BAB 10 – DIAM-DIAM MENCARI CELAH
Alya berbaring di ranjangnya, tetapi matanya tetap terbuka. Langit-langit kamar yang mewah terasa begitu menekan, seolah mengingatkannya bahwa ia adalah burung dalam sangkar emas yang tidak bisa terbang ke mana pun.
Kata-kata Reihan tadi masih terngiang di kepalanya.
"Jangan pernah mencoba mengkhianatiku."
Alya tahu itu bukan sekadar peringatan biasa. Itu adalah ancaman.
Ia menghela napas panjang, mencoba berpikir jernih. Jika ia ingin mencari cara keluar dari situasi ini, ia tidak bisa bertindak gegabah. Ia harus berhati-hati.
Namun, sebelum ia sempat memikirkan rencananya lebih jauh, ponselnya yang tergeletak di meja lampu tiba-tiba bergetar.
Alya menegang.
Ia menoleh dengan hati-hati, lalu meraihnya. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
"Alya, kau baik-baik saja? Kita perlu bicara. – S"
Jantungnya berdegup kencang.
Satrio.
Tangannya sedikit gemetar saat ia menatap pesan itu. Reihan bilang ia sudah memberi peringatan pada Satrio. Tapi jika Satrio masih berani menghubunginya, itu berarti…
Ia belum menyerah.
Alya menatap pintu kamarnya. Ia tahu di luar sana pasti ada pengawal yang berjaga. Jika mereka melihatnya melakukan sesuatu yang mencurigakan, mereka pasti akan melaporkannya pada Reihan.
Ia harus hati-hati.
Tangannya bergerak cepat di atas layar, membalas pesan itu.
"Aku baik-baik saja. Jangan hubungi aku lagi. Ini berbahaya."
Hanya butuh beberapa detik sebelum balasan datang.
"Alya, aku tahu ada yang tidak beres. Aku tidak akan diam saja. Aku akan mencari cara untuk menolongmu."
Alya mencengkeram ponselnya erat.
Tidak. Satrio tidak boleh melakukan ini. Jika Reihan sampai tahu, nyawanya bisa terancam.
Ia buru-buru mengetik balasan.
"Jangan bodoh, Satrio. Aku baik-baik saja. Lupakan aku."
Tapi sebelum ia sempat mengirimnya, sebuah suara terdengar dari belakang.
“Apa yang kau lakukan?”
Jantung Alya hampir berhenti.
Ia menoleh perlahan dan mendapati Reihan berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di d**a, tatapan hitamnya menusuk tajam ke arahnya.
Alya buru-buru mematikan layar ponselnya dan menyembunyikannya di balik selimut. “Tidak ada,” jawabnya cepat, berusaha terdengar setenang mungkin.
Reihan tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat, lalu duduk di tepi ranjang, tepat di samping Alya.
“Apa yang kau sembunyikan, hm?” suaranya rendah, tetapi bahaya terasa jelas di dalamnya.
Alya menelan ludah, tubuhnya menegang.
Jika Reihan tahu tentang pesan itu…
Satrio tidak akan selamat.
BAB 10 – DIAM-DIAM MENCARI CELAH (Lanjutan 2)
Alya menggenggam erat selimutnya, berusaha menyembunyikan kegelisahannya. Reihan menatapnya dalam, seolah membaca setiap gerakan kecil yang ia buat.
“Ada yang ingin kau katakan padaku?” suara Reihan terdengar lembut, tetapi Alya tahu, kelembutan itu bisa berubah menjadi sesuatu yang mengerikan jika ia membuat kesalahan.
Ia menelan ludah, mencoba tetap tenang. “Aku hanya melihat-lihat ponsel sebelum tidur.”
Reihan menyipitkan mata. “Menarik.” Ia mengulurkan tangan. “Berikan ponselmu.”
Jantung Alya berdegup kencang.
Ia tidak punya pilihan. Jika ia menolak, itu hanya akan semakin menimbulkan kecurigaan.
