Teror Kuntilanak

1975 Kata
HULWAN POV “Abang …Huhuhuhu ….” “Aaaaaaa, setan jangan ikuti gue!” teriakku melihat sosok menyeramkan di balik mobil mengikutiku. Gila bener-bener zaman edan, masa iya baru lepas Magrib kuntilanak sudah berani menampakan wujudnya. Aku lupa memastikan dia mengikutiku dengan berjalan atau melayang, hanya saja penampilan dia yang begitu meyeramkan berada di kegelapan malam seperti tadi benar-benar membuat nyaliku menciut. Padahal aku dulu dengan bangga mengakui kalau diriku seorang pemberani yang tidak takut dengan hal-hal mistis yang menurutku jauh dari logika. Kalau saja Hugo dan Hana tahu, aku lari tunggang langgang dengan badan bergetar karena takut dengan sosok kuntilanak yang dulu dengan berani aku berkata lantang tidak takut padanya. Jatuh, lah sudah pamorku, bisa jadi mereka berdua akan mengolok-oloki terus-menerus. Selama ini Aku sama sekali tidak merasa takut meskipun tinggal sendirian di tempat ini. Dua satpam malam yang ditugaskan mamah hanya berada di gerbang depan rumah batik, sedangkan aku tinggal di paviliun yang berada tepat di gerbang belakang. Tempat yang tersudut dan terlihat menyeramkan bagi sebagian orang, tapi berbeda untukku. Bagiku paviliun ini tempat yang paling nyaman untuk menyendiri dari hingar bingar kehidupan. Aku selalu bisa menghasilkan ide terbaik untuk perkembangan rumah batik saat menyepi dan menyendiri di paviliun. Namun, malam ini nyaliku benar-benar menciut saat melihat sosok besar dengan rambut acak-acakan sedang menangis dengan suara tangisan seperti di film-film horor yang pernah aku tonton. Sungguh aku tidak pernah membayangkan kalau kejadian horo seperti ini menyambangiku, Tuhan …maafkan aku yang sempat tidak percaya dengan adanya kuntilanak, pocong, genderuwo dan antek-anteknya. Sekarang aku percaya, setan itu ada bentuknya, bahkan yang berbentuk bulat seperti Shasa pun ada. Aku percaya Tuhan, tolonglah kau usir kuntilanak itu menjauh dari tempat tinggalku. Aku bukannya takut bertemu dengannya, tapi aku malu karena belum punya sangu yang cukup untuk bertatap muka langsung dengan makhlukmu yang begitu menyeramkan. Tok … tok … tok … Aku berjingkat kaget mendengar suara pintu diketuk padahal selama ini tidak ada yang datang berkunjung ke tempat ini tanpa memberitahuku terlebih dahulu karena memang baru setengah tahun saja aku tidur di rumah batik ini. Sebuah paviliun kecil yang bagian belakangnya menempel dengan rumah batik. Paviliun yang menghadap ke arah gerbang keluar lewat jalur belakang yang terhubung dengan jalan gang dan berhadapan dengan rumah-rumah penduduk sekitar. Tok … tok … tok. Suara ketukan pintu kembali terdengar tanpa suara heboh yang memanggil seperti saat teman-temanku datang berkunjung. Aku menatap sekeliling untuk mencari benda yang bisa aku gunakan untuk senjata. Senjata mengusir hantu? Atau senjata memukul maling. Ah, otakku jadi buntu seketika. “Huhuhuhu … A-bang … Huhuhuhu.” “Huhuhuhuhu ….” Tangisan kembali terdengar, kali ini tepat di depan pintu paviliun. Kadang tangisan berhenti diganti ketukan. Dia terus memanggil Abang … Abang … apa si kuntilanak itu kelaparan dan mengira aku abang penjual sate seperti dalam film legendaris Suzana, “Hiy … serem.” Aku kembali bergidik terbayang scene film suzana saat si Nyonya kunti menghabiskan ratusan tusuk sate. Aku tidak punya sate, di kulkas juga aku tidak menyimpan daging apapun. Ah, jangan sampai dia masuk kemari dan menjadikan aku manusia guling saking laparnya dia dan tidak menemukan daging di rumahku. “Bismillahirrahmanirrahim ….” Aku mulai merapalkan doa sebisaku. ayat kursi k****a diikuti denga surat Annas dengan harapan si kunti itu segera [ergi dan tidak lagi menggangguku. Tok … tok … tok …. “A-bang … Huhuhuhuhu ….” Ketukan pintu dan suara tangis kembali terdengar dan aku memutuskan lari seketika masuk ke dalam kamar, menguncinya sebelum naik ke atas kasur. Aku mengambil ponsel, biarlah papah menertawakanku. Nyatanya, aku memang tidak berani untuk membuka pintu dan juga tidak berani tetap sendirian di sini. Jalan satu-satunya aku harus meminta tolong papah agar ke sini baik bersama dukun, ustadz, kiyai atau orang pintar mana pun yang bisa mengusir dan mengenyahkan kuntilanak itu pergi dari rumahku. “Hulwan … Hulwan …!” Suara teriakan papah dari ponsel