Nyasar

1817 Kata
“Aaaaaaaa ....” “Aaaaaaaaa … ular.” Braaakk Shasa kembali membanting pintu kamar mandi yang tadi dia buka, secepat mungkin dia berlari meninggalkan tempat itu. Dia, bahkan lupa kalau datang ke sana bersama Hana. Rasa kaget membuat Shasa melupakan keinginannya untuk buang air kecil. Shasa mengendarai motornya secepat yang ia bisa. Dia lupa kalau dompet yang berisi uang dan ponsel miliknya dititipkan pada Hana. Yang ada di pikirannya sekarang adalah secepat mungkin sampai ke rumah Devi dan melupakan apa yang barusan dia lihat. Ular. Ular yang teramat aneh bentuknya, tapi matanya sangat jelas bisa melihat ular yang begitu terlihat tegak mengarah ke depannya. Shasa kembali bergidik saat membayangkan lagi ular jenis baru yang dilihatnya tadi. Ah, mungkin saja itu ular siluman bukankah belakangan ini di desanya sering meributkan perihal siluman ular, babi ngepet dan sebagainya. Sementara di rumah batik, Hana sejak tadi mencari Shasa, hampir sepuluh menit temannya belum juga kembali dari kamar mandi. Tidak mungkin juga dia nyasar karena sebelumnya Hana pernah juga mengajak Shasa ke sini. “Kamu cari apa sih? Dari tadi celingukan mulu,” tegur Devi melihat Hana menatap ke segala arah hingga kepala dan badannya terus saja berputar-putar. “Kok Shasa belum ke sini juga ya, Mah?” “Shasa? Kamu ke sini sama Shasa?” Devi berdiri meninggalkan beberapa kertas desain model batik terbaru yang akan menambah koleksi baju batik di rumah batik mereka. “Iya, Mah. Aku kesini boncengan loh sama dia. Ini dompetnya saja ada sama aku, Mah.” Hana memperlihatkan dompet dengan tali panjang yang biasa dibawa Shasa untuk membawa ponsel dan uangnya. “Terus sekarang Shasa mana?” Hana mengangkat bahunya. “Dia izin ke kamar mandi, tapi belum kembali juga. Apa dia nyasar ya mah?” “Ah, ngaco kamu. Masa sih nyasar,” sahut Devi. “Nggak mungkin lah, Na. Orang dari situ ke sini masa nyasar sih,” elak Devi tidak setuju dengan perkiraan putrinya. “Awan ...,” jerit Hana memanggil Abangnya yang berjalan dari arah toilet. Dia berjalan dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana dan beberapa kali menengok ke kanan dan ke kiri seperti sedang mencari sesuatu. “Awan, nyari apa sih? Nggak kangen apa sama aku?” rajuk Hana memeluk kakaknya. “Si anak gajah mana?” tanya Hulwan yang bukan malah menjawab pertanyaan adiknya, tapi malah penasaran dengan keberadaan Shasa. “Anak gajah?” ulang Hana yang bingung dengan pertanyaan sang Abang. “Iya, anak gajah temen kamu yang gendut itu mana. Aku tadi ketemu dia di kamar mandi, sekarang dia mana?” “Oh, Shasa. Aku juga lagi nyari dia. Abang tahu dimana Shasa? Apa dia masih di kamar mandi ya Bang?” “Kagak, ngapain juga ngurusin anak gajah gila kayak dia. Dia sudah tidak ada di kamar mandi sejak tadi. Mungkin langsung lari ke planet Mars saat lihat ular cobra mau matuk dia,” seloroh Hulwan sembari berjalan meninggalkan Hana. “Hulwan … memangnya di kamar mandi ada ular cobra?” teriak Devi yang menganggap serius omongan putranya. "Hadew, ribet banget kalau emak-emak apapun dianggap serius,” gumam Hulwan dengan membalik badannya. “Ya enggak lah, Mamah sayang. Aku cuma bercanda. Si anak gajah itu teriak ular terus lari tunggang langgang entah kemana,” jawab Hulwan dengan kekesalan yang begitu memuncak saat melihat wajah Shasa yang berteriak menunjuk ular pada senjata andalannya. Shasa membuka pintu kamar mandi tepat saat Hulwan sudah menurunkan celananya untuk buang air kecil. Shasa berteriak ular sembari menunjuk milik Hulwan yang masih tegang karena dalam posisi siap memancurkan air yang sudah memenuhi kantung kemihnya. Hulwan sampai tidak habis pikir kenapa pertemuannya dengan Shasa selalu diawali dengan hal-hal menyebalkan. “Impas sudah deh, gue sudah lihat apem dan gunung kenyal dengan lollipop merah miliknya dan sekarang