Suasana penuh ketegangan kini menyelimuti ruang kelas Abby. Ada yang berbeda dari gadis kesayangan sang ketua OSIS. Sejak kekasihnya pergi gadis itu tiba-tiba memasang wajah datar tak bersahabat. Dan satu hal lagi, gadis itu tidak lagi duduk bersama dengan Fiona si cupu. Gadis itu lebih memilih duduk sendiri di belakang. Tidak ada satupun yang berani bertanya padanya karena wajah datarnya. Mereka merasa segan juga takut jika mengganggu gadis kesayangan ketua OSIS itu. “Abby, kenapa duduk disini?” Sialan. Berani-beraninya si tukang tikung menghampirinya dengan memasang wajah polos seperti itu. Apa dia pikir Abby masih belum mengetahui sifat busuknya? “Abby kenapa nggak jawab?” Cukup! Abby sudah muak. Apalagi ditambah Fiona malah duduk di sampingnya. “Minggir!” ketus Abby. “Kamu

