bab 18

1277 Kata
BAB 18 – MENYERAH PADA CINTA Alya terbaring di bawah tatapan tajam Reihan. Cahaya pagi yang menerobos masuk melalui jendela memperlihatkan setiap detail di wajah pria itu—mata gelapnya yang penuh tuntutan, rahangnya yang tegas, serta senyum samar yang begitu berbahaya. "Kau milikku, Alya," suaranya dalam, nyaris seperti bisikan, tetapi memiliki efek yang begitu kuat dalam hati Alya. Ia tak lagi bisa menyangkal. Semalam, ia telah menyerahkan segalanya, membiarkan Reihan benar-benar memilikinya. Dan kini, saat pria itu kembali mendekat, Alya tidak menemukan keberanian untuk menolak. Jemari Reihan menyusuri pipinya dengan lembut sebelum turun ke lehernya, menyentuhnya seolah ia adalah sesuatu yang berharga. “Aku ingin melihatmu menerimaku sepenuhnya,” gumamnya. Alya menahan napas saat bibir Reihan mengecup dahinya, turun ke pelipis, lalu berhenti di bibirnya. Ciumannya kali ini berbeda—bukan lagi sekadar tuntutan, melainkan sebuah kepemilikan yang dalam. Tanpa sadar, Alya membalas sentuhan itu. Ia tak lagi melawan. Reihan tersenyum di sela ciumannya, menyadari perubahan pada istrinya. “Begitu lebih baik,” bisiknya, suaranya terdengar puas. Alya merasakan kehangatan menyelimuti dirinya saat Reihan menariknya lebih dekat. Kali ini, ia tak lagi merasa takut atau ragu. Untuk pertama kalinya, ia membiarkan dirinya menikmati setiap sentuhan suaminya, menyerah pada perasaan yang perlahan mulai menguasai hatinya. Malam tadi adalah awal, dan pagi ini adalah bukti bahwa dirinya kini sepenuhnya telah menjadi milik Reihan. BAB 18 – MENYERAH PADA CINTA (Lanjutan 2) Alya terpejam, membiarkan dirinya larut dalam setiap sentuhan suaminya. Tidak ada lagi ketakutan, tidak ada lagi keraguan. Yang ada hanyalah dirinya dan Reihan, terikat dalam kehangatan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Reihan menatapnya dengan intens, seakan mengukir setiap ekspresi di wajah Alya dalam ingatannya. Jemarinya menyapu lembut rambut istrinya, sebelum turun ke pipinya. “Aku ingin kau mengingat ini, Alya,” suaranya terdengar rendah, penuh ketulusan yang tersembunyi di balik sikap posesifnya. Alya membuka matanya, menatap suaminya dengan napas sedikit tersengal. “Mengingat apa?” Reihan tersenyum tipis, lalu mengecup keningnya lama. “Bahwa aku satu-satunya pria yang boleh menyentuhmu seperti ini.” Pernyataan itu membuat Alya merasakan sesuatu yang aneh di dadanya—sesuatu yang hangat, tetapi juga menyesakkan. Ia tak bisa lagi menyangkal bahwa ada perasaan yang mulai tumbuh di antara mereka, sesuatu yang lebih dari sekadar keterpaksaan atau kepemilikan. Reihan menarik Alya lebih dalam ke pelukannya, membuat gadis itu tenggelam dalam dekapan yang tak ingin ia lepaskan. “Kau milikku,” ulangnya sekali lagi, seolah ingin menegaskan bahwa perasaan ini bukan sesuatu yang bisa dihindari. Dan kali ini, untuk pertama kalinya, Alya tidak lagi merasa ingin melawan. Ia tahu, ia telah sepenuhnya menjadi milik Reihan—bukan hanya tubuhnya, tetapi juga hatinya. BAB 18 – MENYERAH PADA CINTA (Lanjutan 3) Alya terdiam dalam dekapan Reihan. Dadanya masih naik turun, mencoba mengatur napas yang tak beraturan setelah terhanyut dalam lautan perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Reihan mengusap rambutnya perlahan, membiarkan jemarinya bermain di antara helaian lembut itu. “Aku suka melihatmu seperti ini,” gumamnya, suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya. Alya menggigit bibir, menyembunyikan wajahnya di d**a bidang pria itu. Ia tak tahu bagaimana harus menghadapi situasi ini. Dirinya yang dulu mungkin akan melawan, tetapi sekarang, entah mengapa, ia tidak ingin beranjak dari sisi Reihan. “Jangan bersembunyi,” Reihan menegakkan tubuhnya sedikit, membuat Alya kembali menatapnya. “Aku ingin melihat wajahmu.” Alya mendesah pelan. “Kau terlalu mendominasi.” Reihan tersenyum tipis. “Dan kau sudah tahu itu sejak awal.” Alya tak bisa membantah. Ia hanya bisa membiarkan Reihan menyentuh wajahnya lagi, memperlakukannya seolah ia adalah sesuatu yang begitu berharga. Sentuhan pria itu bukan hanya sekadar kepemilikan, tetapi juga memiliki kehangatan yang sulit ia abaikan. “Mulai sekarang, aku tak akan membiarkanmu jauh dariku, Alya.” Kalimat itu membuat d**a Alya berdebar. Ia tahu, bukan hanya tubuhnya yang kini dimiliki Reihan, tetapi juga hatinya yang perlahan mulai takluk. Dan mungkin, untuk pertama kalinya, ia tak lagi takut akan perasaan itu. BAB 18 – MENYERAH PADA CINTA (Lanjutan 4) Alya masih terdiam dalam dekapan Reihan, mendengar detak jantung pria itu yang terdengar stabil dan menenangkan. Ia tidak tahu sejak kapan hatinya mulai bergetar karena Reihan, tetapi ia tak bisa menyangkal bahwa setiap sentuhan pria itu membuatnya semakin tenggelam. Reihan mengusap lembut punggungnya, jemarinya bergerak perlahan seolah menenangkan. "Kau terlihat lebih tenang sekarang," gumamnya. Alya menggigit bibir, enggan mengakui bahwa kata-kata itu ada benarnya. "Aku hanya lelah," jawabnya pelan. Reihan terkekeh, lalu mendekatkan wajahnya hingga napas hangatnya menyapu telinga Alya. "Lelah karena aku?" bisiknya penuh godaan. Wajah Alya langsung memanas. Ia mendorong d**a Reihan pelan, tetapi pria itu justru semakin mengeratkan pelukannya. "Jangan mulai menggodaku," gerutu Alya. Reihan tersenyum, tetapi tatapan matanya tetap tajam. "Aku hanya ingin memastikan bahwa kau tidak menyesali apa yang terjadi." Alya terdiam. Ia tahu, jika ditanya beberapa waktu lalu, ia mungkin akan mengatakan bahwa ia menyesal. Tetapi kini, setelah semua yang terjadi, ia tidak bisa menemukan kata ‘menyesal’ dalam hatinya. "Aku tidak tahu," jawabnya jujur. Reihan menatapnya lama, lalu mengecup keningnya. "Bagus," gumamnya. "Karena aku tidak akan membiarkanmu lari dari ini, Alya." Alya menatapnya dengan berbagai perasaan yang bercampur aduk. Ia tahu, sejak malam tadi, hidupnya benar-benar telah berubah. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak yakin apakah dirinya masih ingin melarikan diri dari Reihan atau justru ingin tetap berada di sisinya. BAB 18 – MENYERAH PADA CINTA (Lanjutan 5) Alya masih terdiam, merasakan sentuhan lembut Reihan di punggungnya. Tatapan pria itu begitu dalam, seakan menelanjangi setiap perasaan yang tersembunyi di hatinya. "Apa yang kau pikirkan?" tanya Reihan, suaranya tenang namun penuh tuntutan. Alya mengalihkan pandangan, berusaha menyembunyikan kebingungan dalam hatinya. "Aku tidak tahu…" Reihan mengusap dagunya, memaksanya kembali menatapnya. "Jangan berbohong padaku, Alya." Jantung Alya berdetak lebih cepat. Ia tidak bisa lagi menghindar, terutama ketika pria itu menatapnya sedekat ini. "Aku hanya bingung," akhirnya ia mengaku. "Aku tidak pernah membayangkan bahwa hidupku akan berubah seperti ini… bahwa aku akan menjadi milik seseorang seperti—" "Seperti aku?" potong Reihan dengan seringai kecil. Alya mengangguk pelan. Reihan menelusuri wajahnya dengan jemari hangatnya, seolah menghafalkan setiap lekuknya. "Terimalah kenyataan, Alya. Kau sudah menjadi milikku sepenuhnya. Tidak ada jalan kembali." Alya terdiam. Kata-kata Reihan terdengar seperti ancaman, tetapi di saat yang sama, ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuatnya merasa aman. Reihan mengecup keningnya pelan, lalu berbisik di telinganya, "Dan aku akan memastikan kau tidak pernah ingin pergi." Alya menelan ludah, merasakan getaran aneh di hatinya. Ia tidak tahu apakah ini ketakutan… atau justru perasaan lain yang mulai tumbuh tanpa ia sadari. BAB 18 – MENYERAH PADA CINTA (Lanjutan 6) Alya masih tenggelam dalam dekapan Reihan, merasakan kehangatan yang begitu nyata di sekelilingnya. Perasaan di dadanya semakin sulit untuk diartikan—apakah ini ketakutan, kepasrahan, atau justru sesuatu yang lebih dalam yang mulai tumbuh di hatinya? Reihan mengusap rambut Alya dengan lembut, seolah ingin meyakinkannya bahwa ia tidak akan ke mana-mana. "Kau masih ragu padaku?" tanyanya pelan. Alya menggigit bibirnya. "Aku tidak tahu, Reihan. Aku hanya... butuh waktu." Reihan menatapnya dalam, jemarinya mengangkat dagu Alya agar gadis itu tidak menghindari tatapannya. "Aku tidak keberatan menunggu," gumamnya. "Tapi ingat, Alya… menunggumu menerima perasaanmu sendiri bukan berarti aku akan membiarkanmu pergi." Alya menelan ludah. Ada nada kepemilikan yang kuat dalam suara Reihan, tetapi anehnya, ia tidak merasa takut seperti sebelumnya. Justru, ada sesuatu yang membuatnya nyaman, seolah kata-kata pria itu adalah perlindungan yang diam-diam ia butuhkan. Reihan mengecup keningnya pelan, lalu berbisik di telinganya, "Mulai sekarang, kau hanya milikku. Kau tidak perlu mencari tempat lain untuk berlindung, karena aku adalah tempatmu, Alya." Alya memejamkan mata, membiarkan kata-kata itu meresap ke dalam hatinya. Ia tahu, sejak malam itu, tak ada lagi jalan kembali. Dirinya telah menjadi milik Reihan sepenuhnya—dan yang lebih mengejutkan, ia mulai bisa menerima kenyataan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN