BAB 11 – PERCEPAT PERNIKAHAN
Alya terbangun dengan perasaan gelisah. Tidur malamnya tidak nyenyak, pikirannya masih dipenuhi berbagai cara untuk keluar dari cengkeraman Reihan. Namun, semua rencana yang ia buat selalu berakhir di jalan buntu.
Saat ia masih mencoba mengumpulkan kesadaran, pintu kamarnya diketuk. Liana masuk dengan kepala sedikit tertunduk, membawa nampan berisi sarapan.
“Bu Alya, Tuan Reihan ingin bertemu dengan Anda di ruang makan,” katanya lembut.
Alya mengernyit. Panggilan pagi ini terasa berbeda. Biasanya, Reihan tidak terlalu peduli apakah ia sudah makan atau belum. Ada sesuatu yang tidak beres.
Dengan langkah hati-hati, ia berjalan menuju ruang makan. Begitu tiba, matanya langsung bertemu dengan tatapan tajam Reihan yang duduk dengan santai di kursi utama.
“Duduk,” perintahnya singkat.
Alya menurut, duduk di seberangnya dengan jantung berdebar. Reihan menyesap kopinya sebelum menatapnya dengan penuh kepemilikan.
“Kita akan menikah minggu depan,” ucapnya tanpa basa-basi.
Alya membeku. “Apa?”
“Aku sudah menyiapkan semuanya. Undangan, tempat, bahkan gaun pengantinmu.”
Alya merasakan napasnya tercekat. Ia tahu Reihan menginginkan pernikahan ini, tapi tidak menyangka akan secepat ini.
“Kenapa terburu-buru?” tanyanya, mencoba menutupi keterkejutannya.
Reihan menyeringai. “Karena aku tidak suka menunggu. Dan karena aku tidak ingin ada orang lain yang mencoba mendekatimu.”
Alya menelan ludah. Ia tahu ini bukan sekadar soal pernikahan. Ini tentang penguasaan. Tentang memastikan bahwa ia benar-benar menjadi milik Reihan, tanpa ada jalan keluar.
“Aku belum siap,” ujar Alya pelan, mencoba memberi alasan.
Reihan meletakkan cangkirnya, lalu mencondongkan tubuh ke depan. “Kau tidak perlu siap. Kau hanya perlu menurut.”
Tatapan pria itu begitu dingin, namun di baliknya ada kilatan obsesi yang semakin kuat.
Alya tahu—ini bukan hanya pernikahan biasa. Ini adalah penjara tanpa dinding.
Dan waktunya benar-benar hampir habis.
BAB 11 – PERCEPAT PERNIKAHAN (Lanjutan)
Alya merasa tenggorokannya mengering. Reihan menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa dibantah—tatapan seorang pria yang tidak akan menerima penolakan.
“Apa ada yang ingin kau protes?” suaranya terdengar lembut, tapi ada ancaman tersirat di dalamnya.
Alya menggigit bibirnya, pikirannya berpacu mencari cara untuk menunda pernikahan ini. Tapi dengan pengawasan ketat dan kekuasaan Reihan yang begitu besar, apa yang bisa ia lakukan?
“Tidak,” akhirnya ia menjawab dengan suara lirih.
Reihan tersenyum tipis, lalu berdiri. “Bagus. Mulai hari ini, kau akan diurus oleh tim khusus untuk memastikan semuanya sempurna. Aku ingin kau terlihat cantik di hari pernikahan kita.”
Ia berjalan mendekat, tangannya terulur menyentuh dagu Alya, mengangkatnya agar menatap langsung ke matanya.
“Aku ingin kau mengerti satu hal, Alya.” Suaranya turun menjadi bisikan. “Aku tidak akan membiarkanmu pergi. Pernikahan ini akan terjadi, cepat atau lambat. Jadi, jangan pernah berpikir untuk melawan.”
Alya menahan napas saat ibu jari Reihan mengusap pipinya. Sentuhan itu lembut, tetapi terasa seperti belenggu yang semakin mengikatnya.
“Mulai besok, kau akan mulai mencoba gaun.”
Dengan itu, Reihan melangkah pergi, meninggalkan Alya yang masih terdiam di kursinya.
Saat pintu tertutup, ia menghela napas panjang, dadanya terasa sesak. Ia harus menemukan cara untuk keluar sebelum semuanya terlambat.
Tapi bagaimana caranya, jika setiap langkahnya selalu diawasi?
BAB 11 – PERCEPAT PERNIKAHAN (Lanjutan 2)
Alya masih duduk terpaku di kursinya. Kata-kata Reihan terus terngiang di kepalanya—tidak ada pilihan, tidak ada jalan keluar. Ia menatap tangannya yang gemetar di atas meja, hatinya dipenuhi ketakutan dan kebingungan.
Pernikahan ini bukan sekadar pernikahan biasa. Ini adalah pengikat, sebuah cara bagi Reihan untuk mengklaimnya sepenuhnya. Setelah ia menikah dengannya, maka tidak ada lagi yang bisa menolongnya.
Liana datang dengan wajah cemas. “Bu Alya, Anda baik-baik saja?”
Alya terkejut mendengar nada khawatir dalam suara pelayan itu. Sejak pertama kali bertemu, Liana tampak seperti mata-mata Reihan, tetapi kali ini Alya merasa ada sesuatu yang berbeda.
“Aku…” Alya menggigit bibirnya. Ia tidak bisa sembarangan bicara. Tapi di saat yang sama, ia butuh seseorang untuk mendengarnya.
Liana ragu sejenak sebelum berkata, “Saya tahu Anda tidak menginginkan ini.”
Mata Alya membesar. “Apa maksudmu?”
Liana menatapnya dengan hati-hati sebelum melanjutkan dengan suara lebih pelan, “Saya sudah bekerja untuk Tuan Reihan cukup lama. Saya tahu seperti apa dia. Dan saya juga tahu seperti apa orang-orang yang ada di sekitarnya.”
Alya menahan napas. Apakah ini berarti Liana… bukan sepenuhnya orang Reihan?
“Tuan Reihan tidak akan membiarkan Anda pergi,” lanjut Liana. “Tapi jika Anda benar-benar ingin menemukan jalan keluar… saya mungkin bisa membantu.”
Jantung Alya berdegup kencang. Harapan kecil menyelinap di hatinya.
“Tapi kita harus sangat berhati-hati,” Liana memperingatkan. “Karena sekali Tuan Reihan tahu, maka bukan hanya Anda yang akan berada dalam bahaya… tapi saya juga.”
Alya menatap Liana dalam-dalam. Ia tahu ini adalah risiko besar. Tapi ini juga mungkin satu-satunya kesempatan yang ia miliki.
Dengan suara nyaris berbisik, Alya berkata, “Aku ingin keluar dari sini.”
Liana menarik napas panjang sebelum mengangguk pelan.
“Maka kita harus mulai merencanakan dari sekarang.”
BAB 11 – PERCEPAT PERNIKAHAN (Lanjutan 3)
Alya merasakan jantungnya berdegup lebih kencang. Ini pertama kalinya seseorang menawarkan bantuan untuk membebaskannya dari cengkeraman Reihan. Namun, ia juga sadar bahwa satu kesalahan kecil saja bisa berakibat fatal.
Liana menatapnya dengan serius. “Saya tidak bisa menjanjikan apa pun, tapi saya bisa mencoba mencari celah. Anda harus tetap bersikap seolah menerima pernikahan ini. Jangan sampai Tuan Reihan curiga.”
Alya mengangguk pelan. Ia tahu itu bukan hal yang mudah, tapi ia harus mencobanya.
---
Keesokan harinya, Alya dibawa ke sebuah ruangan besar yang dipenuhi gaun pengantin. Beberapa desainer sudah menunggunya dengan berbagai pilihan gaun yang dirancang khusus untuknya.
