Alula menatap Deswita tenang, namun tetap sopan. “Betul, dunia ini sempit. Tapi hati yang lapang akan membuat siapa pun tetap nyaman, meski bertemu yang tidak diharapkan.” Deswita terkesiap mendengar kalimat Alula yang menusuk dengan halus. Namun ia tak menyerah. Tatapannya bergeser pada Arga. “Arga... kamu terlihat bahagia. Tapi aku penasaran... apakah kebahagiaan itu... jujur?” Nada suaranya seperti menggoda dan menantang. Arga langsung berdiri. Tegap. Matanya menatap tajam Deswita. “Bahagia itu ketika aku pulang dan melihat dua anakku tertawa di pelukan istriku. Bahagia itu ketika istriku menenangkan hatiku di tengah badai. Dan Deswita... maaf, tapi kamu bukan bagian dari kebahagiaan itu.” "Syukurlah, aku pikir.. kamu sudah banyak berubah sekarang, lebih berwibawa, dan sangat me

