Malam semakin larut. Cahaya lampu kamar yang temaram hanya menyisakan bayang-bayang lembut di dinding. Arkanza dan Alisa telah terlelap, masing-masing memeluk boneka kesayangan mereka. Alula duduk di tepi ranjang, menatap wajah mungil anak-anaknya dengan tatapan kosong, namun penuh kasih. Ia mengelus kepala keduanya pelan, membetulkan selimut agar mereka tak kedinginan. Meski hatinya berkecamuk, tak ada yang lebih penting malam itu selain memastikan anak-anaknya merasa aman, hangat, dan dicintai. Arga berdiri di ambang pintu, memperhatikan dari kejauhan. Tubuhnya bersandar di kusen kayu yang dingin, tangan mengepal menahan perasaan yang tak mampu diucapkan. Ia ingin mendekat, ingin memeluk Alula dan mengatakan bahwa ia menyesal. Namun langkahnya berat—karena ia tahu, luka di hati Alula b

