bab 8

1336 Kata
BAB 8 – KEHIDUPAN BARU YANG SEMU (Lanjutan 2) Alya menelan ludah, jantungnya berdegup tak karuan. Ia ingin memeluk Satrio, ingin menangis di bahunya, ingin mengatakan betapa ia merindukan kehidupannya yang dulu. Tapi tidak bisa. Mata pengawal yang berdiri tak jauh dari sana terus mengawasinya. Ia yakin, setiap gerak-geriknya akan sampai ke telinga Reihan. “Alya?” Satrio mengernyit, menatapnya penuh kebingungan. “Kenapa diam saja? Kau baik-baik saja, kan?” Alya menarik napas dalam, mencoba mengatur ekspresinya. Ia harus bersikap normal. Ia harus melindungi Satrio. “Tentu saja, aku baik-baik saja.” Ia memaksakan senyum. “Aku hanya… sibuk belakangan ini.” Satrio masih menatapnya curiga. “Sibuk? Kau menghilang berbulan-bulan, Alya. Tidak ada yang tahu ke mana kau pergi. Aku bahkan mencoba mencari tahu dari keluargamu, tapi mereka bilang kau putus kontak.” Alya menggigit bibir. Ia tahu keluarganya sudah diamankan oleh Reihan, mereka diberikan kenyamanan, tetapi juga batasan. Mereka tidak bisa mencari atau menghubunginya sesuka hati. “Aku… pindah,” jawabnya pendek. “Ada beberapa hal yang harus kuurus.” Satrio menatapnya lekat-lekat, lalu melirik ke arah pengawal yang berdiri tak jauh dari mereka. Wajahnya mengeras. “Dia siapa?” tanyanya pelan, suaranya berubah dingin. Alya tahu Satrio bukan orang bodoh. “Dia hanya… teman,” jawabnya cepat. Satrio menyipitkan mata. “Teman? Atau seseorang yang mengawasimu?” Alya menegang. Ia harus menghentikan ini sebelum Satrio semakin curiga. “Aku benar-benar baik-baik saja, Satrio,” katanya, mencoba terdengar meyakinkan. “Jangan khawatir tentangku.” Satrio menghela napas. “Alya… kalau kau dalam masalah, kau bisa bicara padaku. Apa ada seseorang yang memaksamu?” Alya tersentak. Iya. Tapi ia tidak bisa mengatakannya. Ia menggenggam tangannya erat di bawah meja. “Aku serius, Satrio. Aku baik-baik saja. Aku hanya… tidak bisa banyak bicara sekarang.” Satrio tampak tidak puas dengan jawabannya, tetapi ia tidak mendesak lagi. Ia hanya menatapnya lama sebelum akhirnya berkata, “Kalau kau butuh bantuan, Alya… hubungi aku. Aku akan selalu ada.” Alya menggigit bibirnya untuk menahan air mata yang hampir jatuh. Tapi ia tahu, jika ia melibatkan Satrio lebih jauh… Reihan tidak akan membiarkan lelaki itu tetap hidup. BAB 8 – KEHIDUPAN BARU YANG SEMU (Lanjutan 2) Alya menelan ludah, jantungnya berdegup tak karuan. Ia ingin memeluk Satrio, ingin menangis di bahunya, ingin mengatakan betapa ia merindukan kehidupannya yang dulu. Tapi tidak bisa. Mata pengawal yang berdiri tak jauh dari sana terus mengawasinya. Ia yakin, setiap gerak-geriknya akan sampai ke telinga Reihan. “Alya?” Satrio mengernyit, menatapnya penuh kebingungan. “Kenapa diam saja? Kau baik-baik saja, kan?” Alya menarik napas dalam, mencoba mengatur ekspresinya. Ia harus bersikap normal. Ia harus melindungi Satrio. “Tentu saja, aku baik-baik saja.” Ia memaksakan senyum. “Aku hanya… sibuk belakangan ini.” Satrio masih menatapnya curiga. “Sibuk? Kau menghilang berbulan-bulan, Alya. Tidak ada yang tahu ke mana kau pergi. Aku bahkan mencoba mencari tahu dari keluargamu, tapi mereka bilang kau putus kontak.” Alya menggigit bibir. Ia tahu keluarganya sudah diamankan oleh Reihan, mereka diberikan kenyamanan, tetapi juga batasan. Mereka tidak bisa mencari atau menghubunginya sesuka hati. “Aku… pindah,” jawabnya pendek. “Ada beberapa hal yang harus kuurus.” Satrio menatapnya lekat-lekat, lalu melirik ke arah pengawal yang berdiri tak jauh dari mereka. Wajahnya mengeras. “Dia siapa?” tanyanya pelan, suaranya berubah dingin. Alya tahu Satrio bukan orang bodoh. “Dia hanya… teman,” jawabnya cepat. Satrio menyipitkan mata. “Teman? Atau seseorang yang mengawasimu?” Alya menegang. Ia harus menghentikan ini sebelum Satrio semakin curiga. “Aku benar-benar baik-baik saja, Satrio,” katanya, mencoba terdengar meyakinkan. “Jangan khawatir tentangku.” Satrio menghela napas. “Alya… kalau kau dalam masalah, kau bisa bicara padaku. Apa ada seseorang yang memaksamu?” Alya tersentak. Iya. Tapi ia tidak bisa mengatakannya. Ia menggenggam tangannya erat di bawah meja. “Aku serius, Satrio. Aku baik-baik saja. Aku hanya… tidak bisa banyak bicara sekarang.” Satrio tampak tidak puas dengan jawabannya, tetapi ia tidak mendesak lagi. Ia hanya menatapnya lama sebelum akhirnya berkata, “Kalau kau butuh bantuan, Alya… hubungi aku. Aku akan selalu ada.” Alya menggigit bibirnya untuk menahan air mata yang hampir jatuh. Tapi ia tahu, jika ia melibatkan Satrio lebih jauh… Reihan tidak akan membiarkan lelaki itu tetap hidup. BAB 8 – KEHIDUPAN BARU YANG SEMU (Lanjutan 3) Alya menundukkan kepala, menyembunyikan sorot matanya yang basah. Ia tidak boleh menangis, tidak di depan Satrio. Tidak di saat pengawal Reihan masih mengawasi mereka. Satrio menghela napas panjang. Tatapannya penuh kekhawatiran, tetapi juga frustrasi. Ia ingin membantu, itu jelas. Tapi Alya tidak bisa memberinya celah sekecil apa pun. “Alya…” Suara Satrio melembut. Ia mengulurkan tangannya di atas meja, seolah ingin menggenggam tangan Alya, tapi tidak jadi. “Aku tidak akan memaksamu bicara. Tapi aku ingin kau tahu, kau tidak sendirian.” Kata-kata itu menusuk hati Alya. Tidak. Ia sendirian. Dulu, ia memiliki kebebasan. Ia bisa pergi ke mana pun yang ia mau, bertemu siapa pun yang ia inginkan. Tapi sejak Reihan menyeretnya ke dalam dunianya, semua itu hanya tinggal kenangan. “Aku harus pergi.” Alya cepat-cepat berdiri, berusaha menahan gejolak emosinya. Satrio ikut berdiri, raut wajahnya berubah cemas. “Tunggu—Alya, setidaknya biarkan aku mengantarmu.” Alya menggeleng cepat. “Tidak perlu.” Ia bisa merasakan tatapan pengawal yang semakin tajam. Ia tidak boleh berlama-lama di sini. Jika Reihan tahu ia bertemu seseorang dari masa lalunya, apalagi seorang pria, ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. “Tapi—” “Satrio, tolong.” Alya menatapnya dengan penuh harap. “Jangan cari aku lagi.” Satrio membeku. Raut wajahnya yang awalnya penuh kekhawatiran kini berubah menjadi keterkejutan. “Apa maksudmu?” Alya menelan ludah. Ia harus melindunginya. “Aku sudah punya kehidupan baru,” lanjutnya dengan suara lirih. “Dan kau… kau tidak bisa menjadi bagian darinya.” Satrio terdiam lama, menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Kemudian, ia mengangguk pelan. “Baiklah.” Suaranya terdengar berat. “Kalau itu yang kau mau.” Alya mengangguk tanpa berkata apa-apa lagi, lalu berbalik pergi. Ia tidak berani melihat ke belakang. Karena jika ia melakukannya… ia tahu ia akan menyesalinya. --- Di dalam mobil, Alya menatap kosong ke luar jendela. Pikirannya masih dipenuhi wajah Satrio—wajah yang dulu memberinya rasa nyaman, rasa aman. Tapi semua itu sudah tidak ada lagi. “Siapa dia?” Suara dingin itu membuat tubuh Alya menegang. Ia menoleh dan mendapati Reihan duduk di sebelahnya, menatapnya dengan mata hitam yang tajam. Ia ada di sana. Ia melihatnya. Jantung Alya berdegup kencang. “Jawab aku, Alya.” Suara Reihan terdengar lebih dingin kali ini. “Siapa pria itu?” BAB 8 – KEHIDUPAN BARU YANG SEMU (Lanjutan 4) Alya menggigit bibir, berusaha menyembunyikan kegelisahannya. Napasnya terasa berat, seolah udara dalam mobil tiba-tiba menipis. “Dia hanya teman lama,” jawabnya, mencoba terdengar setenang mungkin. Reihan tidak langsung menanggapi. Tatapannya tetap menusuk, seolah sedang menelanjangi kebohongan dalam setiap kata Alya. “Teman lama?” ulangnya, nada suaranya berbahaya. “Kenapa aku merasa kau menyembunyikan sesuatu?” Alya mengepalkan tangannya di pangkuannya, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Ia tahu betul bagaimana sifat Reihan—posesif, mudah marah, dan tidak segan-segan menyingkirkan siapa pun yang dianggap sebagai ancaman. “Tidak ada yang perlu disembunyikan,” kata Alya pelan. Hening. Reihan masih menatapnya tajam, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda dalam sorot matanya—sesuatu yang lebih gelap, lebih mengancam. Tiba-tiba, ia mencengkeram dagu Alya, memaksanya menatap langsung ke matanya. “Kau tahu aku tidak suka dibohongi, Alya.” Suaranya rendah, tapi penuh ancaman. “Siapa dia bagimu?” Alya menelan ludah, tubuhnya sedikit gemetar. “Dia bukan siapa-siapa,” bisiknya. Cengkeraman Reihan mengendur, tapi tatapannya tetap tajam. “Bagus.” Ia melepaskan Alya dengan kasar, lalu menyandarkan punggungnya ke jok mobil. “Karena jika dia lebih dari sekadar teman lama…” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi Alya bisa menebak kelanjutannya. Satrio dalam bahaya. Alya mengalihkan pandangannya ke luar jendela, menyembunyikan air mata yang hampir jatuh. Ia harus menemukan cara untuk melindungi Satrio sebelum semuanya terlambat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN