“Fian,” panggil Abby masih berusaha berbicara dengan kekasihnya yang sedang jealous mode on ini. “Lapar,” lanjutnya. Lirikan singkat menjadi satu-satunya respons yang diberikan Fian atas perkataan gadisnya. Mobilnya melaju ke arah tempat makan favorit Abby. Meski laki-laki itu sedang marah ia tidak bisa membiarkan gadisnya kelaparan. Dari tiga tahun lalu, apapun yang diinginkan Abby akan selalu diwujudkan olehnya tak peduli seberapa susah itu dan bagaimana kondisinya. Asalkan permintaannya bukan menuju perpisahan maka Fian tanpa pikir panjang akan mewujudkannya. Setelah sampai di restoran makan favorit Abby, Fian membuka pintu kemudi dan hendak keluar dari mobil. Namun gerakannya terhenti saat Abby meraih tangannya. Laki-laki itu menatap heran kekasihnya. “Pulang aja, udah

