BAB 13 – MELANCARKAN TIPU DAYA
Alya duduk di tepi ranjang dengan pistol yang kini ada dalam genggamannya. Benda kecil ini adalah kunci untuk melarikan diri—atau tiket menuju kematian jika rencana mereka gagal.
Liana duduk di sampingnya, masih sedikit gemetar setelah nyaris tertangkap oleh Reihan tadi malam. Sementara itu, Arman berdiri di dekat jendela, menatap ke luar dengan ekspresi penuh perhitungan.
“Kita harus bergerak cepat,” kata Arman akhirnya. “Aku sudah menyusun skenario. Nanti malam, sekitar pukul dua, kita akan berpura-pura ada penyusup yang masuk ke rumah ini dan menculik Alya.”
Alya menelan ludah. “Bagaimana caranya?”
Arman berbalik, tatapannya tajam. “Aku akan menonaktifkan beberapa kamera di area belakang rumah untuk beberapa menit. Itu cukup untuk menciptakan celah.”
“Lalu?” tanya Alya, masih ragu.
“Kita akan meninggalkan jejak pertarungan di kamarmu. Aku akan menembakkan satu peluru ke dinding dengan pistol ini, lalu menjatuhkan beberapa barang untuk membuatnya terlihat seperti perlawanan sengit.”
Alya mengangguk, mencoba menenangkan detak jantungnya.
“Setelah itu, aku akan membawamu keluar melalui pintu belakang yang mengarah ke gudang tua. Di sana, aku sudah menyiapkan kendaraan.”
Liana menatap Arman dengan khawatir. “Dan setelah itu?”
Arman menghela napas. “Aku akan membawa Alya ke tempat yang aman. Setelah beberapa hari, kita akan menyebarkan informasi palsu bahwa dia berada di tangan musuh Reihan.”
Alya menggigit bibir. “Bagaimana kalau dia tidak percaya?”
Arman menatapnya tajam. “Itulah kenapa kita harus memastikan semuanya sempurna. Jika ada satu hal saja yang membuatnya curiga, kita tamat.”
Liana menatap Alya dengan ragu. “Apa kau yakin ingin melakukan ini?”
Alya menarik napas panjang. Ia tidak punya pilihan lain. Jika ia tetap di sini, hidupnya akan menjadi milik Reihan selamanya.
“Aku yakin.”
Arman mengangguk. “Baik. Kita mulai rencana ini malam ini.”
Alya menutup matanya sejenak, mencoba menguatkan diri.
Malam nanti, semuanya akan berubah.
Entah ia akan bebas…
Atau ia tidak akan pernah punya kesempatan lagi untuk melarikan diri.
BAB 13 – MELANCARKAN TIPU DAYA (Lanjutan 2)
Malam itu, Alya duduk di tepi ranjang, menunggu dengan gelisah. Jarum jam menunjukkan pukul 01.50—sepuluh menit sebelum rencana mereka dimulai.
Liana berdiri di dekat pintu, siap berjaga-jaga, sementara Arman berjongkok di sudut ruangan, mengecek pistol yang diambil dari kamar Reihan. Ia mengenakan sarung tangan, memastikan tidak ada sidik jarinya tertinggal.
“Sudah siap?” bisik Arman.
Alya menelan ludah, lalu mengangguk. “Ya.”
Arman bangkit dan bergerak cepat. Ia meraih vas di meja samping lalu menjatuhkannya ke lantai. Bunyi pecahannya terdengar jelas dalam keheningan malam. Alya langsung berdiri, berpura-pura panik.
Liana ikut beraksi, membuka lemari dan menjatuhkan beberapa pakaian ke lantai, seolah terjadi pergulatan.
DOR!
Arman menembakkan pistol ke dinding. Alya menahan napas, tubuhnya sedikit bergetar. Suara tembakan itu pasti terdengar oleh para pengawal, tapi itu memang bagian dari rencana.
“Cepat!” bisik Arman. Ia meraih tangan Alya dan menariknya keluar kamar.
Mereka berlari menyusuri lorong. Liana tetap di kamar untuk memastikan kehebohan yang cukup agar para pengawal tidak langsung mengejar ke arah yang benar.
Saat mereka sampai di dekat tangga, terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa. Pengawal sudah mulai bergerak.
Arman menuntun Alya melewati lorong sempit yang jarang dilalui, menuju pintu belakang rumah. Sesuai rencana, ia sudah menonaktifkan kamera di area ini.
Mereka tiba di pintu belakang, dan Arman segera menariknya terbuka. Angin malam menyambut mereka, membawa aroma tanah dan embun.
“Tunggu di sini,” bisik Arman. Ia berlari ke gudang tua yang tak jauh dari rumah utama. Beberapa detik kemudian, sebuah mobil hitam melaju pelan ke arah Alya.
“Masuk!” perintah Arman.
Alya tidak berpikir dua kali. Ia masuk ke dalam mobil, jantungnya berdetak kencang.
Arman menekan pedal gas, membawa mereka menjauh dari rumah Reihan.
Saat rumah itu semakin kecil di kaca spion, Alya merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama berminggu-minggu.
Harapan.
Tapi ia tahu…
Reihan tidak akan diam saja.
BAB 13 – MELANCARKAN TIPU DAYA (Lanjutan 3)
Mobil melaju kencang di jalanan sepi. Alya menoleh ke belakang, memastikan tidak ada kendaraan yang mengikuti mereka. Jantungnya masih berdetak liar, seakan menolak percaya bahwa ia akhirnya berhasil keluar dari rumah Reihan.
“Terlalu mudah,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.
Arman yang sedang fokus mengemudi melirik sekilas. “Jangan bicara terlalu cepat. Reihan tidak akan tinggal diam.”
Alya menggigit bibirnya. Ia tahu itu benar. Reihan pasti sudah menyadari ‘penculikannya’ sekarang. Waktu mereka tidak banyak.
“Ke mana kita pergi?” tanyanya.
Arman menghela napas. “Ke tempat persembunyian sementara. Setelah itu, kita akan buat skenario agar Reihan berpikir kau ada di tangan musuhnya.”
Alya mengangguk. Ia hanya berharap rencana ini cukup kuat untuk mengecoh Reihan.
Namun, beberapa menit kemudian, firasat buruk mulai menggelitik pikirannya. Jalanan yang mereka lalui terlalu sepi. Tidak ada kendaraan lain, tidak ada lampu jalan.
“Ada yang aneh,” gumamnya.
Arman menegang. Ia menatap kaca spion, lalu tiba-tiba mengumpat. “Sial.”
Alya menoleh ke belakang. Matanya melebar saat melihat dua mobil hitam melaju cepat ke arah mereka.
“Mereka menemukanku?”
Arman menggertakkan gigi. “Bukan. Mereka sudah tahu sejak awal.”
Alya membeku. Jadi… sejak tadi, semua ini hanya jebakan?
Mobil di belakang mereka semakin mendekat. Salah satu jendelanya terbuka, dan Alya bisa melihat seseorang mengacungkan sesuatu ke arah mereka.
“Pegangan!” teriak Arman.
DOR!
Tembakan pertama meleset, tapi Arman langsung membanting setir, membuat mobil mereka hampir terguling.
Alya berpegangan erat, napasnya tersengal. “Apa yang harus kita lakukan?”
Arman tidak menjawab. Ia menginjak gas lebih dalam, mencoba mencari jalan keluar. Namun, sebelum sempat menemukan celah, suara keras menggema di udara.
BRAK!
Sesuatu menghantam bagian belakang mobil mereka. Alya terhempas ke depan, kepalanya membentur dashboard. Pandangannya berkunang-kunang, suara di sekelilingnya mulai terdengar jauh.
Mobil mereka kehilangan kendali.
Dan sebelum segalanya menjadi gelap, hanya satu hal yang terlintas di benaknya.
Reihan pasti sudah tahu sejak awal.
BAB 13 – MELANCARKAN TIPU DAYA (Lanjutan 4)
Alya terbangun dengan kepala berdenyut hebat. Pandangannya masih kabur, tapi ia bisa merasakan tubuhnya terikat di kursi. Udara di sekitarnya dingin, dengan aroma khas ruangan tertutup—mungkin gudang atau ruang bawah tanah.
Saat kesadarannya mulai pulih, suara langkah kaki mendekat. Ia menegakkan kepala dengan susah payah, dan detik berikutnya, jantungnya hampir berhenti.
Reihan berdiri di depannya.
Tatapannya begitu gelap, begitu tajam, hingga Alya merasa seperti ditelanjangi oleh sorot matanya. Tidak ada senyum, tidak ada kemarahan yang meledak-ledak—hanya keheningan yang lebih mengerikan dari teriakan mana pun.
“Kau benar-benar berpikir bisa lari dariku?”
Suaranya tenang, tapi justru itulah yang membuat Alya merinding.
Alya menelan ludah, mencoba mengatur napasnya. Ia tidak boleh menunjukkan ketakutan, tidak di depan Reihan.
“Aku tidak berusaha lari,” katanya pelan, mencoba terdengar meyakinkan. “Aku—”
PLA!
Tamparan keras mendarat di pipinya, membuat kepalanya terhuyung ke samping. Rasa perih menjalar di kulitnya, tapi lebih dari itu, harga dirinya tercabik.
“Alya,” panggil Reihan pelan, membuatnya mendongak dengan mata berkaca-kaca. “Aku tidak suka dibohongi.”
Alya mengatupkan rahangnya, menahan sakit dan amarah yang berkecamuk di dalam dadanya.
Reihan berjongkok di depannya, mengangkat dagunya dengan jari kasar.
“Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau dan dua pengkhianat itu rencanakan?” Ia tertawa kecil, suara rendahnya membuat bulu kuduk Alya meremang. “Aku sudah mengawasi kalian sejak awal.”
Alya menahan napas. Jadi, sejak awal… semuanya hanya permainan Reihan?
“Liana…” bisiknya lirih.
Reihan menyeringai. “Oh, dia? Dia sedang mendapat pelajaran sekarang.”
Jantung Alya mencelos. Ia bisa membayangkan apa yang Reihan lakukan pada Liana—dan mungkin juga Arman.
Matanya berkilat marah. “Kau tidak harus melibatkan mereka!”
Reihan mencengkeram rahangnya lebih erat, membuatnya meringis. “Mereka berani menyentuh milikku. Mereka pantas mendapatkannya.”
Alya menggigit bibirnya, menahan air mata yang menggenang di pelupuk mata.
Reihan menatapnya lama sebelum akhirnya melepaskan cengkeramannya dan berdiri. “Kau akan menikah denganku besok, Alya. Tidak ada lagi rencana pelarian, tidak ada lagi pengkhianatan.”
Ia berbalik, berjalan menuju pintu.
Namun sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi.
“Dan ingat,” suaranya rendah namun penuh ancaman. “Aku tidak akan ragu untuk menghancurkan siapa pun yang mencoba merebutmu dariku.”
Pintu tertutup.
Dan saat itulah, untuk pertama kalinya, Alya benar-benar merasa putus asa.