BAB 16 – PENGANTIN DALAM PENJARA
Alya berdiri di depan altar dengan tangan gemetar. Gaun pengantin putih yang membalut tubuhnya terasa seperti rantai yang menjerat kebebasannya. Reihan berdiri di sampingnya, mengenakan setelan hitam yang membuatnya tampak begitu berwibawa—dan menakutkan.
Di sekeliling mereka, ruangan megah itu dipenuhi para tamu, kebanyakan adalah orang-orang penting dalam jaringan bisnis ilegal Reihan. Tak ada wajah ramah, tak ada senyum tulus—hanya tatapan tajam dan penuh perhitungan.
Pendeta mulai berbicara, tapi pikiran Alya melayang.
Arman, Liana, Mira… Apakah mereka sudah benar-benar aman? Apakah masih ada cara untuk keluar dari sini?
Reihan meraih tangannya, menggenggamnya erat. Alya tersentak dari lamunannya dan menoleh, bertemu dengan tatapan kelam pria itu.
“Jangan berpikir macam-macam, Sayang,” bisiknya rendah. “Pernikahan ini akan terjadi, suka atau tidak.”
Alya mengepalkan jemarinya. Ia ingin melawan, ingin berteriak, ingin menolak pernikahan ini dengan segala cara—tapi ia tahu, Reihan akan menghancurkan siapa pun yang mencoba menggagalkannya.
“Apakah kau, Alya Prameswari, bersedia menikahi Reihan Alvaro?”
Ruangan mendadak sunyi. Semua mata tertuju pada Alya.
Jantungnya berdetak begitu kencang hingga ia hampir bisa mendengarnya sendiri.
Ini kesempatan terakhirnya.
Jika ia mengatakan “tidak,” apa yang akan terjadi?
Mira… Liana… Arman…
Alya menutup mata, menarik napas panjang.
Ketika ia membukanya kembali, tatapannya kosong.
“…Ya, saya bersedia.”
Reihan tersenyum puas. Ia menyematkan cincin di jari Alya, seolah benar-benar mengklaimnya di depan semua orang.
Saat ciuman pernikahan mereka terjadi—singkat, dingin, dan penuh kepemilikan—Alya merasa seluruh dunianya runtuh.
Hari ini, ia resmi menjadi istri seorang mafia.
Tapi ia bersumpah, ini bukan akhir segalanya.
Ini hanya permulaan.
BAB 16 – PENGANTIN DALAM PENJARA (Lanjutan 2)
Alya duduk di tepi ranjang, jemarinya mengepal di atas gaun pengantin yang kini terasa begitu asing. Kamar ini begitu luas dan mewah, tetapi bagi Alya, tempat ini tak ubahnya seperti kurungan emas.
Pintu terbuka.
Reihan masuk dengan langkah santai, melepas dasi dan jasnya sebelum berjalan mendekat. Matanya menatap Alya tanpa ekspresi, tetapi ada sesuatu yang berbahaya di dalam sorotannya.
“Kau terlihat tegang, Sayang.”
Alya tidak menjawab. Ia hanya menatap lurus ke depan, menolak menunjukkan ketakutannya.
Reihan duduk di tepi ranjang, mengangkat dagunya dengan jari kasar.
“Kau istriku sekarang. Tidak ada lagi penolakan, tidak ada lagi perlawanan,” ucapnya pelan, namun penuh tekanan.
Alya menelan ludah. “Pernikahan ini hanya ada di atas kertas,” bisiknya, suaranya gemetar.
Reihan tertawa kecil. “Di atas kertas, di dunia nyata, di mana pun—kau tetap milikku.”
Alya ingin berteriak, ingin menolaknya. Tapi ia tahu, semakin ia melawan, semakin Reihan akan menekannya.
“Tidurlah,” katanya akhirnya, melepas genggamannya dari dagu Alya. “Aku ingin istriku tetap cantik saat bangun besok pagi.”
Ia berdiri, berjalan ke balkon, menyalakan sebatang rokok, lalu menatap keluar jendela dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Alya berbaring dengan punggung menghadapnya, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh.
Hari ini, ia benar-benar telah kehilangan kebebasannya.
Tapi ini belum berakhir.
Di dalam hatinya, ia bersumpah—akan ada hari di mana ia bisa membalas semuanya.
BAB 16 – PENGANTIN DALAM PENJARA (Lanjutan 3)
Alya memejamkan mata, mencoba mengatur napasnya yang berantakan. Tapi meskipun tubuhnya lelah, pikirannya tetap berputar tanpa henti.
Di sisi lain kamar, Reihan masih berdiri di balkon, mengisap rokoknya dengan tatapan kosong ke arah langit malam.
Alya membuka sedikit matanya, mengamati pria itu dari kejauhan. Ada sesuatu yang aneh—sikapnya malam ini lebih tenang dari biasanya. Tidak ada paksaan, tidak ada ancaman lebih lanjut, hanya keheningan yang membuat suasana semakin menegangkan.
Ia memutuskan untuk mengambil risiko.
“Kenapa kau sangat terobsesi padaku?” tanyanya lirih.
Reihan menoleh perlahan, meletakkan rokoknya di asbak sebelum berjalan mendekat.
Alya menegang, tapi ia tidak mengalihkan pandangannya.
Reihan berjongkok di samping ranjang, menatapnya dari dekat. “Karena kau milikku,” jawabnya singkat, seolah itu alasan yang paling masuk akal di dunia.
Alya mengepalkan selimut di tangannya. “Kau tidak bisa memaksakan perasaan seperti itu, Reihan. Aku bukan barang.”
Reihan tersenyum miring, lalu mengangkat tangan, menyelipkan helaian rambut Alya ke belakang telinga. Sentuhannya lembut, bertolak belakang dengan sifat kejamnya.
“Kau tidak mengerti, Alya.” Suaranya terdengar lebih dalam. “Aku tidak bisa membiarkanmu pergi.”
Alya menelan ludah, jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia tidak tahu apakah itu ancaman atau pengakuan tersembunyi dari seorang pria yang sebenarnya lebih rapuh daripada yang ia tunjukkan.
Tapi satu hal yang pasti—ia harus menemukan cara untuk membebaskan diri sebelum benar-benar tenggelam dalam perangkap Reihan.
BAB 16 – PENGANTIN DALAM PENJARA (Lanjutan 4)
Alya menatap mata Reihan dari jarak dekat. Ada sesuatu di sana—bukan hanya obsesi dan kepemilikan, tetapi juga kegelapan yang begitu dalam.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku, Reihan?" tanyanya pelan, mencoba mencari celah dalam benteng pria itu.
Reihan tidak langsung menjawab. Ia menatapnya lama, sebelum akhirnya menghela napas dan berdiri. "Aku sudah mengatakannya. Kau milikku."
Alya mengepalkan tangannya. "Miliki? Kau tidak bisa memiliki seseorang seperti memiliki barang. Aku manusia, aku punya kehendak sendiri."
Reihan berbalik menatapnya, senyumnya tipis tapi matanya dingin. "Dan kehendakmu adalah lari dariku?"
Alya diam.
Reihan mendekat, duduk di tepi ranjang, lalu menarik dagu Alya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. "Aku bisa memberimu segalanya, Alya. Uang, kekuasaan, perlindungan. Tapi kau masih ingin pergi dariku?"
Alya menatapnya tajam. "Karena aku tidak butuh semua itu. Aku hanya ingin kebebasanku."
Mata Reihan menggelap, rahangnya mengeras. Untuk sesaat, ruangan terasa sunyi mencekam.
Lalu, ia tersenyum tipis—senyum yang membuat Alya semakin waspada. "Kebebasan?" gumamnya, suaranya begitu lembut tapi penuh bahaya. "Baiklah, Alya. Aku akan memberimu kebebasan."
Alya menahan napas.
"Tapi kebebasan itu ada harganya," lanjutnya. "Buktikan padaku bahwa kau bisa hidup tanpa aku. Buktikan bahwa kau benar-benar tidak membutuhkanku."
Alya menatapnya curiga. "Apa maksudmu?"
Reihan berdiri, memasukkan tangannya ke saku. "Mulai besok, aku tidak akan mencampuri hidupmu. Aku akan memberimu kebebasan dalam batasan rumah ini. Aku tidak akan menyentuhmu, tidak akan memaksamu melakukan apa pun."
Alya menatapnya dengan penuh kebingungan. "Apa yang kau rencanakan?"
Reihan tersenyum kecil. "Aku hanya ingin melihat berapa lama kau bisa bertahan tanpaku."
Setelah mengatakan itu, ia berjalan keluar dari kamar, meninggalkan Alya dengan kebingungan dan kecemasan yang lebih besar dari sebelumnya.
Alya tahu, ini bukan sekadar kebebasan. Ini adalah jebakan lain.
Dan ia harus lebih berhati-hati dari sebelumnya.
BAB 16 – PENGANTIN DALAM PENJARA (Lanjutan 5)
Alya duduk diam di ranjang, mencoba memahami permainan baru yang Reihan ciptakan.
Kebebasan dalam batasan rumah ini?
Itu bukan kebebasan. Itu hanyalah penjara tanpa rantai.
Ia menghela napas berat, lalu menatap ke arah pintu yang kini tertutup. Suasana di kamar begitu sunyi, tetapi pikirannya penuh dengan kemungkinan buruk.
Reihan tidak akan semudah itu melepaskannya. Pasti ada sesuatu yang ia rencanakan.
Alya menatap gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya. Dengan enggan, ia bangkit dan berjalan ke lemari, membuka pintunya. Di dalamnya, deretan pakaian mewah tergantung rapi—semuanya pilihan yang tampaknya sudah disiapkan oleh Reihan.
Ia menarik napas panjang, lalu mengganti gaun itu dengan piyama satin berwarna biru muda. Setelah itu, ia duduk di tepi ranjang, menatap pantulan dirinya di cermin.
Matanya terlihat lelah, wajahnya pucat.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?" gumamnya lirih.
Tak ada jawaban.
Tak ada siapa pun di sini selain dirinya sendiri.
Namun, ia tahu, di balik pintu ini, puluhan mata mengawasi setiap gerakannya. Reihan mungkin mengatakan ia bebas, tetapi kenyataannya, kebebasannya hanyalah ilusi.
Alya mengepalkan tangannya. Ia harus menemukan cara untuk keluar dari sini—sebelum Reihan membuatnya benar-benar terjebak dalam permainannya.