SETELAH TIADA, BARU TERASA 25 "Mau pesan apa?" tanyaku ketika Arunika sampai dan duduk di kursi depanku. Aku berusaha bersikap sesantai mungkin, seperti tidak ada masalah di antara kami agar dia tidak curiga. "Mas sudah pesan?" Dia balik bertanya. "Belum." Aku menggeleng. "Tunggu kamu." Seketika gadis yang pernah sangat kupuja itu tersenyum tipis, senyum yang dulu membuatku begitu tergila-gila. "Pesan seperti biasa saja, ya, Mas. Menu favorit kita," ucapnya manja. "Boleh." Aku mengangguk cepat, pura-pura antusias. "Mbak ...." Aku melambaikan tangan, memanggil salah satu pramusaji agar mendekat. Arunika segera menyebutkan pesanan. "Aku senang akhirnya, Mas, menghubungiku kembali. Aku tahu kamu tidak akan benar-benar pergi, Mas," ucap Arunika dengan raut penuh binar bahagia. Aku