mengingatkanku kalau aku sudah menekan tombol hijau untuk menelepon papah. Aku segera mendekatkan ponsel ke telinga. “Pah, tolong ke sini dong. Urgent nih. Aku beneran takut pah, aku takut di sini ada kuntilanak,” ibaku dengan nada memohon. Nada permohonan seperti bocah laki-laki kecil yang merengek minta dibelikan mainan pada papahnya. Aku tidak peduli papah akan menertawakanku. Aku tidak mau mati konyol di paviliun ini gara-gara teror si kuntilanak kesorean itu. “Kuntilanak? Memangnya kamu dimana?” tanya Papah yang mungkin lupa dimana anaknya tinggal atau mengira anak laki-lakinya tersesat seperti si anak gajah temen Hana. “Ke rumah batik lah, aku di paviliun dan kuntilanak itu berada di depan pintu Pah, dia sedari tadi menangis sambil memanggil Abang … Abang …. Dia lapar kayaknya, terus ngira aku ini penjual sate. Tolong lah Pah, aku beneran diteror kuntilanak,” laporku yang malah dibalas dengan tawa papah. “Ngaco, kamu ngelindur! Masa magrib-magrib ada kuntilanak. Lagian mana ada kuntilanak makannya sate. Kamu pikir itu kuntilanak titisan Suzana apa.” Tuh benar, kan. Papah pasti nggak percaya, dia malah menertawakan aku yang dalam mode ketakutan parah, tapi mau tak mau dia harus percaya kalau sekarang anak laki-lakinya sedang di bawah tekanan karena teror tangisan kuntilanak yang terus mengejarnya. Aku akan membuat papah datang ke sini supaya dia tahu kalau aku tidak berbohong dan mengada-ada. “Serius, Pah. Aku nggak bohong, aku lihat sendiri kuntilanak berbadan besar dengan baju putih dan rambut yang acak-acakan sedang menangis di belakang mobil, sebagian wajahnya tertutup rambut. Dia tinggi besar dan gelapnya malam bikin penampilan dia terlihat seratus kali lebih menyeramkan dari pasa saat Suzana jadi kuntilanak loh, Pah,” aduku sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi. Papah kembali terkekeh dan menuduh itu semua hanya halusinasi ku. Dia juga meledeku cemen karena laki-laki, tapi penakut. Ledekan yang tidak berprikemanusiaan, apa salahnya laki-laki penakut. Apalagi ketakutan yang aku alami benar-benar karena sosok hantu wanita yang tangisannya terus terdengar di telingaku. “Pah, please, come here. Hulwan beneran nggak mau mati sia-sia karena si kuntilanak gendut itu,” mohonku. “Papah mau apa, anak laki-laki Papah yang paling ganteng mati konyol gara-gara dimangsa kuntilanak lapar.” Lagi-lagi Papah malah tergelak. Kali ini tawanya malah bertambah heboh saja. Papah kira aku lagi ikutan stand up comedy apa, dari tadi dia nggak berhenti tertawa setiap aku menjelaskan tentang kuntilanak itu. “Itu kuntilanak kayaknya beneran pengen mangsa kamu. Kamu kualat gara-gara sering ledekin si Shasa gendut makanya didatangi kuntilanak berbadan gendut buat mencabik-cabik kamu dijadiin sate,” kekeh papah dengan begitu lepasnya tertawa. Serius, dia menganggap apa yang aku alami ini sekedar lelucon tanpa dia tahu ketakutan seperti apa yang kini menderaku. “Pah, please, apapun itu. Aku beneran nggak bisa diam di sini sendiri,nggak tahu saja tangisannya itu bikin bulu kudukku meremang semua. Aku merinding disko, Pah. Ini beneran bukan candaan. Papah tolong ke sini secepatnya ya, Pah,” mohonku kembali merajuk belas kasihan papah yang masih saja tertawa terbahak mendengar rengekanku. “Kamu saja yang ke sini, ngapain juga papah yang ke sana. kamu lari ke mobil, terus ajak kuntilanaknya makan di sini. Dia pasti suka masakan bi Silah” jawabnya membuat aku meninju kasur dengan seluruh tenagaku. “Pah, aku serius. Papah masih ngira ini lelucon apa. Dia di luar, tangisannya masih aku dengar loh … mana bisa aku keluar ngajak dia makan di rumah mamah. Papah kira dia manusia yang bisa diajak bernegosiasi apa. Tuh, pah Aku masih dengar suara ketukan pintu paviliun. Ini serius Papah farid Gunadi, bukan lelucon.” protesku dengan nada tinggi supaya papah sedikit saja mau memahami kalau apa yang aku alami ini benar-benar sungguhan. “Kamu mau nge-prank Papah?” tuduhnya masih saja tidak percaya. “Prank apa sih, Pah. Aku serius butuh bantuan Papah. Papah ke sini bawa ustadz kek, Kiyai, dukun, Mbah atau apapun yang bisa ngusir dia dari sini supaya nggak balik-balik lagi. sekali lagi aku tegesin ini serius Papah. Aku nggak main-main,” kataku masih berusaha meyakinkan dia kalau ini bukan lelucon, bukan main-main atau sekedar prank yang dia tuduhkan. “Terserah kalau papah tidak percaya, aku mau telepon Hugo saja biar dia kesini membantu, kalaupun dia tetap tidak percaya. Mungkin sudah nasibku mati konyol gara-gara teror kuntilanak.” Klik. Aku memutuskan sambungan telepon sepihak karena semua terasa percuma. Panjang lebar aku menjelaskan pun papah tetap tidak percaya dengan semua omonganku. “Kuntilanak gendut, please leave me … aku janji nggak bakal ledekin Shasa lagi … aku juga janji kagak bakal ledekin orang-orang berbadan gendut lagi. Aku janji … sungguh-sungguh berjanji tidak akan melakukan tindakan body shaming pada makhluk gendut astral maupun nyata. Aku besuk juga bakal bikin sesajian lah buat kamu biar kamu nggak terus nangis karena kelaparan. Malam ini aku beneran nggak punya stok daging sama sekali. Please pulang lah ke tempat asalmu, jangan ganggu aku lagi.” Aku mengusap keda telapak tangan ke wajah setelah mengucapkan permohonan tadi, perlahan aku turun dari kasur dan berniat untuk keluar kamar. “Huhuhuhu, Abang to-long aku. Huhuhuhu ….” “Aaaaa,” teriakku gusar. Dia ternyata masih berada di depan dan belum juga pergi. Parahnya dia kini meminta tolong lagi. Apa yang bisa aku tolong Nyonya kunti, aku ini tidak bisa apa-apa. Percuma saja kamu ada di sini, pergilah … cepat pergi. Aku mohon Tuhan, usirlah dia dari paviliun ini. Bairkan aku kembali hidup tenang dan nyaman tanpa terornya. Seketika aku teringat dengan perkataan papah yang benar-benar membuatku berpikir kalau kuntilanak itu menakutiku gara-gara aku sering meledek si Shasa gendut itu. “Okay, tenang Hulwan … pikirkan baik-baik, katakan pada si kuntilanak itu kalau kamu tidak akan lagi meledek orang gendut dan meminta dia segera pergi dan tidak mengganggumu lagi,” kataku pada bayangan diriku yang terpantul di cermin. Namun, tiba-tiba bayangan sosok serem kuntilanak kembali terlintas dan membuat aku kembali merinding dan segera berbalik menjauhi cermin. Aku kembali meraih ponsel, kali ini aku akan menelepon Hugo sahabatku, nama aslinya bukan Hugo melainkan Guntoro, tapi badannya dulu tinggi besar sehingga anak-anak memanggilnya Hugo. Sampai saat ini pun aku masih tetap memanggilnya Hugo biarpun kini dia sudah berbadan ideal karena diet ketat yang dia jalani. “Hugo, please angkat teleponnya, please ….” Satu panggilan terlewat tanpa diangkat Hugo. Aku tidak mau menyerah dan tetap menghubunginya kembali. hanya dia sahabat terdekat yang selalu keluar masuk paviliun ini, setidaknya aku berharap Hugo akan percaya kalau masih sesore ini ada kuntilanak yang benar-benar menerorku. “Ah, kemana si Lo, Go,” desahku. Nihil, panggilan keduaku tetap tidak diangkat Hugo. Aku melempar ponsel ke atas ranjang. Perlahan dan dengan langkah mengendap-endap aku kembali berjalan menuju pintu. Tanganku pelan-pelan memutar handle pintu. Aman, sampai saat ini aku tidak mendengar isak tangis dan panggilan Abang dari arah pintu masuk paviliun, dengan hati-hati aku melangkah perlahan menuju pintu masuk. Telingaku ditempelkan di daun pintu, sunyi dan sepi tidak terdengar lagi suara tangisan kuntilanak itu. “Alhamdulilah,” seruku dengan mengusap kedua telapak tangan ke atas wajah. Akhirnya, dia pergi juga, aku bisa bernapas lega walaupun aku belum berani keluar dari sini. “Ya Allah aku janji, aku janji tidak akan meledek orang-orang berbadan gendut lagi. Aku janji tidak akan memanggil Shasa dengan anak gajah lagi … jauhkan kuntilanak itu dari paviliun ini ya Allah … jangan biarkan dia kembali datang menerorku. Amin,” janji dan doa aku panjatkan bersamaan. Lega rasanya tangisan menyeramkan itu tidak lagi terdengar. Aku sudah bersiap akan kembali masuk ke dalam kamar. Namun, baru saja aku berbalik suara ketukan pintu kembali terdengar. Langkahku terhenti, aku kembali membalik badan, tapi tidak berani mendekat ke pintu. “Tok … tok … tok ….” Ya Tuhan, dia kembali lagi? aku terduduk di lantai rasanya baru saja dadaku bernapas lega, kini aku kembali sesak saat ketukan kembali terdengar disertai bunyi kresek-kresek seperti langkah kaki atau suara baju si kunti yang menyapu daun kering di depan paviliun. Entah lah suara apa itu, yang jelas aku hanya bisa terduduk lemas saat ini. Tuhan, belum usaikah teror ini? Tok … tok … tok. “Hulwan … Wan ….”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN