BAB 12 – PERTEMUAN RAHASIA
Malam itu, Alya duduk di depan cermin, pura-pura menyisir rambutnya sambil sesekali melirik ke arah pintu. Liana memberitahunya bahwa pertemuan dengan Arman akan berlangsung tengah malam, saat semua orang sudah tertidur dan pengawasan sedikit longgar.
Jantungnya berdegup kencang. Ini adalah langkah paling berbahaya yang pernah ia ambil. Jika Reihan tahu, segalanya akan berakhir sebelum ia sempat mencoba melarikan diri.
Ketukan pelan terdengar di pintu. Alya segera berdiri dan membuka pintu sedikit. Liana berdiri di luar, memberi isyarat untuk mengikutinya.
Dengan hati-hati, mereka berjalan menyusuri lorong gelap, langkah mereka hampir tak bersuara. Rumah ini besar, tapi setiap sudutnya diawasi. Mereka harus ekstra hati-hati.
Mereka tiba di dapur belakang, tempat Arman sudah menunggu. Pria itu tinggi, bertubuh kekar, dan memiliki sorot mata tajam yang sulit ditebak.
“Kau yakin ingin melakukan ini?” tanya Arman tanpa basa-basi.
Alya menelan ludah. “Ya.”
Arman menatapnya sejenak sebelum mendengus. “Kau tahu risikonya? Jika ketahuan, aku bisa mati, begitu juga kalian.”
Alya mengangguk. “Aku tahu.”
Arman menyilangkan tangan. “Baik. Aku bisa membantu, tapi aku butuh jaminan.”
Alya mengernyit. “Jaminan?”
Arman menatapnya tajam. “Aku tidak akan melakukan ini hanya untuk mengorbankan diri sendiri. Jika aku membantumu keluar, aku juga harus punya jaminan bahwa aku tidak akan dikejar oleh Reihan.”
Alya terdiam. Ia tidak punya uang, tidak punya kekuatan, dan tidak punya cara untuk menjamin keselamatan Arman setelah ini.
Liana menoleh ke Alya, lalu berkata, “Ada satu cara.”
Alya dan Arman sama-sama menatapnya.
Liana menarik napas panjang sebelum berkata, “Kita harus membuat Reihan percaya bahwa Alya hilang karena sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang bahkan dia tidak bisa lawan.”
Alya menegang. “Maksudmu?”
Liana menatap keduanya dengan serius. “Kita harus membuat Reihan percaya bahwa Alya diculik oleh musuhnya.”
Suasana di dapur mendadak hening.
Jika rencana ini berhasil, Alya bisa keluar dengan aman. Tapi jika gagal…
Maka Reihan akan memburu mereka semua tanpa ampun.
BAB 12 – PERTEMUAN RAHASIA (Lanjutan 2)
Alya menelan ludah, memproses kata-kata Liana. Berpura-pura diculik oleh musuh Reihan? Itu ide gila—tapi mungkin satu-satunya cara agar mereka bisa lolos tanpa dikejar.
Arman menyipitkan mata. “Kau tahu apa yang kau katakan, Liana? Jika kita melakukan ini, kita harus punya bukti kuat untuk meyakinkan Reihan. Jika dia curiga ini hanya rekayasa, kita semua mati.”
Liana mengangguk mantap. “Aku tahu. Itu sebabnya kita harus melakukannya dengan sangat hati-hati.”
Alya menarik napas dalam-dalam. “Bagaimana cara kita melakukannya?”
Arman menatapnya tajam sebelum akhirnya menghela napas. “Ada satu kelompok yang pernah bermasalah dengan Reihan. Aku bisa membuat jejak seolah mereka yang mengambilmu. Tapi aku butuh akses ke kamar Reihan untuk mendapatkan sesuatu yang bisa memperkuat skenario ini.”
Alya terkejut. “Kamar Reihan?”
Liana tampak berpikir keras. “Apa yang kau butuhkan?”
“Senjatanya,” jawab Arman tanpa ragu. “Jika kita bisa mencuri salah satu senjatanya dan meninggalkan sidik jarinya di tempat yang tepat, Reihan akan berpikir musuh lamanya menyusup dan mengambil Alya.”
Alya merasa napasnya tercekat. Mencuri sesuatu dari kamar Reihan? Itu seperti masuk ke sarang singa dan berharap keluar hidup-hidup.
“Terlalu berisiko,” gumamnya.
Arman menyeringai. “Segalanya berisiko, Alya. Tapi ini cara terbaik yang kita punya.”
Liana menatap Alya dengan penuh keyakinan. “Aku bisa masuk ke kamarnya. Aku yang akan mengambilnya.”
Alya menoleh cepat. “Liana, tidak! Jika kau tertangkap—”
Liana tersenyum samar. “Aku sudah lama hidup di bawah bayangan Reihan. Jika aku bisa melakukan sesuatu untuk membebaskanmu, aku akan melakukannya.”
Alya merasa hatinya mencelos. Ia tidak ingin ada yang terluka karenanya. Tapi di sisi lain, ia juga tahu mereka tidak punya banyak pilihan.
Akhirnya, dengan suara pelan, ia berkata, “Baik. Kita lakukan ini.”
Arman mengangguk. “Besok malam, Liana akan masuk ke kamar Reihan. Jika dia berhasil, kita akan melanjutkan rencana ini.”
Alya mengepalkan tangannya.
Mereka hanya punya satu kesempatan. Dan jika mereka gagal…
Tidak akan ada ampun dari Reihan.
BAB 12 – PERTEMUAN RAHASIA (Lanjutan 3)
Malam itu, Alya tidak bisa tidur. Pikirannya terus berputar, membayangkan segala kemungkinan terburuk. Jika Liana tertangkap saat mencoba mengambil senjata Reihan, maka bukan hanya rencana mereka yang gagal, tapi nyawa mereka juga terancam.
Ketika jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari, suara ketukan pelan terdengar di pintu kamarnya. Alya bergegas membukanya dan menemukan Liana berdiri di sana dengan wajah tegang.
“Aku akan masuk ke kamar Reihan sekarang,” bisik Liana. “Pastikan tidak ada yang mencariku selama aku pergi.”
Alya menggigit bibirnya, rasa khawatir menyelimutinya. “Hati-hati.”
Liana mengangguk sebelum menghilang di kegelapan lorong.
Alya menutup pintu dan bersandar di belakangnya, jantungnya berdebar kencang. Ia memejamkan mata, berdoa dalam hati agar Liana berhasil.
---
Liana berjalan pelan di koridor rumah megah itu, setiap langkahnya diperhitungkan dengan hati-hati. Ia sudah lama bekerja di sini, mengetahui pola patroli para pengawal dan titik-titik buta yang tidak diawasi kamera.
Sampai di depan pintu kamar Reihan, ia menarik napas dalam-dalam sebelum merogoh saku dan mengeluarkan penjepit rambut kecil. Dengan cekatan, ia menyelipkannya ke dalam lubang kunci dan mulai mengutak-atiknya.
Klik.
Pintu terbuka.
Liana melangkah masuk dengan hati-hati. Kamar Reihan gelap, hanya diterangi cahaya redup dari lampu di sudut ruangan. Ia tahu lemari senjata berada di belakang rak buku. Dengan langkah ringan, ia berjalan ke sana dan menggeser rak sedikit, menemukan sebuah brankas kecil.
Tangannya bergerak cepat, memasukkan kombinasi yang sudah ia hafal dari pengamatannya selama ini.
Brankas terbuka.
Di dalamnya, berbaris rapi beberapa senjata api. Liana mengambil satu yang paling sering digunakan Reihan, sebuah pistol hitam yang masih bersih dari sidik jari siapa pun.
Ia membungkusnya dengan kain, lalu segera menutup kembali brankas dan menggeser rak buku ke tempat semula.
Saat ia berbalik untuk pergi, suara pelan membuatnya membeku.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
Jantungnya hampir berhenti berdetak.
Di ambang pintu, Reihan berdiri dengan ekspresi tajam. Matanya menatap lurus ke arahnya, penuh kecurigaan.
Liana berusaha tetap tenang.
“Aku… hanya ingin memastikan semuanya sudah siap untuk pernikahanmu besok.”
Reihan menyipitkan mata, lalu melangkah mendekat. “Di dalam kamarku?”
Liana menahan napas.
Jika ia salah bicara, maka segalanya akan berakhir di sini.
BAB 12 – PERTEMUAN RAHASIA (Lanjutan 4)
Liana menegakkan tubuhnya, berusaha terlihat setenang mungkin meskipun jantungnya berdegup kencang.
“Aku hanya ingin memastikan bahwa semuanya sempurna untuk pernikahanmu besok, Tuan,” jawabnya dengan suara pelan namun mantap.
Reihan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Liana dengan tajam, seolah mencoba membaca pikirannya.
“Kau pelayan yang cukup berani,” gumamnya sambil melangkah lebih dekat. “Masuk ke kamarku tanpa izin di tengah malam seperti ini.”
Liana menundukkan kepala, tangannya diam-diam menggenggam kain yang membungkus pistol. Ia tidak boleh menunjukkan kegugupan.
“Aku hanya ingin memastikan kau mendapatkan yang terbaik, Tuan,” katanya lagi.
Reihan terdiam sejenak, lalu mengangkat dagu Liana dengan jarinya, membuatnya menatap langsung ke matanya. “Kau tahu apa yang terjadi pada orang-orang yang mencoba bermain-main denganku?”
Liana menelan ludah. “Aku tidak berani bermain-main denganmu, Tuan.”
Reihan tersenyum tipis, tapi tatapannya tetap dingin. “Bagus.” Ia melepas dagunya dan melangkah mundur. “Sekarang keluar.”
Liana tidak membuang waktu. Ia membungkuk sedikit, lalu berjalan keluar dengan langkah terkontrol. Begitu pintu tertutup di belakangnya, ia menahan napas, memastikan tidak ada yang mengikutinya sebelum segera kembali ke kamar Alya.
---
Begitu Liana masuk ke dalam kamar, Alya langsung berdiri dengan wajah cemas. “Kau baik-baik saja?”
Liana mengangguk, meskipun tubuhnya masih terasa lemas. Ia membuka kain yang membungkus pistol dan menyerahkannya pada Alya. “Aku berhasil.”
Alya menghela napas lega, tapi tatapannya tetap dipenuhi ketakutan. “Ada yang melihatmu?”
Liana menggigit bibirnya. “Reihan.”
Alya membelalakkan mata. “Apa?”
“Tapi aku bisa mengelabuinya,” kata Liana cepat. “Aku bilang aku hanya memastikan persiapan pernikahan. Dia tidak curiga… untuk sekarang.”
Alya menekan dadanya yang terasa sesak. Ini terlalu berbahaya. Tapi mereka sudah sejauh ini. Tidak mungkin mundur sekarang.
Arman akan segera mengatur tahap selanjutnya.
Mereka hanya punya satu kesempatan untuk membuat Reihan percaya bahwa Alya diculik.
Dan jika rencana ini gagal…
Nyawa mereka bertiga yang akan menjadi taruhannya.