Reihan duduk di sofa dengan santai, mengamatinya dengan tatapan penuh kepemilikan. “Coba yang ini,” ujarnya sambil menunjuk sebuah gaun putih berpotongan elegan.
Alya mengambil gaun itu dan masuk ke ruang ganti. Saat menatap dirinya di cermin, perasaan sesak kembali menyerangnya. Gaun ini indah, tapi terasa seperti belenggu yang semakin memperjelas bahwa kebebasannya akan segera direnggut.
Saat ia keluar, mata Reihan menyapu tubuhnya dari atas ke bawah, lalu tersenyum puas. “Sempurna.”
Alya menahan diri agar tidak menunjukkan ekspresi ketidaknyamanan. Ia tahu Reihan memperhatikannya dengan saksama, mencari tanda-tanda perlawanan.
“Bagaimana menurutmu?” tanyanya, suaranya terdengar lembut tapi penuh tekanan.
Alya memaksakan senyum. “Aku menyukainya.”
Reihan berdiri dan berjalan mendekat, jemarinya terangkat menyentuh pipinya. “Bagus. Aku ingin kau bahagia di hari pernikahan kita.”
Kata-kata itu terdengar seperti kebohongan. Reihan tidak peduli apakah Alya bahagia atau tidak. Yang ia inginkan hanyalah memastikan Alya menjadi miliknya sepenuhnya.
---
Malamnya, saat Alya kembali ke kamarnya, Liana sudah menunggu di dalam.
“Saya menemukan sesuatu,” katanya dengan suara rendah.
Alya mendekat, hatinya berdebar. “Apa itu?”
Liana menatapnya tajam. “Ada seseorang yang bisa membantu kita keluar. Tapi ini sangat berbahaya.”
Alya mengepalkan tangannya. “Aku tidak peduli. Aku hanya ingin keluar dari sini.”
Liana menghela napas sebelum melanjutkan, “Baik. Maka kita harus bergerak sebelum pernikahan ini terjadi.”
BAB 11 – PERCEPAT PERNIKAHAN (Lanjutan 4)
Alya menatap Liana dengan campuran harapan dan ketakutan. Setiap detik yang berlalu terasa seperti bom waktu yang siap meledak.
“Siapa orang yang bisa membantu kita?” tanya Alya dengan suara pelan.
Liana menoleh ke arah pintu, memastikan tidak ada yang mendengar, lalu kembali berbisik, “Salah satu pengawal Tuan Reihan. Namanya Arman.”
Alya mengerutkan kening. “Pengawal Reihan?”
Liana mengangguk. “Dia bekerja untuk Reihan, tapi bukan karena loyalitas. Dia punya hutang besar, dan Reihan memanfaatkannya. Jika kita bisa menawarkan sesuatu yang lebih menguntungkan, dia mungkin mau membantu kita.”
Alya menggigit bibirnya. Mempercayai seseorang dari dalam lingkaran Reihan adalah risiko besar. Tapi di sisi lain, tidak ada banyak pilihan.
“Apa kau yakin dia tidak akan mengkhianati kita?”
Liana menghela napas. “Aku tidak bisa menjamin. Tapi dia pernah bilang padaku bahwa dia ingin keluar dari kehidupan ini. Jika kita memberinya kesempatan, mungkin dia akan memilih berpihak pada kita.”
Alya menimbang-nimbang. Ini adalah kesempatan terbaik yang dimilikinya, tapi juga yang paling berbahaya.
“Bagaimana cara kita menghubunginya?”
Liana tersenyum tipis. “Aku akan mengatur pertemuan rahasia. Tapi kau harus bersiap. Sekali kita mulai rencana ini, tidak akan ada jalan kembali.”
Alya menarik napas dalam-dalam. Hatinya berdebar kencang.
“Aku siap.”
Liana mengangguk. “Baik. Besok malam, kita akan bertemu dengannya.”