Dicka mejalani hari-hari tanpa Fiona. Ia merasa sangat sepi, kosong, dan hampa. Rasanya semangat untuk hidup pun tak ada. “Haish… sepi banget tanpa Fiona. Tidur peluknya Cuma sama guling. Nggak ada yang ditatap. Masak sendiri, makan sendiri, semuanya sendiri. Gini amat jadi duda. Jadi pengen nyanyi gue.” “Masyak-masyak syendiri… Makan-makan syendiri… Cyucyi baju syendiri…. Tidyurr pun syendiri…” “Kangen banget sama bawelnya Fiona… Huaaa.” Dicka membuka galeri pada ponselnya. Ia melihat beberapa foto Fiona yang ia ambil diam-diam. Ia juga melihat foto saat wedding mereka. Tiba-tiba Dicka mendapat telpon dari seseorang. “Hallo.” “…….” “Iya.” “…….” “Oh ya? Em…. Baiklah.” “……..” “Ide bagus. Gue suka ide lo.” “…….” “Thank you udah jelasin ke gue.” “…….” “Baiklah. Gue kesana s

