Pagi harinya, sinar matahari menyelinap lewat tirai kamar, membangunkan Alula yang masih terbaring di sisi Arga. Wajah suaminya terlihat damai, tapi juga lelah. Malam itu adalah ujian berat—dan mereka berhasil melewatinya bersama. Alula turun ke dapur lebih dulu. Dia tak mau pagi mereka terganggu, apalagi anak-anak akan segera bangun dan bersiap ke sekolah. Tapi pagi itu bukan pagi biasa. Bik Asih masuk ke dapur sambil mengerutkan dahi. “Bu Alula… saya lihat semalam Rani keluar dari kamar, masih pakai baju tidur… itu, bajunya kok aneh ya. Terus dia bilang nganter teh buat Pak Arga.” Alula menoleh dengan pelan, mengangguk dengan tenang. “Iya, Bik. Saya tahu. Terima kasih sudah jujur.” Alula meletakkan cangkir ke meja, lalu berkata tegas, “Bik, tolong kumpulkan semua barang Rani. Hari ini

