BAB 19 – PELARIAN YANG TERHENTI
Alya duduk di tepi ranjang, menatap bayangan dirinya di cermin dengan perasaan yang campur aduk. Hatinya masih bergetar mengingat kata-kata Reihan tadi malam—begitu penuh kepastian, begitu mengikat. Ia seharusnya takut, seharusnya merasa terkurung dalam genggaman pria itu. Namun, entah mengapa, ada sisi lain dalam dirinya yang justru merasa... tenang.
Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. Tak butuh waktu lama sebelum pintu terbuka, dan Reihan melangkah masuk dengan tatapan tajam yang langsung mengunci gerak Alya.
"Kau ingin kabur lagi?" tanyanya, nada suaranya dingin namun mengandung tantangan.
Alya menegakkan punggungnya. "Aku hanya butuh udara segar," jawabnya pelan.
Reihan berjalan mendekat, kedua tangannya terangkat untuk menyentuh wajah Alya. "Kau tahu aku tidak akan membiarkanmu pergi, bukan?" bisiknya seraya menatap mata gadis itu dalam-dalam.
Alya menggigit bibirnya. Ia tahu. Sejak awal, sejak ia pertama kali bertemu Reihan, ia sadar bahwa pria itu bukan seseorang yang akan melepaskannya dengan mudah. Namun, hatinya masih memberontak, masih ingin mencari jalan keluar dari perasaan yang membelenggu dirinya.
"Aku tidak bisa hidup seperti ini selamanya, Reihan," lirihnya. "Aku butuh kebebasan. Aku butuh... pilihan."
Tatapan Reihan menggelap, rahangnya mengeras. "Kau pikir aku tidak memberimu pilihan?" desisnya. "Alya, satu-satunya pilihan yang ada hanyalah bersamaku."
Hati Alya berdebar. Ada sesuatu dalam cara Reihan berbicara yang selalu membuatnya kehilangan kata-kata. Apakah ini yang disebut kepasrahan? Atau ini hanya awal dari sebuah perang batin yang lebih besar?
Tanpa peringatan, Reihan meraih pinggang Alya, menariknya ke dalam pelukan erat. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Alya. Kau milikku," bisiknya di telinga gadis itu.
Alya menutup matanya rapat-rapat. Ia bisa merasakan detak jantung Reihan yang kuat, bisa merasakan ketulusan dalam genggamannya. Tapi apakah itu cukup untuk menghapus keraguan yang masih bersemayam di hatinya?
Ia tidak tahu. Yang jelas, kali ini pelariannya benar-benar terhenti.
BAB 19 – PELARIAN YANG TERHENTI (Lanjutan 2)
Alya tetap diam dalam dekapan Reihan, merasakan debar jantung pria itu yang kuat dan stabil. Ia bisa merasakan betapa dalamnya obsesi Reihan terhadapnya. Bukan hanya sekadar rasa memiliki—lebih dari itu, pria ini benar-benar menginginkannya tetap di sisinya, tanpa celah untuk lari.
Namun, Alya tidak bisa mengabaikan suaranya sendiri. Keinginannya untuk memiliki kebebasan, untuk bisa memilih jalannya sendiri. Tapi benarkah ia masih ingin pergi?
"Reihan…" Suaranya hampir tak terdengar.
"Hm?"
"Aku hanya ingin kau mengerti perasaanku juga. Aku bukan boneka yang bisa kau atur sesukamu," lirihnya, matanya berusaha mencari kejujuran di balik tatapan kelam pria itu.
Reihan menatapnya dalam. "Aku tidak pernah menganggapmu seperti itu, Alya," gumamnya. "Aku hanya... tidak bisa membayangkan hidup tanpa dirimu."
Kata-kata itu menghantam hati Alya dengan keras. Ada ketulusan di sana, di balik sikap posesifnya yang begitu mengekang. Reihan memang berbahaya, dingin, dan terkadang menakutkan, tetapi dalam dekapan ini, Alya bisa merasakan sesuatu yang nyata—perasaan yang mungkin tidak bisa ia tolak selamanya.
Reihan mengecup puncak kepalanya, lalu menangkup wajah Alya dengan kedua tangannya. "Aku tahu kau masih takut, masih ragu. Tapi aku akan membuatmu sadar bahwa tempatmu memang di sisiku."
Alya menelan ludah. Ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa perasaannya tidak bisa dipaksa. Tapi, apakah itu benar? Ataukah dirinya hanya mencoba menutupi sesuatu yang perlahan tumbuh di dalam hatinya?
Ia tidak tahu. Yang ia tahu, malam ini, ia kembali membiarkan dirinya terperangkap dalam dunia Reihan.
