bab 9

1333 Kata
BAB 9 – KURUNGAN TAK TERLIHAT Alya duduk diam di dalam kamar luasnya, tetapi dadanya terasa sesak. Sejak pertemuannya dengan Satrio, ia tidak bisa tenang. Reihan belum membahas lagi tentang pria itu sejak mereka pulang, tetapi Alya tahu, diamnya Reihan bukan pertanda baik. Ia bangkit dari sofa, berjalan ke arah jendela besar yang menghadap taman belakang rumah mewah ini. Matahari sudah mulai tenggelam, langit berubah jingga keemasan, tetapi keindahan itu tidak bisa menghiburnya. Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Alya menoleh cepat dan mendapati Reihan masuk dengan langkah santai. Ia mengenakan kemeja hitam dengan beberapa kancing teratas terbuka, memperlihatkan kulitnya yang berotot. Tatapannya tetap tajam seperti biasa, tetapi ada sesuatu yang lain di sana—sesuatu yang membuat Alya semakin tidak tenang. Reihan berjalan mendekat, lalu berdiri di hadapannya. “Aku tidak suka saat kau bertemu dengan seseorang tanpa seizinku, Alya.” Alya mengepalkan tangannya. “Aku tidak sengaja bertemu dengannya,” jawabnya hati-hati. Reihan menyeringai, tetapi tidak ada kehangatan dalam senyumannya. “Benarkah? Atau kau masih berharap bisa kembali ke kehidupan lamamu?” Alya terdiam. “Jangan coba-coba lari, Alya.” Suara Reihan berubah dingin. Ia mengangkat dagu Alya dengan dua jarinya, memaksanya menatap mata hitamnya yang penuh kuasa. “Kau milikku sekarang. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu dariku.” Jantung Alya berdegup kencang, bukan hanya karena ketakutan, tetapi juga karena sesuatu yang lain—sesuatu yang tidak ingin ia akui. Ada ketertarikan aneh dalam dirinya setiap kali Reihan menunjukkan d******i seperti ini. Ia membencinya, tetapi di sisi lain… tubuhnya bereaksi berbeda. Reihan menatapnya lama, lalu melepaskan dagunya perlahan. “Aku sudah memperingatkanmu, Alya,” bisiknya sebelum berbalik pergi. “Jangan membuatku marah.” Setelah pintu tertutup, Alya akhirnya bisa menghela napas. Ia tahu ia sedang dikurung dalam sangkar emas. Dan semakin hari, semakin sulit baginya untuk menemukan jalan keluar. BAB 9 – KURUNGAN TAK TERLIHAT (Lanjutan 2) Alya duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah pintu yang baru saja ditutup Reihan. Dadanya masih naik-turun cepat, jantungnya berdegup kencang akibat kata-kata pria itu. "Jangan membuatku marah." Peringatan itu bukan sekadar ancaman kosong. Alya tahu betapa berbahayanya Reihan jika ia sampai benar-benar murka. Ia menghela napas panjang, berusaha menenangkan pikirannya. Ia tidak boleh panik. Ia harus tetap tenang jika ingin mencari cara keluar dari situasi ini. Perlahan, ia berjalan ke jendela besar yang menghadap taman. Cahaya bulan mulai menggantikan matahari yang tenggelam, menciptakan bayangan panjang di lantai. Matanya menyapu area luar. Dua pria berbadan tegap berdiri di sudut halaman, jelas merupakan pengawal Reihan. Mereka tidak bergerak sedikit pun, seolah menunggu perintah. Alya menggigit bibir. Mereka tidak hanya menjaga rumah ini. Mereka juga memastikan ia tidak bisa kabur. Sebuah ketukan di pintu mengejutkannya. Alya menoleh cepat. “Masuk,” katanya, suaranya sedikit bergetar. Pintu terbuka perlahan, dan seorang pelayan perempuan masuk dengan kepala tertunduk. “Nona Alya, Tuan Reihan meminta Anda turun untuk makan malam.” Alya menghela napas pelan. “Baik, aku akan segera ke sana.” Pelayan itu mengangguk sebelum menutup pintu kembali. Alya memejamkan mata sejenak. Tidak ada pilihan lain—ia harus bertahan. Untuk sekarang. ~~~ Di ruang makan, Reihan sudah duduk di kursi utamanya. Tatapannya langsung tertuju pada Alya saat ia masuk. Ia menunggu. Alya melangkah perlahan, mengambil tempat di seberang Reihan. Makanan mewah tersaji di meja, tetapi ia tidak memiliki nafsu makan sedikit pun. Reihan menyandarkan punggungnya, mengamati Alya dengan tatapan tajam. “Kenapa wajahmu tegang?” tanyanya. Alya menegakkan bahunya. “Aku baik-baik saja.” Reihan terkekeh kecil, seolah tidak percaya. “Kau tidak pandai berbohong, Alya.” Alya menelan ludah. Reihan menyandarkan sikunya di meja, menatapnya lekat-lekat. “Katakan padaku,” suaranya lembut tetapi berbahaya, “seberapa penting pria itu bagimu?” Jantung Alya mencelos. Ia tidak menyangka Reihan akan mengungkit ini lagi—secepat ini. Tangannya mengepal di bawah meja. Ia harus memilih kata-katanya dengan hati-hati. “Dia masa lalu.” Alya mengangkat dagunya, mencoba menunjukkan ketegasan. “Tidak ada yang perlu kau khawatirkan.” Reihan menyipitkan mata, seolah menimbang-nimbang jawaban itu. Kemudian, sudut bibirnya terangkat sedikit. “Bagus,” katanya. “Karena aku tidak suka berbagi.” Alya tidak menanggapi. Ia hanya menunduk, menusuk-nusuk makanannya tanpa benar-benar ingin memakannya. Sementara itu, Reihan terus mengawasinya, seolah membaca setiap gerakan kecilnya. Alya tahu. Ia mungkin masih bisa berbohong sekarang. Tapi jika Reihan sampai mengetahui kebenaran tentang perasaannya pada Satrio… Pria itu tidak akan dibiarkan hidup. BAB 9 – KURUNGAN TAK TERLIHAT (Lanjutan 3) Alya mencoba mengendalikan ekspresinya saat makan malam terus berlanjut dalam keheningan yang mencekam. Ia bisa merasakan tatapan Reihan yang terus mengawasinya, seolah mencari tanda-tanda kebohongan dalam sikapnya. Di luar, angin malam berhembus pelan, menggerakkan tirai tipis di tepi ruangan. Suasana begitu tenang, tetapi justru itu yang membuat Alya semakin gelisah. “Ada sesuatu yang ingin kuberitahukan padamu.” Suara Reihan tiba-tiba memecah kesunyian. Alya mendongak, menatap pria itu dengan hati-hati. “Apa?” Reihan meletakkan garpunya, lalu bersandar di kursi dengan ekspresi santai—tetapi matanya tetap tajam. “Aku baru saja memberikan peringatan kepada seseorang.” Napas Alya langsung tercekat. Tangannya mencengkeram kuat sendok yang sedang dipegangnya. “Siapa?” tanyanya, berusaha terdengar tenang meski dadanya mulai berdebar kencang. Reihan tersenyum kecil, tetapi ada bahaya di balik senyumannya. “Seseorang yang tampaknya sangat ingin tahu tentangmu.” Darah Alya seakan membeku. Satrio. “Apa yang kau lakukan padanya?” suaranya hampir berbisik. Reihan mengetuk meja dengan jarinya, seolah menikmati reaksi Alya. “Aku hanya memastikan dia tahu batasannya. Aku tidak suka ada orang lain yang mencoba mengganggu apa yang sudah menjadi milikku.” Alya mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia ingin marah, ingin berteriak, tetapi ia tahu itu hanya akan membuat keadaan semakin buruk. “Apa kau menyakitinya?” tanyanya, mencoba tetap tegar. Reihan mengangkat alis, seolah terhibur dengan pertanyaan itu. “Belum.” Alya menahan napas. “Tapi jika dia masih berani mencari-cari tentangmu…” Reihan mencondongkan tubuhnya ke depan, menatapnya dengan intens. “Aku tidak akan sebaik ini lagi, Alya.” Ketakutan menjalar ke seluruh tubuhnya. Satrio dalam bahaya. Dan itu semua karena dirinya. Alya harus melakukan sesuatu. Ia tidak bisa membiarkan Reihan menghancurkan satu-satunya orang yang masih peduli padanya. Tetapi bagaimana? Saat ini, ia hanyalah burung dalam sangkar emas Reihan—dan setiap gerak-geriknya selalu diawasi. Ia harus menemukan celah. Sebelum semuanya terlambat. BAB 9 – KURUNGAN TAK TERLIHAT (Lanjutan 4) Alya menahan napas, berusaha mengendalikan gemuruh dalam dadanya. Setiap kata yang keluar dari mulut Reihan semakin menegaskan satu hal—ia tidak akan membiarkan siapa pun mendekati Alya, apalagi seseorang dari masa lalunya. Tangannya mengepal di atas paha, kuku-kukunya hampir melukai kulitnya sendiri. “Kenapa kau melakukan ini, Reihan?” tanyanya, suaranya nyaris bergetar. Reihan menyeringai, mengangkat gelas anggurnya sebelum menyesapnya perlahan. “Melakukan apa?” “Kau tahu maksudku.” Alya menatapnya tajam. “Kau sudah mengambilku dari kehidupanku. Apa itu masih belum cukup?” Reihan meletakkan gelasnya, lalu menyandarkan tubuhnya di kursi dengan ekspresi santai—tetapi ada bahaya dalam sorot matanya. “Aku tidak mengambilmu,” koreksinya. “Aku hanya memastikan kau berada di tempat yang seharusnya.” Alya menggeleng pelan, merasa lelah dengan semua ini. “Kau mengurungku.” Reihan menatapnya lama sebelum akhirnya terkekeh kecil. “Kalau aku benar-benar mengurungmu, kau tidak akan duduk di sini, Alya.” Alya merasakan hawa dingin menjalar ke seluruh tubuhnya. Kata-kata Reihan mengandung ancaman terselubung, seolah mengingatkannya bahwa ia masih punya kebebasan—tetapi kebebasan itu bisa diambil kapan saja. Ia harus berhati-hati. Ia harus mencari cara untuk memastikan Satrio tetap aman, tanpa membuat Reihan curiga. Alya menarik napas dalam, mencoba mengendalikan emosinya. “Aku ingin tidur,” katanya akhirnya, memilih untuk mengakhiri pembicaraan ini sebelum ia kehilangan kendali. Reihan mengangkat bahu, tidak menahan kepergiannya. “Baiklah. Istirahatlah.” Tapi sebelum Alya sempat berdiri, Reihan menambahkan sesuatu yang membuat jantungnya mencelos. “Tapi ingat, Alya.” Tatapannya tajam, suaranya rendah dan penuh kuasa. “Jangan pernah mencoba mengkhianatiku.” Alya menelan ludah, lalu segera melangkah pergi. Namun, dalam hatinya, ia tahu satu hal pasti—ia harus menemukan jalan keluar sebelum Reihan benar-benar menghancurkan hidupnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN