Satu minggu telah berlalu. Hubungan Dicka dan Fiona masih belum membaik. Belum ada komunikasi di antara mereka. Mereka hanya saling diam dan berpaling saat bertemu. Dicka juga selalu berangkat pagi dan pulang malam beberapa hari ini. “Dicka! Gue… gue akan pergi dari rumah ini.” Ucap Fiona yang berusaha menahan air matanya. Dicka diam menatap Fiona tajam dan melihat Fiona yang membawa koper untuk dibawanya pergi. “Gue udah nggak tahan lo diemin. Udah satu minggu lo diemin gue. Jujur aja gue nggak tahan kalau lo bersikap kayak gini ke gue.” Fiona pun akhirnya menitikkan air matanya. “Ya udah. Lo bisa pergi sekarang.” Jawab Dicka tanpa basa basi. “Baiklah gue akan pergi. Tapia da satu hal yang gue pengen jelasin ke lo sebelum gue pergi. Gue mau jelasin kenapa gue bohongin lo. Gue bohongi

