalam hatinya. Ia tak ingin bertengkar di tempat umum, tapi dominasinya benar-benar membuatnya kesal.
Restoran itu cukup sepi, namun Alya bisa merasakan tatapan orang-orang di sekitar yang sesekali mencuri pandang ke arah mereka. Tidak, lebih tepatnya ke arah Reihan.
"Kenapa semua orang menatapmu seperti itu?" tanyanya pelan, mencoba menekan rasa penasaran yang terus mengganggunya.
Reihan tersenyum tipis, tetapi senyum itu lebih seperti peringatan daripada sesuatu yang menenangkan. "Karena mereka tahu siapa aku."
Alya menggigit bibir. "Dan aku tidak?"
"Kau akan tahu cepat atau lambat," ulangnya, seperti jawaban yang ia berikan tadi di mobil.
Alya semakin jengkel dengan misteri yang melingkupi pria ini. Ia ingin menuntut jawaban lebih, tetapi pelayan datang membawa makanan mereka.
Mereka makan dalam diam, tetapi Alya merasa ada sesuatu yang mengganjal. Pikirannya kembali ke surat yang ia terima semalam.
"Jangan percaya siapa pun. Jika kau ingin keluar, datanglah ke gudang belakang tengah malam. Sendirian."
Siapa pun yang menulis surat itu pasti memiliki alasan kuat. Tetapi sekarang, karena Reihan menangkapnya, apakah orang itu mengira Alya mengabaikannya? Atau lebih buruk lagi, apakah orang itu dalam bahaya sekarang?
Tiba-tiba, suara Reihan memecah lamunannya.
"Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu setelah ini."
Alya mengangkat wajahnya, menatapnya penuh tanya. "Apa?"
Reihan tidak langsung menjawab. Ia hanya menyesap anggurnya perlahan sebelum berkata dengan nada santai yang berbahaya, "Sesuatu yang akan membuatmu berpikir dua kali sebelum mencoba kabur lagi."
Dingin merayapi tulang belakang Alya.
Apa yang sebenarnya sedang direncanakan Reihan?
BAB 7 – DUNIA MILIK REIHAN (Lanjutan 4)
Alya menelan ludah. Kata-kata Reihan mengandung makna yang menakutkan, seolah ada sesuatu yang lebih besar di balik semua ini.
"Apa maksudmu?" tanyanya, mencoba terdengar tenang meski jantungnya berdebar kencang.
Reihan hanya menatapnya sekilas sebelum meletakkan garpunya. "Selesaikan makanmu dulu."
Alya kehilangan nafsu makannya, tapi ia tahu menolak hanya akan membuatnya terlihat lemah di mata Reihan. Dengan enggan, ia menyuapkan beberapa potong salmon ke mulutnya.
Reihan tampak puas melihat Alya menurut, lalu mengangkat tangannya sedikit. Seorang pria berpakaian serba hitam segera menghampiri meja mereka dan membungkuk.
"Tuan, mobil sudah siap."
Alya menegang. Jadi ke mana Reihan akan membawanya?
Tanpa menunggu jawaban, Reihan bangkit dan melangkah ke arah pintu. Alya tak punya pilihan selain mengikutinya.
---
Mobil melaju keluar dari pusat kota, meninggalkan gedung-gedung tinggi dan restoran mewah. Pemandangan berubah menjadi kawasan industri yang sepi, dengan gudang-gudang besar di sepanjang jalan.
Alya merasakan firasat buruk.
"Reihan, kita mau ke mana?" tanyanya, mencoba menyembunyikan kecemasannya.
"Kau akan tahu sebentar lagi," jawabnya tanpa ekspresi.
Mobil berhenti di depan sebuah gudang tua dengan pintu besi besar. Beberapa pria berbadan tegap sudah berdiri di sana, mengenakan pakaian hitam seperti pengawal pribadi.
Reihan turun lebih dulu. Ketika Alya ragu-ragu, ia membuka pintu untuknya. "Keluar."
Alya melangkah turun dengan hati-hati, matanya mengamati sekeliling. Ada sesuatu yang sangat salah dengan tempat ini.
Reihan berjalan lebih dulu, dan tanpa sadar Alya mengikuti, langkahnya ragu-ragu. Begitu mereka masuk ke dalam gudang, udara lembap dan bau besi langsung menyergap hidungnya. Lampu neon yang berkelap-kelip menerangi ruangan yang luas dan kosong, kecuali satu hal—
Seorang pria duduk di tengah ruangan, tangannya terikat di belakang kursi, wajahnya penuh luka.
Alya membeku di tempat.
"Reihan… apa ini?" suaranya hampir berbisik.
Reihan berjalan mendekati pria itu, lalu mencengkeram rambutnya, memaksa wajahnya terangkat.
"Apa kau mengenalnya, Alya?" tanyanya santai, seolah ini bukan hal yang mengerikan.
Alya menatap pria itu dengan mata melebar. Napasnya tercekat.
Itu pria yang bekerja sebagai salah satu pelayan di rumah Reihan.
Dan tiba-tiba, semuanya menjadi jelas.
Dialah yang mengirim surat itu. Dialah yang ingin membantunya kabur.
Alya mundur selangkah, tubuhnya gemetar.
"Kau tahu, Alya," suara Reihan terdengar dingin, "aku tidak suka pengkhianat."
Ia lalu mengeluarkan pistol dari balik jasnya dan mengarahkannya tepat ke kepala pria itu.
"Reihan! Jangan!" Alya hampir menjerit, matanya dipenuhi ketakutan.
Tapi Reihan tidak bergeming. Ia hanya menatap Alya dengan tatapan tajam yang membuat darahnya membeku.
"Kau ingin tahu apa yang terjadi pada orang yang mencoba mengambilmu dariku?" katanya pelan. "Kau akan melihatnya sekarang."
Jari Reihan bergerak ke pelatuk.
Alya hanya bisa menahan napas, jantungnya hampir berhenti.
DOR!
BAB 7 – DUNIA MILIK REIHAN (Lanjutan 5)
DOR!
Alya menjerit, tubuhnya menegang ketakutan. Namun, saat ia membuka matanya, pria yang terikat di kursi itu masih bernapas, meski tubuhnya gemetar hebat.
Peluru itu tidak mengenai kepalanya.
Reihan sengaja menembak di sampingnya—hanya sebagai peringatan.
Alya menghirup napas terputus-putus, tubuhnya melemas. Ia hampir yakin Reihan akan benar-benar membunuh pria itu di depan matanya.
Reihan menurunkan pistolnya, lalu menatap Alya dengan tajam. “Kau takut?”
Alya menggigit bibir, mencoba menutupi rasa gentarnya. “Apa yang kau inginkan dariku, Reihan?”
Pria itu tersenyum miring, lalu berjalan mendekatinya. “Aku ingin kau tahu satu hal.”
Ia mengangkat tangannya, menyentuh dagu Alya dengan lembut, tetapi sentuhannya terasa seperti belenggu yang mengikatnya.
“Kau tidak bisa lari dariku, Alya.”
Alya menelan ludah, tetapi ia tetap menatap Reihan tanpa mengalihkan pandangan. Ia tidak ingin terlihat lemah, meski tubuhnya masih gemetar.
Reihan menarik diri, lalu menoleh ke anak buahnya. “Singkirkan dia,” perintahnya, mengacu pada pria yang masih terikat.
Alya ingin memprotes, tetapi satu tatapan dari Reihan sudah cukup untuk membuatnya diam.
Tanpa kata, ia berbalik dan berjalan keluar dari gudang. Napasnya masih berat, pikirannya masih kacau.
Namun satu hal yang ia sadari dengan jelas—
Reihan tidak hanya posesif. Ia berbahaya.
Dan kini, ia benar-benar tidak punya jalan keluar.