BAB 17 – MALAM MILIK REIHAN
Alya duduk di tepi ranjang, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Sejak makan malam tadi, Reihan tak banyak bicara, tetapi tatapannya lebih tajam, lebih menuntut. Ia bisa merasakan aura pria itu memenuhi ruangan, menelannya perlahan dalam gelombang ketegangan yang sulit dijelaskan.
Ketika pintu kamar terbuka, langkah berat Reihan terdengar mendekat. Alya menegang, jemarinya meremas kain piyama satin yang ia kenakan. Reihan berdiri di hadapannya, mata gelapnya mengunci miliknya.
“Kau sudah siap?” suaranya dalam, menggetarkan sesuatu di dalam d**a Alya.
Ia menggigit bibirnya, tak tahu harus menjawab apa.
Tiba-tiba, Reihan meraih dagunya, memaksanya menatap langsung ke dalam matanya. “Kau istriku, Alya,” ucapnya tegas, seakan ingin menanamkan kata-kata itu dalam benaknya. “Dan malam ini, aku tak akan membiarkanmu lari lagi.”
Jemarinya meluncur ke pipi Alya, mengusap lembut sebelum turun ke lehernya. Alya gemetar, tetapi bukan karena takut—melainkan karena efek dari sentuhan pria itu.
Reihan menariknya ke dalam pelukan erat, aroma maskulin bercampur wangi mint menyerbu indra penciumannya. Tanpa peringatan, pria itu mengangkat tubuhnya, membawa Alya ke atas ranjang.
Alya menatapnya dengan napas tersengal. “Reihan…”
“Aku akan membuatmu mengingat siapa pemilikmu,” bisiknya sebelum menunduk, bibirnya menyapu lembut sisi leher Alya, menyebabkan desiran panas merayap di bawah kulitnya.
Ketika ia mencium Alya lebih dalam, dunia seakan mengecil, menyisakan hanya mereka berdua di dalamnya.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Alya benar-benar menjadi milik Reihan—tanpa celah untuk melarikan diri.
BAB 17 – MALAM MILIK REIHAN (Lanjutan)
Alya merasa seluruh tubuhnya melemah dalam dekapan Reihan. Nafasnya tersengal, pikirannya kabur dalam gelombang sensasi yang baru pertama kali ia alami. Sentuhan Reihan bukan hanya sekadar menuntut, tetapi juga membakar, menyelimuti tubuhnya dengan kehangatan yang menggetarkan.
Pria itu menatapnya dalam, seakan ingin menelan setiap ekspresi yang muncul di wajahnya. Jari-jarinya menyusuri lekuk wajah Alya dengan lembut, sebelum turun ke leher, lalu berhenti di bahunya.
"Kau milikku, Alya," suaranya dalam dan penuh kepemilikan. "Dan aku tak akan membiarkanmu pergi."
Alya hanya bisa menggigit bibir, mencoba mengatur degup jantungnya yang semakin liar. Namun, Reihan tak memberinya kesempatan untuk berpikir lebih jauh.
Ia kembali mendekat, menelusuri leher Alya dengan kecupan penuh tuntutan. Jemarinya bergerak dengan kesabaran yang menyiksa, membuat tubuh Alya bergetar di bawah kendalinya.
"Aku akan memastikan kau mengingat malam ini selamanya," bisiknya di telinga Alya sebelum tenggelam lebih dalam ke dalam lautan keinginan yang tak terbendung.
Malam itu, Alya menyerahkan segalanya pada Reihan. Dan pria itu memastikan bahwa tak ada lagi ruang bagi Alya untuk melarikan diri—baik dari dirinya maupun dari perasaan yang perlahan mulai mengakar di hati mereka.
BAB 17 – MALAM MILIK REIHAN (Lanjutan 2)
Alya terbaring di bawah sorot mata tajam Reihan. Nafasnya masih tersengal, tubuhnya terasa lemas dalam dekapannya. Keheningan yang menggantung di antara mereka justru terasa lebih menggetarkan daripada ribuan kata yang bisa diucapkan.
Reihan mengusap pipinya dengan lembut, sentuhan kontras dari pria yang begitu dominan dan dingin. “Lihat aku,” perintahnya lirih.
Alya menuruti, matanya bertemu dengan tatapan yang begitu dalam dan menuntut. Reihan bukan hanya sedang memiliki tubuhnya, tapi juga hatinya, pikirannya, bahkan seluruh keberadaannya.
“Mulai sekarang, kau hanya milikku,” ucapnya dengan nada rendah, penuh kepastian.
Alya menelan ludah, hatinya berdebar. Ia tahu sejak awal bahwa Reihan bukan pria yang mudah membiarkan sesuatu yang menjadi miliknya pergi. Dan malam ini, ia telah benar-benar jatuh dalam jeratnya.
Reihan menariknya ke dalam pelukan, jemarinya mengelus punggung Alya dengan lembut, membuat gadis itu merasakan kehangatan yang perlahan merasuk ke dalam hatinya.
“Tidurlah,” bisiknya di atas kepala Alya. “Aku di sini.”
Alya memejamkan mata, membiarkan dirinya larut dalam dekapannya. Untuk pertama kalinya, di tengah semua ketakutan dan kebingungannya, ia merasa… aman.
Namun, ia tahu, ini hanyalah awal dari permainan berbahaya yang telah Reihan mulai.
BAB 17 – MALAM MILIK REIHAN (Lanjutan 3)
Alya terjaga di tengah malam, merasakan kehangatan yang begitu nyata di sisinya. Nafas Reihan yang stabil terdengar dekat, d**a bidangnya menjadi sandaran bagi kepalanya. Ia menatap wajah pria itu dalam remang cahaya kamar, mencoba memahami apa yang sebenarnya ia rasakan.
Satu sisi hatinya masih diliputi ketakutan—takut akan Reihan, takut akan masa depan yang kini tak lagi sepenuhnya dalam genggamannya. Tapi di sisi lain, ada sesuatu yang tak bisa ia ingkari… sentuhan pria itu meninggalkan jejak yang dalam, membangkitkan perasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
“Kau belum tidur?” Suara Reihan yang serak karena baru bangun membuat tubuh Alya menegang.
Alya menggigit bibirnya. “Aku hanya…”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Reihan telah membalikkan tubuhnya hingga ia terjebak dalam tatapan pria itu. Jemari Reihan mengusap pipinya dengan lembut, lalu turun ke lehernya, seakan ingin memastikan bahwa Alya benar-benar ada di sana, bersamanya.
“Apa yang kau pikirkan?” tanyanya dengan nada rendah, nyaris berbisik.
Alya menunduk, enggan mengakui kebingungan yang melandanya. “Aku tidak tahu…”
Reihan menghela napas, lalu menarik Alya lebih dekat. “Tak perlu berpikir terlalu banyak,” gumamnya. “Aku sudah memilikimu, dan aku tak akan membiarkanmu pergi.”
Nada posesifnya seharusnya membuat Alya marah, tetapi yang ia rasakan justru sebaliknya—jantungnya berdetak lebih cepat, seolah tubuhnya mulai terbiasa dengan d******i Reihan.
“Tidurlah,” bisik pria itu lagi, kali ini lebih lembut. “Besok, semuanya tetap milikku… termasuk kau.”
Alya memejamkan mata, mencoba mengabaikan getaran aneh dalam hatinya. Ia tahu, mulai malam ini, hidupnya tak akan pernah sama lagi.
BAB 17 – MALAM MILIK REIHAN (Lanjutan 4)
Pagi menjelang dengan cahaya matahari yang perlahan merambat masuk melalui celah tirai. Alya menggeliat pelan, merasakan kehangatan yang masih menyelimuti tubuhnya. Baru saja ia hendak bergerak, lengannya tertahan oleh sesuatu—atau lebih tepatnya, seseorang.
Reihan.
Pria itu masih tertidur, satu lengannya melingkari pinggang Alya dengan erat, seakan tak ingin melepaskannya sedetik pun. Nafasnya teratur, tetapi bahkan dalam tidurnya, ekspresi wajahnya tetap terlihat dominan dan menguasai.
Alya menatap wajah suaminya dalam diam. Ia masih berusaha memahami apa yang terjadi pada dirinya. Semalam, Reihan telah memilikinya sepenuhnya, menghapus batas di antara mereka. Seharusnya, ia merasa marah atau menyesal. Namun, yang ia rasakan justru kebingungan yang lebih dalam.
Apa yang sudah aku lakukan?
Ia mencoba bergerak perlahan, berusaha melepaskan diri dari pelukan Reihan. Namun, baru saja ia menggeser tubuhnya sedikit, genggaman pria itu semakin mengerat.
“Kemana kau mau pergi?” Suara berat Reihan yang masih terdengar mengantuk membuat Alya menahan nafasnya.
“Aku…” Alya mencari alasan, tetapi pikirannya masih terlalu kacau.
Reihan membuka matanya perlahan, menatapnya dengan sorot yang dalam. Lalu, tanpa peringatan, ia menarik Alya lebih dekat hingga tubuh mereka kembali bertemu tanpa jarak.
“Kau milikku, Alya,” gumamnya sambil mengecup keningnya, lalu turun ke pipi, dan akhirnya berhenti di bibirnya. “Jangan pernah berpikir untuk pergi.”
Alya menahan nafas, jantungnya berdetak kencang saat bibir Reihan menyapu lembut bibirnya. Sentuhan itu tak seintens semalam, tetapi cukup untuk membuatnya kehilangan kata-kata.
Reihan tersenyum tipis, matanya berkilat dengan kepuasan. “Aku ingin kau terbiasa dengan ini.”
Alya menggigit bibir, menunduk menghindari tatapannya. “Kau terlalu posesif,” gumamnya pelan.
Reihan tertawa pelan, nada suaranya terdengar berbahaya. “Dan kau baru menyadarinya sekarang?”
Alya tidak menjawab. Ia hanya bisa pasrah saat Reihan kembali menariknya dalam dekapannya, menahannya tetap dalam genggamannya.
Ia tahu, sejak malam tadi, tak ada lagi jalan keluar untuknya.
BAB 17 – MALAM MILIK REIHAN (Lanjutan 5)
Alya masih terjebak dalam dekapan Reihan, tubuhnya enggan dilepaskan bahkan setelah pagi benar-benar datang. Udara di kamar terasa hangat, tetapi bukan hanya karena sinar matahari yang menyelinap masuk—melainkan karena keberadaan pria itu yang seakan menyelimuti seluruh ruang.
“Kau belum menjawabku,” suara Reihan terdengar dalam dan penuh tuntutan.
Alya mengerjap, masih setengah sadar. “Menjawab apa?”
Reihan mengusap lembut punggungnya, membuatnya semakin sulit untuk berpikir jernih. “Apa kau menyesal?”
Pertanyaan itu membuat Alya terdiam. Ia tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Semalam, ia menyerahkan segalanya pada Reihan, membiarkan pria itu benar-benar memilikinya. Seharusnya ia menyesal, tetapi yang ia rasakan bukanlah itu.
“Aku tidak tahu…” jawabnya lirih.
Reihan menyentuh dagunya, memaksanya menatap langsung ke matanya. “Jujurlah, Alya.”
Alya menggigit bibirnya. Ia bisa melihat sesuatu dalam tatapan Reihan—sesuatu yang dalam, yang tak bisa ia pahami sepenuhnya. Apakah pria ini benar-benar menginginkannya hanya karena obsesi? Atau ada perasaan lain di sana?
Reihan mendekat, bibirnya menyapu pelipis Alya dengan kelembutan yang kontras dengan sifat dominannya. “Aku tidak akan membiarkanmu lari, apa pun jawabanmu.”
Alya menarik napas dalam, mencoba mengabaikan getaran yang ditimbulkan oleh kedekatan mereka. “Lalu, apa yang kau inginkan dariku sekarang?”
Reihan menyeringai tipis, lalu membisikkan sesuatu di telinganya—sesuatu yang membuat wajah Alya seketika memanas.
“Aku ingin lebih.”
Alya menelan ludah, tetapi sebelum ia sempat memahami maksudnya, Reihan sudah kembali menariknya ke dalam pelukan, menandakan bahwa malam tadi hanyalah permulaan dari semuanya.