BAB 20 – KEPUTUSAN UNTUK PERGI
Alya duduk di tepi tempat tidur, tatapannya kosong menatap lantai. Hatinya masih terasa sesak, pikirannya terus-menerus memutar kejadian di kantor Reihan siang tadi—tatapan pria itu pada Nayla, cara Nayla menyentuhnya, dan bagaimana Reihan tidak menolaknya.
Ia ingin menyangkal semuanya. Ingin percaya bahwa Reihan tidak seperti itu, bahwa pria itu benar-benar tulus mencintainya. Tapi bagaimana bisa ia bertahan jika setiap waktu selalu dipenuhi keraguan?
Matanya mulai panas. Ia sudah mencoba untuk bertahan, untuk menerima Reihan apa adanya, meski pria itu posesif dan terlalu mengikatnya. Namun, jika pada akhirnya ia hanya akan tersakiti, apa gunanya tetap tinggal?
Alya menarik napas dalam-dalam, mencoba menguatkan dirinya. Keputusan ini tidak mudah, tetapi ia tahu bahwa ia harus pergi.
Ia berdiri, meraih koper di sudut kamar, lalu mulai memasukkan beberapa pakaian ke dalamnya. Tangannya sedikit gemetar, hatinya berat, tetapi ini adalah hal yang harus ia lakukan.
Saat ia hampir selesai, suara pintu terbuka mendadak membuatnya terkejut.
Reihan berdiri di ambang pintu, ekspresinya berubah dingin begitu melihat koper yang sudah terbuka di atas ranjang.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya, suaranya rendah namun berbahaya.
Alya menelan ludah. Ia mencoba tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang. "Aku pergi, Reihan."
Rahim Reihan menegang, matanya menatap tajam ke arahnya. "Tidak."
"Aku tidak bisa tinggal di sini lebih lama," lanjut Alya, suaranya bergetar. "Aku lelah, Reihan. Aku tidak bisa terus berada dalam bayang-bayangmu tanpa tahu apa yang sebenarnya ada di hatimu."
Reihan melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. "Jadi ini tentang Nayla?" tebaknya tajam.
Alya tersenyum pahit. "Bukan hanya tentang Nayla. Tapi tentang semuanya. Tentang caramu mengikatku, caramu mengendalikan hidupku, dan sekarang… tentang kepercayaan yang mulai goyah."
Reihan berjalan mendekat, lalu mencengkeram bahu Alya dengan erat. "Kau tidak akan pergi."
Alya mendongak menatapnya, matanya berkaca-kaca. "Aku harus pergi."
Reihan semakin mengeratkan cengkeramannya. "Jangan paksa aku melakukan sesuatu yang akan membuatmu menyesal, Alya."
Alya tercekat. Nada suara pria itu penuh ancaman, tetapi bukan itu yang membuatnya terdiam—melainkan ketakutan yang ia rasakan, bukan terhadap Reihan, tetapi terhadap perasaannya sendiri.
Ia takut jika tetap bertahan, ia akan semakin terjebak dalam dunia pria ini tanpa bisa keluar lagi.
Dengan napas tersengal, Alya menepis tangan Reihan dari bahunya. "Jangan lakukan ini, Reihan," bisiknya lirih. "Lepaskan aku…"
Mata Reihan berkilat tajam. "Aku tidak akan pernah melepaskanmu."
Alya menggeleng, air matanya jatuh. "Kalau begitu… biarkan aku pergi sebelum semuanya menjadi lebih buruk."
Reihan tidak berkata apa-apa, tetapi tatapannya cukup untuk membuat Alya tahu bahwa ini belum berakhir.
Ia tahu, meskipun malam ini ia berusaha pergi, Reihan pasti akan mencarinya. Dan saat itu terjadi, ia tidak tahu apakah ia masih bisa menolak untuk kembali.
BAB 20 – KEPUTUSAN UNTUK PERGI (Lanjutan 2)
Alya menarik napas panjang, berusaha menguatkan dirinya. Tangannya kembali bergerak memasukkan pakaian ke dalam koper, meski ia bisa merasakan tatapan tajam Reihan yang masih mengunci gerakannya.
Reihan tidak berkata apa-apa untuk beberapa saat, tetapi aura di sekelilingnya begitu menekan, seolah ia tengah berjuang menahan emosinya. Lalu, dengan langkah pelan namun pasti, ia mendekat dan mencengkram pergelangan tangan Alya, menghentikan gerakannya.
"Alya, aku tidak akan membiarkanmu pergi," suaranya terdengar lebih rendah, hampir seperti bisikan berbahaya.
Alya menelan ludah, berusaha menarik tangannya, tetapi genggaman Reihan terlalu kuat. "Lepaskan, Reihan."
Pria itu tidak menghiraukannya. "Kau benar-benar berpikir aku akan membiarkanmu meninggalkanku begitu saja?"
Alya menatapnya, hatinya sakit melihat bagaimana Reihan tetap berusaha mengendalikan semuanya. "Aku bukan milikmu, Reihan," ucapnya dengan suara bergetar. "Aku berhak memilih jalanku sendiri."
Mata Reihan berkilat marah. "Tidak. Kau milikku, Alya. Aku sudah memperingatkanmu, bukan?"
Alya terkesiap. Ia tahu Reihan posesif, tetapi kali ini… nada suaranya terdengar jauh lebih berbahaya.
Dengan sisa keberanian yang dimilikinya, Alya menatapnya dalam-dalam. "Jika kau benar-benar mencintaiku, kau tidak akan memaksaku tinggal."
Untuk pertama kalinya, wajah Reihan berubah. Ada sesuatu dalam tatapan Alya yang seolah menghantam dirinya dengan keras. Genggamannya melemah, dan dalam sepersekian detik itu, Alya menarik tangannya dengan cepat lalu mundur beberapa langkah.
"Kumohon, Reihan…" Alya berbisik lirih, suaranya dipenuhi keputusasaan. "Aku butuh waktu untuk memahami semuanya. Untuk memahami perasaanku sendiri."
Reihan mengepalkan tangannya, matanya gelap dan penuh emosi yang sulit ditebak. Ia menatap Alya dengan tatapan yang menusuk, seolah tengah berperang dengan pikirannya sendiri.
Lalu, tanpa peringatan, ia melangkah mundur dan memalingkan wajahnya. "Pergilah," gumamnya, suaranya terdengar berat.
Alya terdiam, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Reihan benar-benar membiarkannya pergi?
"Tapi ingat satu hal," pria itu melanjutkan, suaranya kembali tajam. "Aku akan membiarkanmu pergi kali ini. Tapi itu bukan berarti aku menyerah."
Alya mengertakkan giginya, hatinya semakin bergejolak. Ia tahu, ini belum berakhir.
Dengan langkah berat, ia menarik kopernya dan berjalan menuju pintu. Namun, saat hendak melangkah keluar, ia mendengar suara Reihan sekali lagi.
"Jangan berpikir kau bisa lari dariku, Alya," suaranya terdengar seperti janji yang mengancam. "Karena cepat atau lambat, aku pasti akan membawamu kembali."
Dada Alya semakin sesak. Tanpa menoleh lagi, ia melangkah keluar.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar takut—bukan karena Reihan, tetapi karena dirinya sendiri. Karena ia tidak yakin… apakah ia benar-benar ingin pergi selamanya.
BAB 20 – KEPUTUSAN UNTUK PERGI (Lanjutan 3)
Malam itu, langit di luar gelap pekat, seolah mencerminkan suasana hati Reihan yang berkecamuk. Ia duduk di ruang kerjanya, tatapannya kosong menatap segelas wiski di tangannya. Pikirannya masih dipenuhi bayangan Alya—tatapan penuh luka, suara bergetar saat meminta untuk pergi.
Ia pikir bisa menahan dirinya, bisa membiarkan Alya pergi dengan keyakinan bahwa gadis itu akan kembali padanya. Tapi pagi ini, ketika ia bangun dan mendapati kamar Alya kosong… sesuatu dalam dirinya meledak.
"Alya tidak ada, Tuan," suara asistennya, Arman, bergetar saat melaporkan. "Dia pergi semalam… tanpa seorang pun yang tahu."
Gelas dalam genggaman Reihan pecah seketika. Pecahan kaca melukai telapak tangannya, tetapi ia tidak peduli. Dadanya sesak, napasnya berat.
"Alya… pergi?" ulangnya dengan suara dingin yang berbahaya.
Arman menunduk, tidak berani menatap mata pria itu. "Kami sudah memeriksa seluruh rumah dan bertanya pada semua penjaga. Sepertinya dia pergi tanpa sepengetahuan siapa pun. Kami tidak menemukan rekaman CCTV—semuanya telah dihapus."
Reihan terdiam sejenak, sebelum tiba-tiba bangkit dari kursinya. Ia meraih jasnya dengan gerakan kasar, wajahnya sepenuhnya dikuasai amarah.
"Siapkan tim pencarian. Aku ingin tahu ke mana dia pergi. Cari di semua tempat yang mungkin dia tuju," perintahnya, suaranya tajam seperti pisau.
Arman menelan ludah. "Baik, Tuan."
Reihan mengusap wajahnya dengan kasar. Jari-jarinya yang berdarah tidak ia pedulikan sedikit pun.
Alya sungguh berani meninggalkannya seperti ini.
Berani menghilang tanpa pamit.
Berani menantang batas kesabarannya.
"Jika dia berpikir bisa lari dariku, maka dia salah besar," gumamnya lirih, matanya berkilat penuh bahaya.
Alya mungkin sudah pergi sekarang…
Tapi tidak peduli sejauh apa pun dia melarikan diri, Reihan akan menemukannya. Dan ketika saat itu tiba—tidak akan ada lagi pilihan untuk Alya.
BAB 20 – KEPUTUSAN UNTUK PERGI (Lanjutan 4)
Angin malam menusuk kulit saat Alya turun dari taksi di sebuah kota kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kehidupan sebelumnya. Ia menatap sekeliling, memastikan tidak ada yang mengikutinya sebelum melangkah masuk ke sebuah penginapan sederhana.
"Selamat malam, ada kamar kosong?" tanyanya pada resepsionis.
Wanita paruh baya di balik meja tersenyum ramah. "Ada, Nak. Mau menginap berapa lama?"
Alya terdiam sejenak. Ia sendiri tidak tahu. Yang ia tahu, ia butuh tempat untuk menenangkan diri. "Saya belum tahu… mungkin beberapa hari."
Wanita itu mengangguk sebelum menyerahkan kunci. "Silakan, kamar nomor 12 di lantai dua."
Alya mengucapkan terima kasih, lalu segera masuk ke kamarnya. Setelah menutup pintu, ia menyandarkan tubuhnya, menghela napas panjang.
Reihan pasti marah.
Pikiran itu membuat hatinya bergetar. Ia tidak pernah benar-benar bisa membayangkan bagaimana pria itu akan bereaksi saat mengetahui dirinya menghilang begitu saja. Tapi ia tidak boleh goyah. Ia harus tetap pada keputusannya.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Dengan ragu, Alya mengambilnya dari tas dan melihat layar.
50 panggilan tidak terjawab.
Sebagian besar dari Reihan.
Tangannya bergetar. Ia tahu, jika ia menjawab satu kali saja, segalanya akan berantakan. Dengan tekad kuat, ia mematikan ponselnya lalu membaringkan diri di ranjang, menatap langit-langit.
Tapi meski ia sudah pergi, hatinya tetap terasa berat.
---
Sementara itu, di rumah besar milik Reihan, suasana mencekam. Para anak buahnya berdiri dalam diam, menunduk, tidak berani menatap wajah pria itu yang kini penuh amarah.
"Sudah lebih dari 24 jam dan kalian masih belum menemukannya?" suara Reihan terdengar dingin, membuat suasana semakin tegang.
Arman menelan ludah. "Kami sudah memeriksa bandara, terminal, dan stasiun, Tuan. Tidak ada jejaknya."
Reihan mengepalkan tangan. "Dia pasti mendapat bantuan seseorang."
Pikirannya berputar cepat. Alya bukan tipe orang yang akan bertindak ceroboh. Jika ia bisa menghilang tanpa jejak, berarti ia sudah merencanakannya.
"Lacak semua orang yang dekat dengannya," perintahnya tajam. "Jika ada yang terbukti membantunya, aku sendiri yang akan mengurusnya."
Arman mengangguk cepat. "Baik, Tuan."
Setelah semua anak buahnya keluar, Reihan mengusap wajahnya dengan kasar. Kemarahannya tidak bisa dibendung lagi.
"Alya…" ia menggeram pelan.
Jika ia menemukannya—dan itu hanya masalah waktu—ia tidak akan membiarkan gadis itu pergi lagi.
Kali ini, ia akan memastikan Alya tidak akan bisa lari darinya… selamanya.