Setengah jam perjalanan, mereka menyusuri kota Jakarta. Entah mengapa Juna cukup bersemangat untuk melihat rumah baru mereka, hanya membayangkan tinggal berdua saja dengan Maya, bisa memeluk dan mencium istrinya itu kapan saja, sudah membuatnya berdebar. "Kamu, orang pertama yang aku bawa naik motor ini. Ini motor kesayanganku May, aku belinya pakai hasil kerjaku sendiri." Ucap Juna penuh rasa bangga, tangannya tengah bergerak membukakan pengait helm yang di pakai istrinya. Ya, Juna memang bangga dengan harta pertama yang dia beli, meski motor itu harganya hanya berkisar tujuh puluhan juta. "Berarti aku orang yang beruntung ya Mas." Maya tersenyum, dia menghargai setiap perlakuan Juna terhadapnya. "Aku yang beruntung bisa bersama kamu." Juna meralat kalimat Maya, sambil membuka sarun

