Pagi itu, matahari Bali mulai mengintip dari balik tirai jendela kamar resort. Namun di kamar utama, suasana masih gelap dan sepi. Arga masih tertidur, meski sebenarnya ia tak benar-benar tidur. Sepanjang malam ia hanya memejamkan mata, terjaga dalam gulungan penyesalan dan kekhawatiran. Sementara itu, Alula sudah bangun lebih awal. Dengan hati yang berat, ia menyiapkan keperluan anak-anaknya. Ia tak ingin ada drama, tak ingin ada konfrontasi. Ia hanya butuh ruang untuk bernapas. Butuh waktu untuk menata kembali hatinya yang kembali terguncang. Tanpa membangunkan Arga, ia menggandeng tangan Alisa dan Arkanza. Dengan langkah tenang tapi penuh tekad, ia keluar dari resort menuju bandara. Tiket pesawat sudah dibelinya semalam lewat ponsel—pulang ke rumah orang tuanya, tempat ia bisa kembali