dia lihat ular cobra gue dalam keadaan super long and big. Rugi dah ular gue dilihat cewek model dia, aaaaaaaaa ... menyebalkan!” teriak Hulwan dengan memukul meja di ruangan. “Hulwan, kamu kenapa?” tanya Devi yang tiba-tiba masuk ke ruangan sang putra. “Oh, nggak apa-apa. Ini ada semut gigit tanganku, kan menyebalkan,” bohong Hulwan berusaha pura-pura melakukan gerakan membuang semut yang menempel di tangannya. “Mamah bawa apa?” tanya Hulwan menunjuk map yang dibawa Devi. “Ini desain baru buat koleksi kita, tolong kamu pilih yang mana.” Devi menyerahkan map yang dia bawa pada Hulwan. “Mamah mau temenin Hana cari Shasa, masa iya dia nyasar dan hilang,” gumam Devi sambil berlalu meninggalkan ruangan Hulwan. “Hilang, ah masa sih badan segede gitu masih nyasar dan hilang. Nggak peduli juga sih ... ngapain mikirin si gajah pembawa sial itu,” lanjut Hulwan yang langsung mengamati satu persatu lembaran kertas dalam map yang diberikan Devi tadi. Niatnya mengamati dan memilih desain batik yang disodorkan sang Mamah. Namun, yang ada di kertas tersebut malah seolah gambar Shasa yang tanpa busana. “Ah gila, apa gue beneran harus nikah sih, masa iya imajinasi gue liar banget gara-gara ngelihat badan toples si anak gajah. Kalau badannya tertutup, si gendut itu jelek banget sih. Eh, kalau telanjang gue bisa h***y juga gara-gara dia. Gila, toketnya gede banget … gue nggak bisa berhenti bayangin remes si kenyal empuk dengan ujung merah itu. Ya Tuhan, kenapa dia malah bangun,” gerutu Hulwan saat merasakan selangkangannya terasa penuh karena sesuatu yang mulai menggeliat dan membesar tanpa seizinnya. ______I.S______ Senja telah datang, hari mulai temaram, orang-orang berlalu-lalang di jalanan. Sebagian dari mereka melakukan perjalanan pulang setelah menghabiskan satu hari mereka di tempat kerja. Hana pulang ke rumah bersama sang Mamah, sudah ada mobil Farid di garasi depan rumah mereka. Namun, tidak nampak motor Shasa di tempat biasa dia meletakkannya. “Pah, Shasa belum pulang ya?” tanya Hana menghampiri Farid yang sedang memberi makan burung-burung peliharaannya di serambi kanan rumah mereka. “Salam dulu dong, Na. Masa iya ujug-ujug datang nanyain Shasa,” tegur Farid. “Eh lupa, Pah,” ringis Hana, kemudian mengucapkan salam dan mencium tangan papahnya. “Jadi, Papah lihat Shasa nggak?” tanya Devi yang kini ikut mendekat sembari tangannya terulur untuk mencium tangan suaminya. “Motornya belum ada, berarti belum pulang,” jawab Farid dengan menunjuk tempat Shasa biasa meletakan motornya. “Terus dia kemana ya, Mah ...?” tanya Hana mulai khawatir. Hana menceritakan ulang kronologi berpisahnya dia dengan Shasa dimulai dari saat dia mengajak Shasa ke rumah batik hingga berpisah di parkiran karena Shasa ingin ke kamar mandi, sedangkan dia langsung menghampiri meja sang mamah yang berada di ruangan terbuka dekat dengan ruang resepsionis. “Ponselnya aku yang bawa Pah, di tempat biasa kami nongkrong juga dia nggak ada. Aku dan Mamah sudah nyari dia loh, Pah,” ujar Hana yang semakin mengkhawatirkan sahabatnya. “Coba Mamah telepon Wina dulu, barangkali dia pulang ke rumah,” saran Farid. “Ah, mana mungkin dia pulang tanpa pamit. Lagian selama ini dia kan kalau pulang selalu dijemput, Pah,” elak Devi. Namun, tetap saja Devi mengeluarkan ponsel dari dalam tas dan menghubungi Wina meskipun kemungkinan Shasa pulang sangat kecil karena Shasa hanya akan pulang ke rumah kedua orang tuanya dua minggu sekali saat Aris atau Wina menjemputnya karena sekali pun Shasa belum pernah pulang sendiri. “Win, lagi sibuk nggak?” tanya Devi begitu sambungan telepon terhubung. “Nggak, aku baru mandi. Shasa kenapa, Vi?” Glek. Devi langsung bingung ketika Wina bertanya Shasa kenapa, itu sudah cukup menjelaskan kalau Shasa tidak berada bersama Wina di sana. “Nggak apa-apa Win, Minggu ini kamu