Abby terbangun dari pingsannya. Matanya mengerjab menyesuaikan cahaya yang masuk. Jika biasanya ada tangan Fian yang membantu tapi sekarang tidak. Mata Abby mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Ia berada di kamar yang asing. Ruangan ini benar-benar asing dimatanya. Ceklek~ Pintu kamar terbuka menampilkan Daniel dan dua perempuan berpakaian pelayan. Mereka membawa nampan berisi makanan. “Ini dimana?” tanya Abby. Sebelah tangannya memegang kepalanya yang berdenyut nyeri. Daniel mendekat dan duduk di sebelah ranjang gadis itu. “Nona di Italia. Ini kediaman tuan Ramaliel,” jawab salah satu pelayan yang berdiri di sampingnya. Abby membelalak terkejut, “Ayah?!” pekiknya. Pelayan itu mengangguk. Mereka meletakkan nampan berisi makanan itu di meja depan ranjang. Mereka menunduk hormat lalu