BAB 19 – PELARIAN YANG TERHENTI (Lanjutan 3)
Alya menunduk, membiarkan kata-kata Reihan menggema dalam pikirannya. Ada ketegangan di antara mereka, sesuatu yang tak terlihat tetapi begitu kuat mencengkeram. Ia ingin percaya pada Reihan, tetapi bagian dari dirinya masih takut kehilangan kendali atas hidupnya sendiri.
Reihan merasakan kegelisahan Alya. Ia mengusap pipi gadis itu dengan ibu jarinya, menatapnya dalam seolah ingin menelusuri isi hatinya. "Alya, aku tidak akan memaksamu," ucapnya dengan suara yang lebih lembut dari biasanya. "Tapi jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku. Itu hal yang tidak bisa kuterima."
Alya mengangkat wajahnya, matanya bertemu dengan mata kelam Reihan. "Bagaimana kalau aku tetap ingin pergi?" tanyanya pelan.
Seulas senyum tipis terbentuk di bibir Reihan, tetapi bukan senyum yang menenangkan. Ada sesuatu yang berbahaya di sana. "Kau bisa mencoba," ucapnya tenang. "Tapi aku pastikan, ke mana pun kau pergi, aku akan selalu menemukanku. Dan saat itu terjadi, aku tidak akan melepaskanmu lagi, bahkan untuk sedetik pun."
Jantung Alya berdegup kencang. Ancaman itu terselip dalam nada suara yang lembut, tetapi ia tahu Reihan tidak main-main.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku, Reihan?" suaranya bergetar, bukan karena takut, melainkan karena campuran perasaan yang membingungkan.
Reihan menangkup wajahnya, mendekat hingga napas hangatnya menyentuh kulit Alya. "Aku hanya ingin kau menerimaku, Alya. Tanpa ragu, tanpa ketakutan."
Alya terdiam. Ia tahu, ini bukan lagi sekadar tentang kepemilikan atau obsesi. Ada sesuatu yang lebih dalam di balik sikap keras Reihan—sesuatu yang mungkin bisa membuatnya tetap tinggal. Tapi apakah ia siap menerima semuanya?
Reihan menempelkan dahinya pada dahi Alya. "Aku memberimu waktu," gumamnya. "Tapi jangan berpikir bahwa aku akan berhenti memperjuangkanmu."
Alya memejamkan mata. Ia tidak tahu apakah ia masih ingin lari atau justru mulai menikmati cara Reihan menggenggamnya. Yang pasti, malam ini, ia tidak akan pergi ke mana-mana.
BAB 19 – PELARIAN YANG TERHENTI (Lanjutan 4)
Alya menggigit bibirnya, menahan sesak yang tiba-tiba menyergap dadanya. Matanya tak berkedip menatap layar ponselnya, di mana sebuah foto terpampang jelas—Reihan bersama seorang wanita cantik, seorang model terkenal yang sering muncul di televisi.
Mereka terlihat begitu akrab. Sang model tertawa kecil dengan tangan yang bertengger di lengan Reihan, sementara pria itu hanya menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak.
Alya merasa jantungnya mencelos. Ia tahu bahwa Reihan adalah pria yang dingin, tidak mudah dekat dengan orang lain, apalagi seorang wanita. Tapi kenapa dengan model ini, ia terlihat berbeda?
"Alya?"
Suara berat itu menyentaknya dari lamunan. Ia buru-buru mematikan layar ponselnya dan mendongak, mendapati Reihan berdiri di ambang pintu kamar dengan tatapan penuh selidik.
"Kau kenapa?" tanyanya, alisnya sedikit berkerut.
Alya menggeleng cepat. "Tidak apa-apa," jawabnya pendek, tetapi matanya menghindari tatapan pria itu.
Reihan mendekat, duduk di tepi ranjang tepat di hadapan Alya. "Jangan berbohong padaku," desaknya, jemarinya terangkat untuk menyentuh dagu Alya, memaksanya menatap ke arahnya. "Katakan apa yang mengganggumu."
Alya menepis tangannya. "Aku tidak ingin membicarakannya."
Reihan terdiam sejenak, lalu menghela napas pelan. "Ini tentang Nayla, bukan?"
Alya terkesiap. "Jadi benar? Model itu… Nayla?"
Reihan mengangguk, tetapi ekspresinya tetap datar. "Ya, dan aku yakin kau melihat fotonya."
Hati Alya mencelos. Jika Reihan tahu ia melihatnya, berarti… pria itu memang tidak menutupi kedekatannya dengan wanita itu.
"Kenapa kau tidak bilang padaku?" suara Alya bergetar, menahan sesuatu yang mulai membakar hatinya.
Reihan menghela napas panjang, seolah sedang berusaha menahan kesabaran. "Karena aku tidak merasa itu penting."
Alya terdiam, matanya berkabut. Tidak penting? Lalu apa artinya dirinya bagi pria ini?
Reihan melihat perubahan ekspresi Alya dan segera menangkap tangannya. "Dengar, Alya. Nayla hanyalah rekan bisnis. Tidak lebih."
"Rekan bisnis yang bisa menyentuhmu dengan bebas?" potong Alya, suaranya sedikit bergetar. "Kau pikir aku bodoh, Reihan? Kau bahkan tidak suka disentuh oleh orang lain, tapi dengan dia… kau membiarkannya?"
Rahim Reihan mengeras. Matanya menatap Alya dalam-dalam sebelum akhirnya ia mengangkat tangannya dan menyelipkan rambut gadis itu ke belakang telinga.
"Kau cemburu," gumamnya pelan, tetapi ada nada kemenangan dalam suaranya.
Alya tersentak. "Aku tidak—"
"Kau cemburu, Alya," potong Reihan, mendekatkan wajahnya hingga napas mereka hampir bersatu. "Dan aku menyukainya."
Dada Alya naik turun dengan cepat. Ia ingin menyangkal, ingin marah, tetapi tatapan Reihan yang penuh kepastian membuatnya kehilangan kata-kata.
Reihan tersenyum miring. "Aku akan menjelaskan semuanya, tapi satu hal yang harus kau ingat…" Ia menarik Alya ke dalam pelukannya, membisikkan kata-kata yang membuat jantung gadis itu berdetak lebih kencang.
"Aku tidak akan pernah berpaling darimu, Alya. Kau satu-satunya yang kuinginkan."
Namun, bisakah Alya benar-benar percaya? Ataukah rasa sakit di hatinya akan membuatnya kembali mempertanyakan segalanya?
BAB 19 – PELARIAN YANG TERHENTI (Lanjutan 5)
Alya melangkah masuk ke dalam gedung perkantoran mewah itu dengan perasaan tidak menentu. Sejak tadi, hatinya dipenuhi kegelisahan dan kemarahan yang sulit dijelaskan. Ia sudah mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua hanya kesalahpahaman, tetapi foto-foto yang beredar di internet dan sikap Reihan yang terkesan menyepelekan membuatnya semakin tidak tenang.
Hari ini, ia ingin melihat sendiri. Ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah bertanya pada resepsionis, Alya berjalan menuju ruang kerja Reihan di lantai tertinggi. Pintu kaca besar itu sedikit terbuka, dan suara tawa seorang wanita membuat langkahnya terhenti di ambang pintu.
Alya menegang. Perlahan, ia mengintip ke dalam.
Di sana, di dalam ruangan luas dengan jendela besar yang menghadap ke kota, Reihan sedang duduk di sofa, sementara seorang wanita duduk di sampingnya—Nayla, model yang selama ini membuat pikirannya kacau. Wanita itu tertawa manja, tangannya menepuk lengan Reihan dengan akrab, sementara pria itu tidak menghindar.
Dada Alya terasa sesak. Ia tahu Reihan bukan tipe pria yang mudah bersikap hangat pada orang lain, tetapi dengan Nayla… ia terlihat berbeda. Terlalu santai, terlalu membiarkan.
Sakit.
Alya mengepalkan tangannya, berusaha menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Ia ingin masuk dan bertanya langsung, tetapi hatinya terlalu sakit untuk menghadapi kenyataan yang mungkin akan lebih menyakitkan.
Tepat saat ia hendak berbalik pergi, suara Nayla kembali terdengar.
"Reihan, kau yakin tidak ingin makan malam bersamaku malam ini? Aku rindu menghabiskan waktu denganmu seperti dulu," suara wanita itu terdengar manja.
Jantung Alya mencelos. Dulu? Berarti mereka memang memiliki hubungan di masa lalu?
Detik berikutnya, suara Reihan terdengar, datar namun tidak menolak. "Aku sibuk, Nayla."
Jawaban itu seharusnya membuat Alya lega, tetapi nyatanya tidak. Karena Reihan tidak terdengar tegas menolak, tidak seperti saat ia berbicara dengannya. Seakan hubungan mereka memang memiliki masa lalu yang belum sepenuhnya usai.
Tidak tahan lagi, Alya berbalik dan melangkah cepat meninggalkan tempat itu. Dadanya terasa sesak, pikirannya penuh dengan ribuan kemungkinan yang semakin menghancurkan kepercayaannya pada Reihan.
Apakah selama ini ia hanya dipermainkan? Apakah Reihan benar-benar serius dengannya, atau hanya menganggapnya sebagai salah satu bagian dari permainannya?
Alya tidak tahu. Yang ia tahu, hatinya benar-benar sakit.