Perlahan, ia mengulurkan ponselnya pada Reihan, berharap pesan dari Satrio tidak langsung terlihat.
Reihan menerimanya, menyalakan layar, dan menelusuri isi ponsel itu dengan tatapan tajam. Ruangan menjadi sangat sunyi, hanya terdengar suara detak jam di dinding.
Alya berusaha tetap tenang, tetapi keringat dingin mulai mengalir di punggungnya.
Tiba-tiba, Reihan berhenti menggulir.
Matanya menatap layar, lalu beralih ke Alya.
“Kau masih berhubungan dengannya.”
Suara itu begitu dingin hingga membuat Alya merinding.
“Aku… tidak—”
Reihan menunjukkan layar ponselnya. Pesan dari Satrio ada di sana, jelas terlihat.
Darah Alya seakan membeku.
Dalam sekejap, Reihan meremas ponsel itu dengan satu tangan, dan…
CRACK!
Layar retak, suara kaca pecah memenuhi ruangan.
Alya tersentak, matanya melebar.
Reihan melempar ponsel itu ke lantai dengan ekspresi gelap. “Aku sudah memperingatkanmu, Alya.”
Alya menahan napas. Tubuhnya menegang saat Reihan mencondongkan tubuhnya ke arahnya, menatapnya tajam.
“Seberapa penting dia bagimu?” suaranya rendah, penuh ancaman.
Alya menggigit bibir, mencoba mencari jawaban yang tidak akan memperburuk keadaan. “Dia hanya teman lama,” bisiknya.
Reihan mencengkeram dagunya, memaksanya menatap mata hitamnya yang penuh kemarahan.
“Aku tidak suka berbagi,” desisnya. “Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambilmu dariku.”
Alya menelan ludah. Ia tahu, malam ini akan menjadi titik balik.
Jika ia tidak berhati-hati…
Reihan mungkin akan benar-benar menghancurkan hidup Satrio.
BAB 10 – DIAM-DIAM MENCARI CELAH (Lanjutan 3)
Alya menahan napas saat jari-jari Reihan mencengkeram dagunya. Tatapan pria itu tajam, penuh kegelapan yang menekan.
“Aku sudah bersabar, Alya.” Suaranya rendah, tetapi mengandung ancaman yang jelas. “Tapi kau terus mencoba melewati batas.”
Alya menggigit bibirnya, mencoba mengabaikan rasa sakit di dagunya akibat cengkeraman Reihan.
“Aku tidak mencoba apa-apa,” katanya, berusaha terdengar setenang mungkin.
Reihan menyeringai kecil, tetapi tidak ada kehangatan di sana. “Lalu kenapa kau masih membalas pesannya? Apa kau mengharapkan dia menyelamatkanmu?”
Alya menelan ludah. Ia harus memikirkan jawabannya dengan hati-hati.
“Aku hanya tidak ingin dia dalam masalah,” akhirnya ia berkata jujur. “Aku tahu kau tidak akan tinggal diam jika seseorang mengusikku.”
Reihan memperhatikan ekspresinya lama, seolah menimbang-nimbang ucapannya. Perlahan, cengkeramannya melonggar, tetapi matanya masih mengunci Alya dalam tekanan yang tak terlihat.
“Bagus kalau kau tahu.”
Alya menghembuskan napas lega dalam hati, tetapi itu hanya berlangsung sebentar sebelum Reihan berbicara lagi.
“Tapi sepertinya aku harus memastikan dia tidak menjadi ancaman.”
Jantung Alya mencelos. “Reihan, jangan—”
Reihan menyentuh bibirnya dengan jari telunjuk, menyuruhnya diam. “Aku tidak suka membiarkan kemungkinan berbahaya terbuka.”
Alya menggeleng cepat. “Dia tidak akan melakukan apa-apa.”
Reihan mengangkat alis. “Kau begitu yakin?”
“Iya.” Alya menatapnya penuh harap. “Aku sudah mengatakan padanya untuk berhenti mencariku. Jika kau melakukan sesuatu padanya sekarang, itu hanya akan membuatnya semakin curiga.”
Reihan terdiam sejenak. Ia menatap Alya dalam-dalam, lalu tersenyum kecil.
“Aku suka cara berpikirmu.” Ia mengusap pipinya lembut, kontras dengan ancaman yang baru saja ia lontarkan. “Tapi ingat, jika dia masih mencoba mendekat… aku tidak akan berpikir dua kali untuk menyingkirkannya.”
Alya tidak berani menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, berusaha menahan emosinya.
Reihan berdiri dari tempat tidur, mengambil ponsel Alya yang sudah retak dan membuangnya ke meja.
“Besok aku akan memberimu ponsel baru. Tanpa nomor lama.”
Alya menggigit bibirnya. Itu berarti ia akan benar-benar kehilangan akses ke dunia luar.
“Sebaiknya kau tidur,” lanjut Reihan. “Jangan membuatku marah lagi, Alya.”
Setelah mengatakan itu, Reihan berjalan keluar, meninggalkannya dalam keheningan yang mencekam.
Alya memeluk dirinya sendiri.
Sekarang, ia tidak hanya harus mencari cara untuk keluar dari cengkeraman Reihan…
Ia juga harus memastikan Satrio tidak ikut hancur karena dirinya.
BAB 10 – DIAM-DIAM MENCARI CELAH (Lanjutan 4)
Alya duduk di tepi ranjang, menatap ponselnya yang sudah hancur. Retakan di layar itu seolah mencerminkan kehidupannya saat ini—terperangkap, rapuh, dan di ambang kehancuran.
Ia menggigit bibirnya, menahan emosi yang bergejolak di dadanya. Jika Reihan benar-benar berniat menyingkirkan Satrio, maka tidak ada lagi yang bisa menghentikannya.
Tidak ada yang bisa menolak keinginannya.
Kecuali dirinya sendiri.
Alya menghela napas panjang, mencoba berpikir jernih. Ia tidak bisa gegabah. Setiap langkah harus diperhitungkan. Satu kesalahan kecil saja, Reihan akan tahu.
Ia harus mencari cara untuk memastikan Satrio tidak lagi menghubunginya. Setidaknya, untuk sementara waktu, sampai ia menemukan jalan keluar dari semua ini.
Perlahan, ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju jendela. Dari lantai atas ini, ia bisa melihat halaman luas rumah mewah Reihan yang dijaga ketat. Beberapa pengawal berpatroli, mata mereka waspada.
Tidak ada celah.
Alya mengepalkan tangan. Tidak mungkin ia bisa kabur begitu saja. Satu-satunya cara adalah bermain dengan aturan Reihan—sampai ia menemukan titik lemah yang bisa dimanfaatkan.
Besok, ia akan mendapatkan ponsel baru.
Itu mungkin bisa menjadi kesempatannya.
Namun sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, suara ketukan terdengar dari pintu kamarnya.
Alya menegang. “Siapa?”
Pintu terbuka, dan seorang wanita masuk. Wajahnya lembut, tetapi sorot matanya penuh kehati-hatian.
“Bu Alya, saya Liana. Saya ditugaskan untuk menjadi pelayan pribadi Anda mulai hari ini.”
Alya mengerjap. Pelayan pribadi?
Belum pernah ada sebelumnya.
Reihan pasti yang mengatur ini.
Satu lagi bentuk pengawasan.
Alya menahan kekecewaannya dan memasang senyum tipis. “Baik, Liana. Senang bertemu denganmu.”
Wanita itu sedikit membungkuk. “Jika Anda butuh sesuatu, saya akan selalu ada di luar kamar.”
Itu bukan sekadar tawaran bantuan. Itu adalah peringatan halus—bahwa setiap gerakannya akan terus diawasi.
Alya mengangguk pelan. “Terima kasih.”
Saat Liana menutup pintu dan meninggalkannya sendiri, Alya tahu satu hal pasti.
Reihan tidak akan membiarkannya lepas begitu saja.
Dan waktu yang dimilikinya semakin sedikit.