jemput Shasa, kan?” tanya Devi berusaha mengalihkan pembicaraan agar Wina tidak perlu tahu dulu kalau Shasa kini tidak diketahui dimana keberadaannya. “Insyaallah Jumat sore aku sama Mas Aris jemput Shasa, Vi.” “Kalau gitu nitip pecak kangkung sambel terasi itu ya,” pesan Devi. Pesan yang dimaksudkan untuk mengalihkan kegugupannya dan tidak lama kemudian Devi langsung berpamitan untuk memutuskan sambungan suara. Dia segera mengatakan pada Farid dan Hana kalau Shasa tidak pulang ke rumah kedua orang tuanya. Tentu saja hal itu membuat Hana menjadi panik, dia langsung berpamitan untuk masuk ke dalam kamar karena ingin segera menghidupkan ponselnya yang kini mati. Sampai kamar, Hana langsung mencharger ponsel dan dia tinggal sebentar untuk mandi. Begitu selesai berpakaian Hana langsung mengirim pesan di WA grup kelas mereka untuk bertanya pada teman sekelasnya barangkali salah satu dari mereka sedang bersama Shasa. Nihil, tidak satu pun teman kampus mereka yang bersama Shasa saat ini, mau tidak mau Hana pun memutuskan untuk menelepon Hulwan agar bisa menemaninya mencari Shasa. “Apa? Si anak gajah itu beneran hilang?” teriak Hulwan membuat Hana menjauhkan ponselnya dari telinga. “Awan bisa nggak sih manggilnya Shasa bukan anak gajah atau semacamnya. Itu body shaming, Awan!” tegur Hana tidak terima sang Abang terus memanggil sahabatnya dengan si anak gajah atau panggilan lainnya yang sudah jelas meledek postur badan Shasa yang memang gendut. “Okay, Sorry. Jadi beneran Shasa hilang? Kamu sama Mamah sudah mencarinya? Di rumah juga dia tidak ada?” ulang Hulwan yang tidak menyangka kalau sahabat adiknya benar-benar belum ditemukan sejak berlari dari kamar mandi saat melihat ularnya yang siap menyemburkan air. “Beneran Awan, Awan temeni aku cari dia ya. Aku ngerasa bersalah nih kalau Shasa beneran hilang. Awan tahu kan jalan tikus ke rumah batik itu kayak labirin, buat orang baru kayak Shasa pasti dia bingung nyari jalan. Pokoknya Awan harus temenin Aku nyari Shasa. Aku tunggu sekarang. Titik!” paksa Hana. Panggilan langsung diputus sepihak oleh Hana sebelum Hulwan menolak atau menyatakan kesediaannya. Hulwan pun terpaksa menyambar kunci mobil di meja dan segera keluar untuk menjemput Hana dan membantunya mencari Shasa. Dia baru selesai mandi, niatnya untuk beristirahat gagal total, ternyata keberadaan Shasa itu sangat menyulitkan hidupnya. Tidak tinggal serumah saja Shasa sudah membuatnya repot. Apalagi kalau dia tinggal satu atap dengannya. “Huhuhuhu ....” terdengar suara tangis wanita saat Hulwan sudah berada di samping mobilnya. Suara tangisan kembali terdengar dan langsung membuat badan Hulwan merinding seketika. Hulwan memindai ke segala arah untuk mencari sumber tangisan yang baru di dengarnya. “Huhuhuhuhuhuuuuu ….” Suara tangisan kembali terdengar. Tangisan kedua berhasil membuat bulu kuduk Hulwan meremang. Ah, dia bukan tipe penakut. Hanya saja suaranya terdengar begitu nyata, suara tangis tanpa ada seseorang pun yang bisa dia lihat ada di sekitar paviliun. “Magrib-magrib, kuntilanak sudah keluar, nggak mungkin deh,” tepis Hulwan mencoba mengenyahkan pikiran horor yang melintas di pikirannya. “Huhuhuhuhu,” tangisnya kembali terdengar. Itu semakin membuat Hulwan bergidik ngeri “Aaaaaaaaa,” teriak Hulwan yang langsung berlari menuju pintu paviliun begitu dia melihat sosok menyeramkan di balik mobilnya. Wanita berambut panjang dengan pakaian putih yang sebagian rambutnya menutupi wajah. Kuntilanak beneran, seumur hidupnya dia baru kali ini melihat sosok tak kasat mata meskipun dia sering menonton film horor. Hanya saja rasa horornya tak sama dengan bertemu langsung dengan salah satu jenis setan yang paling menakutkan di Indonesia. “Abang …Huhuhuhu ….” “Aaaaaaa, setan jangan ikuti gue!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN