BAB 21 – PELARIAN YANG TAK MUDAH Alya menggigit bibirnya, menatap bayangan dirinya di cermin kamar penginapan. Matanya tampak lelah, tetapi tekadnya masih kuat. Ia sudah membuat keputusan untuk pergi, tetapi mengapa hatinya terasa begitu gelisah? Ia menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir pikiran tentang Reihan. Ia harus fokus. Ia butuh tempat aman, tempat di mana Reihan tidak bisa menemukannya. Namun, ia tahu itu tidak akan mudah. --- Di sisi lain, Reihan tengah duduk di ruang kerjanya, menatap layar laptop dengan tatapan tajam. Di depannya, ada peta digital dengan berbagai titik merah—lokasi yang sedang diperiksa anak buahnya. "Tidak ada satu pun petunjuk?" tanyanya, suaranya terdengar seperti ancaman. Arman menelan ludah. "Belum, Tuan. Tapi kami menemukan sesuatu." Reihan mend

