15

1343 Kata
BAB 15 – PERNIKAHAN ATAU KEMATIAN Alya terbangun dengan kepala pusing. Pipinya masih terasa perih akibat tamparan Reihan semalam. Ia mengerjapkan mata, menyadari dirinya kembali berada di kamar yang sama—hanya saja kali ini, tangannya terikat di belakang kursi. Pintu terbuka, dan seorang wanita paruh baya masuk sambil membawa sebuah kotak besar. "Apa ini?" tanya Alya dengan suara serak. Wanita itu menatapnya dengan ekspresi netral. "Gaun pengantinmu." Darah Alya berdesir. Jadi, Reihan benar-benar berniat menikahinya hari ini. "Dimana Mira?" tuntutnya. Wanita itu tidak menjawab, hanya menaruh kotak itu di atas meja lalu keluar begitu saja, meninggalkan Alya sendiri. Alya mengepalkan tangannya. Ia harus mencari cara untuk keluar dari sini. Pintu terbuka lagi, kali ini bukan oleh seorang pelayan—melainkan oleh Reihan sendiri. Pria itu mengenakan setelan jas hitam yang membuatnya tampak lebih mengintimidasi. Sorot matanya tajam, namun bibirnya melengkung dalam seringai kecil. "Selamat pagi, calon istriku," ucapnya santai. Alya mendelik. "Aku tidak akan menikah denganmu." Reihan tertawa kecil, lalu melangkah mendekat dan berjongkok di hadapannya. Jarinya terulur, mengusap pipi Alya yang memerah. "Sayang, kau tidak punya pilihan," bisiknya lembut, namun penuh ancaman. "Kalau kau menolak, kau tahu apa yang akan terjadi pada Mira... dan juga Liana." Alya menahan napas. Ia tahu Reihan bukan orang yang suka menggertak. Jika ia menolak, orang-orang yang ia sayangi akan menjadi korban. "Aku memberimu dua pilihan," lanjut Reihan, suaranya lebih dingin. "Menikah denganku... atau aku akan menghabisi mereka di depan matamu." Alya merasakan matanya memanas. Ia ingin melawan, ingin berteriak, tapi ia tahu saat ini ia tidak memiliki kekuatan apa pun untuk menentangnya. Reihan menepuk pipinya pelan sebelum berdiri. "Aku akan menunggumu di altar, Sayang. Jangan buat aku menunggu terlalu lama." Ia berjalan keluar, meninggalkan Alya dengan hati yang hancur dan kepala yang penuh dengan rencana pelarian terakhirnya. Jika ini benar-benar hari pernikahannya dengan Reihan, maka ini juga harus menjadi hari di mana ia melarikan diri—atau mati saat mencobanya. BAB 15 – PERNIKAHAN ATAU KEMATIAN (Lanjutan 2) Alya menatap gaun pengantin putih di dalam kotak di depannya. Gaun itu begitu indah, tapi baginya, itu bukan pakaian pernikahan—melainkan belenggu yang mengikatnya dalam neraka Reihan. Tangannya masih terikat di belakang kursi, tapi ia tidak akan menyerah. Ia menarik napas panjang, mencoba mencari cara untuk membebaskan diri. Pintu terbuka, dan Mira masuk dengan wajah cemas. "Mira!" Alya langsung merasa lega. Mira bergegas mendekat dan mulai membuka ikatan di tangan Alya. "Aku hanya punya waktu sebentar sebelum mereka datang," bisiknya cepat. Begitu ikatannya terlepas, Alya langsung berdiri dan meremas pergelangan tangannya yang sakit. "Apa kau tahu di mana Liana?" Mira mengangguk. "Dia dikurung di ruang bawah tanah. Aku bisa membawamu ke sana, tapi setelah itu kita harus cepat keluar dari sini." Alya mengangguk mantap. "Baik. Ayo." Mereka bergerak dengan cepat, keluar dari kamar dan menyusuri lorong dengan hati-hati. Namun, baru beberapa langkah, suara berat yang begitu familiar menghentikan mereka. "Kalian benar-benar tak pernah belajar, ya?" Alya membeku. Reihan berdiri di ujung lorong dengan tangan di saku, menatap mereka dengan tatapan dingin. Di belakangnya, beberapa anak buahnya sudah siap dengan senjata mereka. "Aku sudah cukup bersabar," suara Reihan terdengar begitu dingin hingga membuat bulu kuduk Alya meremang. "Aku ingin hari ini menjadi istimewa. Tapi kau selalu mencoba melarikan diri." Alya menatapnya tajam. "Karena aku bukan milikmu, Reihan. Dan aku tidak akan pernah menjadi milikmu." Reihan menghela napas panjang, seolah benar-benar kecewa. "Sayang sekali. Aku sebenarnya ingin menikahimu dengan cara yang lebih... lembut." Ia mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat pada anak buahnya. Dalam hitungan detik, Mira ditarik dengan kasar oleh salah satu pria bersenjata. "Mira!" Alya berusaha mendekat, tapi Reihan lebih cepat. Ia mencengkeram pergelangan tangannya dan menariknya ke dalam pelukannya. "Kau akan menikah denganku, Alya," bisiknya di telinga gadis itu. "Atau kau akan menyaksikan mereka mati satu per satu." Alya merasa tubuhnya lemas. Ia menatap Mira yang berusaha meronta, lalu kembali menatap Reihan yang memandangnya penuh kepemilikan. Ia tahu satu hal pasti—tidak peduli berapa kali ia mencoba, Reihan tidak akan pernah membiarkannya pergi. Dan mungkin, satu-satunya cara untuk lepas darinya... adalah dengan menghancurkannya dari dalam. BAB 15 – PERNIKAHAN ATAU KEMATIAN (Lanjutan 3) Alya menatap tajam ke arah Reihan, hatinya dipenuhi amarah dan ketakutan. Mira masih dalam cengkeraman salah satu anak buah pria itu, wajahnya pucat dan penuh kecemasan. Reihan menarik dagu Alya, memaksanya untuk menatapnya langsung. “Kau akan menikah denganku, Sayang. Itu sudah menjadi takdir yang tidak bisa kau hindari.” Alya mengertakkan giginya. “Jika aku menurutimu... kau akan membiarkan mereka pergi?” Reihan tersenyum kecil. “Aku pria yang menepati janji.” Alya tahu, ia tidak bisa mempercayai Reihan begitu saja. Tapi saat ini, ia tidak memiliki pilihan lain. Jika ia menolak, Mira dan Liana akan mati. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk pelan. “Baik. Aku akan menikah denganmu.” Seulas seringai puas muncul di wajah Reihan. Ia melonggarkan genggamannya dan membelai pipi Alya dengan lembut, seolah semua kekerasan yang ia lakukan sebelumnya tidak pernah terjadi. “Keputusan yang bijak,” gumamnya. Alya mengepalkan tangannya di balik gaun yang kini ia kenakan. Ia boleh saja mengalah sekarang, tapi dalam hatinya, ia bersumpah—ia akan menemukan cara untuk menghancurkan Reihan dan melarikan diri. SELANG BEBERAPA JAM KEMUDIAN Alya berdiri di depan cermin, mengenakan gaun pengantin putih yang sangat indah. Tapi baginya, gaun ini terasa seperti kain kafan yang membungkus kebebasannya. Seorang penata rias menyentuh wajahnya dengan kuas, menyempurnakan riasan yang sejak tadi ia pasrahkan. Pintu terbuka, dan seorang pria masuk. Alya menegang, mengira itu Reihan, tapi ternyata bukan. “Arman?” Pria itu berdiri di ambang pintu, wajahnya masih terlihat lelah dengan perban di bahunya akibat luka tembak. “Alya,” suaranya berbisik, sarat dengan emosi. “Aku datang untuk menyelamatkanmu.” Jantung Alya berdegup kencang. Ia menatap Arman dengan mata membelalak. “Apa?” Arman mendekat dengan cepat, mencengkeram bahunya. “Liana dan Mira sudah aman. Sekarang giliranmu. Kita harus pergi sebelum semuanya terlambat.” Alya menelan ludah. Ia ingin percaya, ingin langsung melarikan diri bersama Arman, tapi... “Alya! Sudah waktunya.” Suara Reihan terdengar dari luar pintu. Alya dan Arman saling bertatapan. Keputusannya ada di tangan Alya. Kabur sekarang, atau menikahi monster itu untuk menyelamatkan semua orang? BAB 15 – PERNIKAHAN ATAU KEMATIAN (Lanjutan 4) Alya menatap Arman dengan mata bergetar. Hatinya ingin sekali ikut bersamanya, melarikan diri dari neraka ini. Tapi... bagaimana jika mereka tertangkap? Bagaimana jika Reihan benar-benar menghancurkan semuanya? Suara ketukan keras terdengar dari luar. “Alya! Jangan buat aku menunggu.” Reihan. Alya menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu. Ia menggenggam tangan Arman erat. “Kau harus pergi,” bisiknya. Mata Arman membulat. “Apa? Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu.” “Kumohon.” Suara Alya bergetar. “Jika aku kabur sekarang, semuanya akan berantakan. Liana dan Mira memang sudah aman, tapi jika Reihan tahu kau membantuku, dia tidak akan berhenti sampai dia membunuh kalian.” Arman mengepalkan tangannya, jelas frustrasi. “Lalu apa rencanamu? Menikah dengannya?” Alya menatapnya tajam. “Untuk saat ini, ya.” Arman menggeleng, menolak menerima kenyataan ini. Tapi sebelum ia sempat berbicara lagi, pintu didorong terbuka dengan kasar. Reihan berdiri di ambang pintu, wajahnya gelap. “Apa yang kau lakukan di sini, Arman?” Alya langsung melangkah maju, berdiri di antara mereka. “Dia hanya mengucapkan selamat.” Reihan menatap Arman lama sebelum menyeringai kecil. “Kau masih belum kapok, ya?” Arman hanya diam, tapi tatapan matanya penuh kebencian. Reihan mendekat, meraih pinggang Alya dan menariknya ke dalam pelukannya. “Sayang, sudah waktunya kita ke altar.” Alya menoleh ke Arman, memberi isyarat agar ia pergi. Arman mengepalkan rahangnya sebelum akhirnya berbalik dan pergi tanpa suara. Reihan menatapnya dengan senyum miring. “Kau gadis pintar, Alya.” Alya menatapnya dingin. “Bukan karena aku ingin menikah denganmu. Tapi karena aku ingin melindungi orang-orang yang kusayangi.” Reihan terkekeh. “Tidak masalah apa pun alasanmu, yang terpenting, kau tetap menjadi milikku.” Alya menahan napas saat Reihan menariknya keluar dari ruangan. Hari ini, ia akan menjadi istrinya. Tapi ini bukan akhir—ini baru awal dari rencana besar Alya untuk menghancurkan Reihan dari dalam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN