BAB 14 – PENGKHIANATAN DI BALIK BAYANGAN
Alya duduk diam di kursi dengan tangan masih terikat. Pikirannya berkecamuk, mencoba mencari celah untuk keluar dari situasi ini. Kata-kata Reihan terus terngiang di telinganya. Pernikahan besok? Tidak ada lagi rencana pelarian?
Tidak! Ia tidak bisa membiarkan itu terjadi.
Pintu terbuka perlahan, membuatnya tersentak. Sosok yang masuk bukan Reihan, melainkan seseorang yang tidak ia duga.
“Arman?” Alya menahan napas, matanya membesar melihat pria itu berjalan ke arahnya.
Arman menatapnya dengan ekspresi rumit. “Alya… Aku minta maaf.”
Jantung Alya mencelos. “Jangan bilang…”
Arman berlutut dan dengan cepat melepaskan ikatan di pergelangan tangannya. “Aku tidak punya pilihan lain,” bisiknya. “Jika aku tidak berpura-pura setia pada Reihan, aku tidak akan bisa membantumu.”
Alya mengusap pergelangan tangannya yang merah. “Liana? Apa dia baik-baik saja?”
Arman terdiam sesaat sebelum menjawab, “Dia—”
Sebelum kata-kata itu terucap, suara langkah kaki terdengar dari luar. Arman dengan cepat menarik Alya berdiri. “Kita harus keluar dari sini sebelum mereka sadar.”
Alya mengangguk dan mengikuti Arman menuju pintu belakang. Namun, begitu mereka hampir mencapai kebebasan, suara dingin yang familiar menghentikan langkah mereka.
“Kalian benar-benar menganggap aku bodoh, ya?”
Alya membeku. Arman menegang di sampingnya.
Reihan berdiri di depan mereka, bersandar di pintu dengan tangan tersilang. Matanya bersinar berbahaya, dan bibirnya melengkung dalam seringai tipis.
“Arman… Kau benar-benar mengecewakan.”
Arman langsung berdiri di depan Alya, melindunginya. “Kalau kau ingin seseorang dihukum, hukum aku! Biarkan Alya pergi.”
Reihan tertawa kecil, lalu dalam sekejap—
DOR!
Suara tembakan menggema di ruangan sempit itu.
Alya menjerit saat tubuh Arman terhuyung ke belakang, darah mengalir dari bahunya. Ia terjatuh ke lantai dengan napas memburu.
Reihan menurunkan pistolnya dan melangkah mendekat.
“Aku sudah memperingatkan kalian,” katanya dingin. “Dan aku tidak suka dikhianati.”
Alya berlutut di samping Arman, air mata menggenang di matanya. “Arman… Bertahanlah…”
Namun Reihan menariknya dengan paksa, mencengkeram lengannya erat. “Kau akan menikah denganku besok, Alya. Dan tidak ada yang bisa menghentikannya.”
Alya menatapnya dengan kebencian membara. Ia tahu satu hal pasti—ia tidak akan menyerah semudah itu.
Tidak akan pernah.
BAB 14 – PENGKHIANATAN DI BALIK BAYANGAN (Lanjutan 2)
Alya meronta sekuat tenaga, tapi genggaman Reihan di lengannya terlalu kuat. Ia melihat Arman tergeletak di lantai dengan darah mengalir dari bahunya, napasnya terengah-engah.
"Jangan sentuh dia lagi!" Alya berteriak, matanya penuh amarah.
Reihan menatapnya dingin, lalu menoleh ke arah salah satu anak buahnya yang berdiri di ambang pintu. "Bawa dia ke dokter. Aku ingin dia tetap hidup... untuk sementara."
Alya mengerutkan kening. Apa maksudnya 'untuk sementara'? Ia ingin melawan, tapi Reihan menariknya dengan kasar keluar dari ruangan, menyeretnya menuju koridor panjang yang remang-remang.
Langkah kakinya terhenti saat mereka mencapai sebuah ruangan besar. Pintu kayu tebal terbuka, memperlihatkan sebuah kamar dengan dekorasi elegan.
"Mulai sekarang, kau akan tinggal di sini," ucap Reihan sambil mendorong Alya masuk.
Alya memelototinya. "Aku bukan tahananmu!"
Reihan terkekeh, lalu mendekat hingga wajah mereka hampir bersentuhan. "Oh, kau lebih dari itu, Sayang... Kau adalah calon istriku."
Alya bergidik, tapi ia tidak menunjukkan rasa takut. "Aku tidak akan menikah denganmu," desisnya.
Reihan mengangkat alis, lalu mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sesuatu padanya.
Layar itu menampilkan video—Liana, terikat dan duduk di sebuah kursi, wajahnya penuh memar.
"Kau mau dia tetap hidup?" tanya Reihan santai. "Maka pastikan besok kau mengenakan gaun pengantin dan berdiri di altar."
Alya merasa tubuhnya membeku. Tangannya mengepal kuat-kuat, kukunya hampir menembus telapak tangan.
"k*****t," gumamnya, suaranya bergetar menahan emosi.
Reihan tersenyum, lalu membelai pipinya dengan lembut, kontras dengan kebrutalan yang baru saja ia tunjukkan. "Istirahatlah, Sayang. Besok akan menjadi hari besar untuk kita."
Lalu ia pergi, meninggalkan Alya dengan perasaan kalut dan ketakutan yang semakin dalam.
Alya menggigit bibirnya. Ia tidak punya banyak waktu.
Ia harus mencari cara untuk kabur—sebelum semuanya terlambat.
BAB 14 – PENGKHIANATAN DI BALIK BAYANGAN (Lanjutan 3)
Alya berdiri di tengah kamar mewah itu, dadanya naik turun menahan emosi. Tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Video Liana yang babak belur masih terbayang di kepalanya.
Ia harus menyelamatkan sahabatnya.
Matanya berkeliling, mencari sesuatu yang bisa digunakan. Jendela besar di samping ranjang menarik perhatiannya. Ia melangkah mendekat dan mencoba membukanya, tapi terkunci rapat. Di luar, malam gelap menyelimuti, hanya ada beberapa lampu di halaman yang menerangi tempat itu.
Pikirannya berpacu. Ia tidak bisa menunggu besok. Jika ia menuruti Reihan, ia tahu pria itu tidak akan pernah membiarkannya pergi.
Ia harus kabur malam ini juga.
Tapi bagaimana?
Pintu kamar tiba-tiba terbuka, membuat Alya tersentak. Seorang wanita masuk, membawa nampan berisi makanan.
"Aku disuruh mengantarkan ini," kata wanita itu dengan suara pelan, tanpa berani menatap langsung ke arah Alya.
Alya memperhatikannya dengan cermat. Wanita itu tampak gugup, seperti takut melakukan kesalahan.
Sebuah ide terlintas di benaknya.
"Siapa namamu?" tanya Alya, mencoba bersikap tenang.
Wanita itu terkejut, lalu menjawab pelan, "Mira."
Alya melangkah mendekat, menatapnya dalam-dalam. "Tolong aku, Mira," bisiknya penuh harap. "Aku harus keluar dari sini."
Mira langsung memucat. "Aku tidak bisa! Jika Tuan Reihan tahu, aku—aku akan mati!"
Alya meraih tangannya. "Kau tidak menginginkan ini, bukan? Kau juga pasti takut padanya. Aku tahu dia bukan orang baik."
Mira menggigit bibirnya, jelas sedang bergulat dengan pikirannya sendiri.
"Jika kau membantuku," lanjut Alya, "aku berjanji akan melindungimu juga."
Wanita itu masih ragu, tapi akhirnya ia berbisik pelan, "Aku tahu jalan keluar rahasia."
Jantung Alya berdegup kencang.
"Ingat, kita hanya punya sedikit waktu," bisik Mira. "Kalau kita ketahuan, kita tidak akan bisa keluar hidup-hidup."
Alya mengangguk tegas. "Aku siap."
Ia tidak akan membiarkan Reihan menang.
Dan malam ini, ia akan mencoba meraih kebebasannya—atau mati saat mencobanya.
BAB 14 – PENGKHIANATAN DI BALIK BAYANGAN (Lanjutan 4)
Mira bergerak cepat menuju lemari di sudut ruangan. Dengan hati-hati, ia menarik bagian belakang lemari besar itu, mengungkapkan sebuah celah sempit yang mengarah ke lorong gelap.
Alya menatapnya tak percaya. “Ini… jalan rahasia?”
Mira mengangguk. “Lorong ini mengarah ke bagian belakang rumah, dekat garasi bawah tanah. Tapi kita harus bergerak cepat. Reihan punya kamera pengawas di hampir semua sudut rumah ini.”
Alya menarik napas dalam-dalam. Ini kesempatannya. Ia menggenggam tangan Mira erat. “Terima kasih, Mira. Aku tidak akan melupakan ini.”
Tanpa menunggu lebih lama, mereka masuk ke dalam lorong. Ruangan sempit itu dingin dan berbau lembap, mungkin sudah lama tidak digunakan. Mira berjalan lebih dulu, memegang senter kecil yang ia ambil dari sakunya.
Langkah mereka cepat namun hati-hati. Detak jantung Alya terasa begitu kencang hingga ia takut suaranya bisa terdengar di seluruh rumah.
Setelah berjalan beberapa menit, Mira berhenti di ujung lorong, lalu mendorong sebuah pintu kayu kecil. Udara segar langsung menerpa wajah Alya.
Mereka sudah sampai di luar.
Di kejauhan, Alya bisa melihat beberapa mobil terparkir di garasi bawah tanah. Ia melirik Mira. “Kau bisa mengemudi?”
Mira menggeleng. “Tapi aku tahu tempat penyimpanan kunci mobil. Ayo.”
Mereka berlari mendekati garasi, tapi baru beberapa langkah, suara alarm berbunyi nyaring.
Jantung Alya mencelos.
“Mereka tahu kita kabur!” seru Mira panik.
Alya menggigit bibir. Tidak ada waktu lagi. Mereka harus cepat!
Namun, sebelum mereka bisa mencapai garasi, suara derap langkah terdengar di belakang mereka.
“Alya!”
Suaranya dingin, penuh kemarahan.
Alya menoleh dan melihat Reihan berdiri di sana dengan mata membara. Beberapa anak buahnya juga sudah mengepung mereka, senjata terangkat siap menembak.
Mira gemetar di sampingnya.
Alya tahu mereka sudah kalah.
Reihan berjalan mendekat dengan langkah pelan namun mengintimidasi. “Aku benar-benar kecewa, Sayang. Aku sudah memberimu tempat tinggal yang nyaman, makanan yang enak, dan besok seharusnya menjadi hari yang indah bagi kita.”
Ia berhenti tepat di depan Alya, mencengkeram dagunya dengan kasar. “Tapi kau malah mencoba kabur.”
Alya menatapnya tanpa takut. “Aku tidak akan pernah menjadi milikmu.”
Reihan terkekeh pelan, lalu tanpa peringatan, ia mencengkeram pergelangan tangan Alya dan menariknya dengan kasar ke arahnya. “Kita lihat saja besok. Aku akan memastikan kau tidak punya pilihan lain.”
Alya berusaha meronta, tapi genggamannya terlalu kuat. Mira mencoba melawan, tapi salah satu anak buah Reihan segera menangkapnya.
“Mira!” Alya berteriak.
Reihan menatap Mira dingin. “Sepertinya aku harus memberimu pelajaran karena berani mengkhianatiku.”
Mata Mira dipenuhi ketakutan.
Alya panik. “Reihan! Jangan sakiti dia! Ini semua id—”
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi Alya, membuatnya terhuyung ke samping.
“Aku sudah cukup sabar denganmu,” suara Reihan bergetar menahan amarah. “Besok, kau akan menjadi istriku. Dan tidak ada lagi negosiasi.”
Ia memberi isyarat pada anak buahnya.
“Bawa mereka kembali.”
Alya menatap langit malam yang mulai tertutup oleh bayangan para penjaga sebelum akhirnya semuanya menjadi gelap.